LiputanRagam

Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

×

Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

Sebarkan artikel ini
ilustrasi: anak kecil menaiki luku kerbau

BANYUMASMEDIA.COM – Sebagai anak desa yang lahir dan besar di lingkungan pegunungan dengan kultur masyarakat bertani, liburan sekolah bagi saya bukan tentang jalan-jalan ke mal, apalagi menginap di hotel. Liburan semester adalah waktu ikut orangtua ke sawah.

Pagi-pagi, selepas matahari mulai naik, saya dan bapak sudah berangkat membawa cangkul dan bekal nasi dalam rantang kecil. Di sela-sela orang dewasa menanam atau mencabut rumput, saya sibuk dengan kegiatan ala bocah: bermain lumpur, mengejar capung. Ketika masa bajak sawah menjadi momen yang paling seru. Masa itu masing menggunakan bajak kerbau. Di depan pembajak, saya menaiki luku yang diseret oleh kerbau. Pada hari lainnya pergi bersama teman ke arah tanaman selada air di dekat tuk untuk berburu ikan kecil dan udang.

Ikan-ikan kecil, kadang juga udang rawa, kami tangkap pakai tangan kosong atau jaring buatan sendiri. Hasil tangkapan itu tidak dibawa pulang. Biasanya langsung di masak di pematang sawah. Cukup dengan kayu bakar kecil, ikan dibersihkan ala kadarnya, lalu dibakar. Nikmatnya tidak terkira, mungkin karena dimakan ramai-ramai, atau mungkin karena kami memang sedang lapar setelah seharian main.

Liburan sekolah seperti itu yang dekat dengan alam dan penuh petualangan kecil meninggalkan kesan yang bertahan sampai sekarang. Dan jujur, saya kadang khawatir, anak-anak zaman sekarang semakin jauh dari pengalaman seperti itu. Liburan mereka sering dihabiskan dengan gadget, atau hal lainnya.

Makanya, ketika saya mendengar tentang program “Liburan di Kampung Eyang” dari Griya Petualang, rasanya kok seperti menemukan potongan masa kecil saya yang hilang. Program ini mengajak anak-anak untuk merasakan liburan sekolah yang berbeda: hidup bersama eyang di pedesaan Purbalingga, bermain di kebun, menjelajahi hutan, dan menikmati suasana asri desa yang mungkin belum pernah mereka alami sebelumnya.

BACA JUGA  Peringati Harkitnas, DPRD Jateng Tekankan Aksi Nyata di Sektor Desa

Selama 4 hari 3 malam, tanggal 24-27 Juni 2025, anak-anak akan:

  • 🍃 Menginap di rumah eyang, merasakan hangatnya kasih sayang dan suasana pedesaan yang ramah.
  • 🍃 Belajar berkebun permaculture, menjelajahi hutan, dan menikmati forest bathing yang menenangkan.
  • 🍃 Mengasah kreativitas dengan membuat carrot cake bersama eyang, workshop sabun alami, serta crafting kaos lipat & ikat (Shibori) yang seru.

Program ini memang dirancang khusus untuk anak-anak usia minimal 7 tahun yang sudah siap berkegiatan tanpa didampingi ayah dan bunda. Sebuah kesempatan langka untuk melatih kemandirian dan keberanian mereka dengan cara yang menyenangkan.

Lokasinya ada di Dusun Pakejen, Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, Purbalingga—sebuah desa yang masih asri, tempat di mana alam dan keramahan warga desa saling menyapa.

Saya membayangkan, jika anak-anak hari ini bisa merasakan liburan seperti ini, mungkin mereka akan punya cerita masa kecil yang hangat seperti yang saya miliki dulu. Dan siapa tahu, cerita itu kelak yang akan mereka rindukan.

Penulis: Ahmad Sofia Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *