Liputan

Warung Sorjem Purwokerto: Tempat Makan yang Mengajarkan Saya Bahwa Bahagia Itu Kadang Cuma Butuh Telor Balado dan Mendoan Hangat

×

Warung Sorjem Purwokerto: Tempat Makan yang Mengajarkan Saya Bahwa Bahagia Itu Kadang Cuma Butuh Telor Balado dan Mendoan Hangat

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di Purwokerto, ada satu jenis tempat makan yang tidak pernah benar-benar kehilangan pelanggan: warung sederhana yang murah, ngenyangin, dan bikin orang pulang dengan hati damai. Salah satunya ya Warung Sorjem, singkatan dari “ngisor jembatan” yang berada tepat di bawah jembatan timur Stasiun Kereta Api Purwokerto.

Kalau orang luar kota mendengar lokasi warung ini mungkin langsung membayangkan tempat makan yang semrawut, berisik, dan sekadar tempat singgah sementara. Padahal justru di situlah letak keindahan hidup orang kecil: makan enak tidak selalu perlu interior industrial, lampu warm white, dan playlist jazz lo-fi.

Kadang cukup ada nasi hangat, sayur rames, sambal yang niat, dan mendoan yang baru diangkat dari penggorengan.

Warung ini berdiri di bawah jembatan yang dibangun pada 17 Agustus 1967. Umurnya bahkan mungkin lebih tua daripada sebagian besar pelanggan yang sekarang duduk di kursi kayu sederhana memanjang sambil nambah nasi tanpa rasa malu. Dan seperti banyak tempat legendaris lain di Purwokerto, Sorjem tampaknya tidak sibuk mengejar estetika media sosial. Ia hanya fokus pada satu hal: membuat orang kenyang dengan harga yang masih masuk akal.

Masalahnya, di zaman sekarang, “harga masuk akal” itu sudah mulai terasa seperti mitos.

Makanya saya agak percaya ketika ada pengunjung yang bilang menu favoritnya adalah telor ceplok balado plus mendoan hangat. Kombinasi yang kalau dipikir-pikir memang sangat Banyumas: sederhana, pedas, murah, tapi punya kemampuan memperbaiki suasana hati.

Dan puncaknya adalah ketika ia bercerita habis makan:

  • 3 nasi rames sayur,
  • 3 telor balado,
  • 1 tongkol,
  • 2 mendoan,
  • 3 bakwan,
  • 5 kepok ketan,

dan totalnya cuma Rp37 ribu.

Saya membaca daftar itu bukan seperti melihat struk makanan, tapi seperti membaca doa orang yang sedang benar-benar lapar.

BACA JUGA  Setya Arinugroho: Kenaikan Tarif Tol Harus Diimbangi Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan

Karena di kota-kota besar lain, uang Rp37 ribu sekarang kadang bahkan belum cukup buat beli kopi dan parkir. Sementara di bawah jembatan timur Stasiun Purwokerto, uang segitu masih bisa membuat seseorang makan seperti atlet bulking menjelang kompetisi.

Warung Sorjem pada akhirnya bukan cuma soal makanan murah. Ia adalah pengingat bahwa daerah seperti Purwokerto masih punya ruang-ruang kecil yang menjaga kewarasan rakyat biasa. Tempat orang bisa makan tanpa takut dompet mendadak mengalami krisis nasional.

Dan mungkin memang begitu seharusnya warung legendaris bekerja: bukan sekadar menjual makanan, tetapi memberi rasa tenang bahwa hidup ternyata masih bisa dijalani dengan harga yang manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *