BANYUMASMEDIA.COM – Sepertinya benar kata orang, menjadi “berbeda” itu berat bebannya. Kalau Rekrekan punya aksen putih mirip uban yang bikin mereka terlihat seperti filsuf senior, Lutung Jawa ini memilih jalan hidup yang lebih radikal: hitam pekat dari ujung kepala sampai ujung ekor. Seolah-olah mereka sudah berlangganan paket depresi kolektif sejak zaman nenek moyangnya.
Filosofi Rambut Mohawk dan Realita Hidup
Satu hal yang bikin saya iri dengan Lutung Jawa adalah gaya rambut mereka. Tanpa perlu pakai pomade mahal atau ke barbershop yang antreannya bikin emosi, rambut di kepala mereka sudah berdiri tegak alias mohawk secara alami. Keren? Jelas. Tapi ya itu tadi, keren saja tidak cukup untuk membayar tagihan ekosistem yang makin kacau.
Kalau dipikir-pikir, hidup mereka itu sangat “Mojok” sekali: membumi, tidak banyak tingkah, dan lebih suka menghabiskan waktu dengan makan pucuk daun sambil melihat dunia yang makin hari makin tidak masuk akal. Mereka tidak butuh self-help book atau seminar motivasi untuk tetap tenang. Cukup ada pohon yang rimbun, mereka sudah bahagia. Sebuah standar kebahagiaan yang sangat jauh dari kita-kita yang baru bisa bahagia kalau saldo rekening ada angka nolnya minimal enam digit.
Bayi Oranye di Dunia yang Hitam
Ada satu anomali menarik dari Lutung Jawa: saat lahir, bulu mereka justru berwarna oranye terang. Kontras sekali dengan induknya yang hitam legam. Seolah-olah alam ingin memberikan harapan lewat warna cerah, sebelum akhirnya realita hidup mengubah mereka jadi hitam—sama seperti idealisme anak muda yang perlahan luntur dan berubah jadi pragmatisme setelah dihantam kerasnya dunia kerja.
Sayangnya, bayi-bayi oranye yang menggemaskan ini sering kali jadi incaran manusia-manusia “Orang Besar” yang ingin memeliharanya di dalam kandang sempit. Mereka menganggap Lutung sebagai pajangan, tanpa sadar bahwa mencabut satwa dari hutan adalah cara paling efisien untuk mempercepat kiamat kecil bagi ekologi kita.
Menjaga Lutung Jawa di lereng Slamet itu bukan cuma tugas aktivis lingkungan yang bajunya penuh lumpur dan istilah biologinya bikin pusing. Ini soal kesadaran kolektif kita sebagai warga yang hidup di bawah bayang-bayang Gunung Slamet.
Jangan sampai suatu saat nanti, nama “Lutung” cuma kita temui sebagai nama gang sempit di perumahan atau nama kedai kopi kekinian, sementara wujud aslinya sudah punah karena kita terlalu sibuk jadi “Orang Besar” yang lupa cara peduli. Mari kita biarkan si rambut mohawk ini tetap melompat bebas di dahan pohon, tanpa perlu merasa terancam oleh ego manusia yang nggak ada habisnya.











