Ragam

Menengok Masjid Saka Tunggal, Jejak Islam Tertua di Banyumas

×

Menengok Masjid Saka Tunggal, Jejak Islam Tertua di Banyumas

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di tengah hutan jati Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, berdiri sebuah masjid tua yang hingga hari ini tetap digunakan sebagai pusat ibadah dan tradisi. Namanya Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Sesuai namanya, masjid ini hanya ditopang satu tiang utama (saka tunggal)—sebuah konstruksi yang tidak lazim dalam arsitektur masjid di Indonesia.

Masjid ini diyakini berdiri pada tahun 1288 Saka atau sekitar 1366 Masehi, menjadikannya salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Pendiri masjid adalah Kyai Mustolih, tokoh penyebar Islam di wilayah Banyumas barat yang dikenal masyarakat setempat sebagai Mbah Tholih.

Satu Tiang, Banyak Makna

Keunikan utama Masjid Saka Tunggal terletak pada satu tiang kayu jati setinggi sekitar 3 meter yang menopang atap bangunan. Tiang ini tidak sekadar elemen struktural, melainkan sarat makna simbolik. Masyarakat setempat memaknainya sebagai lambang tauhid—keesaan Tuhan—yang menjadi fondasi utama kehidupan beragama.

Menariknya, saka tunggal tersebut memiliki empat sayap penyangga kecil di bagian atas, yang oleh para sesepuh dimaknai sebagai simbol empat unsur kehidupan atau empat arah mata angin, sekaligus penopang keseimbangan hidup manusia.

Bangunan masjid sendiri berdenah sederhana, tanpa kubah dan tanpa menara, mengikuti pola arsitektur awal Islam Nusantara yang sangat adaptif dengan lingkungan dan budaya lokal.

Lingkungan masjid juga menyimpan keunikan tersendiri. Kawasan ini dihuni oleh ratusan monyet ekor panjang yang hidup bebas di sekitar kompleks masjid. Alih-alih dianggap sebagai gangguan, satwa tersebut justru dilindungi dan menjadi bagian dari ekosistem religius setempat—sebuah penanda relasi harmonis antara manusia, alam, dan ruang ibadah.

Masjid Saka Tunggal tidak mengalami renovasi besar-besaran yang mengubah bentuk aslinya. Perawatan dilakukan secara hati-hati agar keaslian bangunan dan nilai sejarahnya tetap terjaga, menjadikannya cagar budaya sekaligus ruang hidup tradisi.

BACA JUGA  Clebek, Tubruk Kopi Ala Banyumas yang Bikin Hidup Lebih Greget

Warisan Islam Nusantara

Masjid Saka Tunggal Banyumas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan arsip hidup Islam Nusantara—Islam yang tumbuh dengan pendekatan damai, simbolik, dan membumi. Satu tiang yang menyangga bangunan selama lebih dari enam abad itu seakan menjadi pengingat: bahwa kekokohan iman tidak selalu ditentukan oleh banyaknya penopang, melainkan oleh keteguhan pada satu nilai utama.

Di tengah arus modernisasi masjid-masjid megah, Masjid Saka Tunggal tetap berdiri sederhana—menjaga warisan, memelihara makna, dan mengajarkan bahwa sejarah sering kali hidup paling kuat di tempat-tempat yang tampak sunyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *