Liputan

Menjadi Orang Besar Itu Ternyata Tipu-Tipu Belaka

×

Menjadi Orang Besar Itu Ternyata Tipu-Tipu Belaka

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Beberapa waktu lalu, saya membaca catatan Soca Sobhita dalam buku Kita, Kami, Kamu. Ada satu bagian yang membuat saya termenung sekaligus merasa tersindir di saat yang bersamaan. Soca kecil menulis tentang keinginannya menjadi “Orang Besar” alias orang dewasa. Alasannya sederhana, jujur, dan sangat masuk akal bagi anak seumuran dia: karena orang dewasa itu bebas melakukan apa saja.

Dalam bayangan Soca, menjadi orang besar itu enak banget karena tidak ada lagi tuntutan mandi setiap kali akan berangkat ke sekolah. Dia melihat Meps (ibunya), yang kalau ke kantor terkadang cuma sikat gigi dan cuci muka tanpa perlu mandi. Di mata anak-anak, itu adalah sebuah kasta tertinggi dari kebebasan.

Mitos “Mau Apa Aja Boleh dan Bisa”

Saat kita masih kecil, kita sering memandang orang dewasa sebagai makhluk semi-dewa yang memegang kunci kebebasan absolut. Kita berpikir kalau sudah besar nanti, kita bisa makan es krim buat sarapan, main game sampai subuh tanpa diomeli, dan yang paling penting: nggak perlu mandi kalau lagi malas.

Tapi, setelah kita benar-benar sampai di terminal bernama “Dewasa” ini, kita baru sadar kalau narasi “mau apa aja boleh dan bisa” itu adalah scam terbesar dalam sejarah pertumbuhan manusia.

Iya, secara teknis kita “boleh” tidak mandi sebelum berangkat kerja seperti pengamatan Soca terhadap Meps. Tapi praktiknya? Kita tidak mandi bukan karena ingin merayakan kebebasan, tapi seringkali karena kita sudah terlalu lelah dengan lembur semalam, atau karena air di kosan mati dan kita nggak punya waktu buat membetulkannya sebelum jam absen kantor dimulai.

Kebebasan yang Ternyata Transaksional

Menjadi orang besar yang dibayangkan Soca yang bisa melakukan apa saja, ternyata datang dengan sepaket tagihan yang tidak pernah disebutkan dalam brosur masa kecil.

BACA JUGA  Nikmatnya Santap Soto Sokaraja di Warung Sari Rasa

Kita memang boleh tidak mandi, tapi kita harus siap dengan tatapan sinis rekan kerja yang merasa oksigen di ruangan mendadak terkontaminasi. Kita memang bisa membeli apa saja yang kita mau, tapi setelahnya kita harus rela makan promag di akhir bulan karena saldo rekening sudah kritis.

Kebebasan orang dewasa itu transaksional. Setiap “boleh” yang kita ambil, selalu ada “tanggung jawab” yang menodong di belakangnya. Menjadi orang besar ternyata bukan soal kebebasan, melainkan soal seberapa banyak masalah yang bisa kita tanggung sambil tetap pura-pura terlihat baik-baik saja di depan orang lain.

Penutup: Kembali Menjadi Soca

Membaca tulisan Soca adalah pengingat yang pahit sekaligus manis. Pahit karena kita diingatkan betapa naifnya cita-cita kita dulu untuk cepat-cepat tumbuh besar. Manis karena kita jadi sadar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sederhana: sesederhana bisa sikat gigi dan cuci muka tanpa beban tuntutan sosial yang berat.

Mungkin Meps tidak mandi bukan karena dia “boleh” melakukannya, tapi karena dia sedang bernegosiasi dengan waktu dan rasa lelahnya sebagai orang dewasa.

Jadi, buat adik-adik yang sekarang masih duduk di bangku SD dan pengin cepat-cepat jadi orang besar supaya bebas nggak mandi: pikir-pikir lagi, Dek. Menjadi dewasa itu capek. Mending kalian nikmati saja drama mandi pagi itu, karena setidaknya setelah mandi, kalian nggak perlu mikirin cara bayar pajak atau cicilan yang bunganya lebih tinggi dari cita-cita kalian dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *