Babad BanyumasBudayaLiputanRagam

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

×

Babad Pasirluhur dan Lahirnya Kota Purwokerto

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Awalnya, saya berusaha keras menjaga jarak dari Babad Pasir. Sebab saya tahu betul, saya tipe orang yang mudah penasaran. Dan kalau sudah penasaran, saya pasti akan menelisik lebih dalam, mencari tahu ke sana kemari, hingga tak bisa berhenti sebelum menemukan jawabannya.

Dua puluh lima tahun lalu, ketika saya masih tinggal di Solo, saya mulai tertarik membaca berbagai babad: Babad Tanah Jawi, Babad Demak, dan Babad Pajang. Semuanya berawal dari rasa penasaran pada sosok Haryo Penangsang. Ketertarikan itu ternyata bukan hal sepele. Saya menyelami berbagai sumber, menelusuri jejaknya selama 18 tahun, hingga akhirnya lahirlah 15 judul Serial Penangsang.

Rasa penasaran serupa muncul kembali saat saya pulang kampung ke Banyumas pada 2014. Kali ini, saya tertarik pada Babad Banyumas. Saya membaca dan mencatat seluruh nama serta tempat yang disebut, lalu saya susuri jejaknya satu per satu. Tujuh tahun lamanya saya menjelajah dan belajar, hingga lahirlah Serial Babad Banyumas sebanyak 50 judul.

Pengalaman-pengalaman itu membuat saya waspada. Maka ketika mulai tergoda membuka Babad Pasir, saya langsung menahan diri. Saya tahu risikonya. Membaca, bagi saya, bukanlah sekadar aktivitas santai. Ia menyita banyak energi, waktu, dan biaya. Jika sudah tertarik, saya akan tergerak membaca sebanyak mungkin, memahami silsilah, hingga berkeliling mendatangi tempat-tempat yang disebut dalam naskah.

Begitulah yang terjadi sebelumnya. Ketika penasaran dengan Penangsang, saya bolak-balik ke Jipang Panolan, bekas kadipatennya yang kini berada di Cepu, Blora. Karena ia murid Sunan Kudus, saya pun menyusuri petilasan-petilasan sang sunan di Kudus. Karena ia mati atas perintah Joko Tingkir, saya ziarahi pula jejak-jejak sang adipati Pajang: dari Pengging tempat kelahirannya, ke Pajang bekas keratonnya, hingga ke Butuh tempat peristirahatan terakhirnya.

BACA JUGA  Menapak Waktu di Curug Tebela

Tak hanya itu, saya datangi pula berbagai tempat yang berserakan di Demak, Pati, Jepara, Rembang, Sukoharjo, Kartasura, hingga Boyolali, demi menyusun potongan-potongan sejarah yang berserak.

Hal serupa saya lakukan saat menekuni Babad Banyumas. Saya menyusuri jejak Wirasaba, tempat asal mula Banyumas, hingga ke Tembagan yang menjadi pusat pemerintahan pertama. Penelusuran berlanjut ke Dawuhan, Bonokeling, Cikakak, Grenggeng, Gunung Prabu, Gunung Brawijaya, Sikanco, Kejawar, Kaleng, Sempor, Kalijirek, Pasir, Wanasepi, Pekuncen, Ujung Giri, sampai ke Imogiri. Hampir seluruh makam di wilayah Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen sudah saya ziarahi.

Yang paling memusingkan adalah saat menelusuri nama-nama tokoh. Saya harus membedah ratusan silsilah dengan ribuan nama. Beruntung saya dipertemukan dengan dr. Soedarmadji, sosok yang dijuluki “empunya babad” di Banyumas. Beliaulah yang banyak membantu menjawab rasa penasaran saya—termasuk memberikan naskah Babad Pasir, naskah yang sebenarnya ingin saya hindari, tetapi pada akhirnya justru saya terjemahkan.

Tentu saya bukan penerjemah ahli. Namun, saya merasa harus melakukannya karena tiga alasan. Pertama, sebagaimana Babad Banyumas, Babad Pasir juga belum memiliki terjemahan yang mudah diakses publik. Buku-buku lawasnya pun sudah tak lagi diterbitkan.

Kedua, Babad Pasir dan Babad Banyumas saling terkait. Babad Pasir bahkan mencatat kisah pemecahan wilayah Pasir oleh Keraton Surakarta yang melahirkan dua tokoh penting: Cakrawedana dan Mertadiredja, keduanya kemudian menjadi Bupati Banyumas. Artinya, Babad Pasir adalah bagian dari narasi lahirnya Banyumas.

Ketiga, Babad Pasir menyebut bahwa cikal bakal Purwokerto bermula dari Pasir. Ketika Cakrawedana memindahkan pusat pemerintahan dari Pasir Kertawibawa ke Pancurawis dan menamainya Purwakerta, di situlah akar nama Purwokerto tumbuh. Jika Babad Banyumas adalah kisah lahirnya Banyumas, maka Babad Pasir adalah kisah lahirnya Purwokerto. Maka keduanya harus dipadukan agar utuh.

BACA JUGA  Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

Saya mendapatkan naskah ini dari koleksi Lembaga Studi Banyumas milik dr. Soedarmadji. Di antaranya ada salinan Babad Pasir versi J. Knebel tahun 1900, lengkap dengan aksara Jawa dan bahasa Belandanya. Namun, untuk terjemahan ini saya menggunakan naskah latin karya Noer Said yang selesai disusun 4 Juli 1975 dan disahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah pada 1981.

Sayangnya, saya tak memiliki informasi lengkap tentang Noer Said selain bahwa ia tercatat sebagai Kepala Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Banyumas dalam naskah.

Isi naskah ini terdiri atas 39 pupuh. Pupuh I–XXX memuat kisah legenda Kamandaka, sedangkan pupuh-pupuh terakhir mengisahkan perkembangan Kadipaten Pasirluhur dari masa kerajaan hingga masa penjajahan.

Namun, dalam buku ini saya hanya menerjemahkan 9 pupuh terakhir yang secara langsung berkaitan dengan proses islamisasi di Pasirluhur dan bergabungnya wilayah Pasir ke dalam Kabupaten Banyumas.

Saya sengaja menerjemahkannya dari bagian akhir karena bagian inilah yang relevan dengan asal usul Purwokerto. Buku ini pun saya terbitkan tepat pada 6 Oktober 2022, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Purwokerto.

Sebelumnya, pada Februari 2022, saya telah menerbitkan Serial Babad Banyumas untuk memperingati hari lahir Kabupaten Banyumas. Maka, di penghujung tahun, saya terbitkan Serial Babad Pasirluhur sebagai penghormatan bagi hari lahir Kota Purwokerto.

Selama ini banyak yang tidak tahu bahwa dahulu Purwokerto adalah kabupaten sendiri, terpisah dari Banyumas. Menurut Babad Banyumas (Wirjaatmadjan), bupati pertama Purwokerto adalah Adipati Mertadiredja II, putra Tumenggung Mertadiredja I yang dalam Babad Pasir dikenal sebagai Ngabehi Pasir.

Disebut pula bahwa awalnya pusat pemerintahan berada di Ajibarang, namun karena bencana angin ribut selama 40 hari, sang bupati memindahkan pusat pemerintahannya ke Paguwon, Purwokerto, wilayah yang dahulu menjadi pusat kekuasaan Cakrawedana. Dalam arsip Belanda, peristiwa perpindahan itu tercatat pada 6 Oktober 1832, dan sejak itu nama Kabupaten Ajibarang diubah menjadi Kabupaten Purwakerta.

BACA JUGA  Bertamu ke Sultan Banten Lewat Ketan Bintul

Maka, penerjemahan Babad Pasir ini saya anggap sebagai kado hari lahir Purwokerto, sebuah nama besar yang berasal dari tanah Pasir, namun perlahan mulai dilupakan.

Penulis: NasSirun PurwOkartun
Seorang novelis, penyair, sekaligus kartunis.
Buku-buku yang sudah diterbitkan sebanyak 88 judul karya pribadi dan 26 judul karya antologi.
Menulis “Serial Babad Banyumas” sejumlah 50 judul buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *