BANYUMASMEDIA.COM – Tidak semua anak Indonesia tumbuh dengan cerita sebelum tidur tentang Malin Kundang, Timun Mas, atau legenda-legenda Nusantara lainnya. Ada yang sejak kecil tinggal di negeri orang, mengikuti orang tua mereka yang bekerja sebagai pekerja migran. Bahasa Indonesia masih mereka gunakan, tetapi kedekatan dengan budaya tanah air perlahan bisa memudar.
Kondisi itulah yang ditemui mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) saat menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia. Selama hampir satu bulan, mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membawa pulang kembali cerita-cerita yang selama ini menjadi bagian dari masa kecil banyak anak Indonesia.
Program KKN Internasional dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut berlangsung pada 4–31 Juli 2026. Sebanyak 20 mahasiswa diterjunkan ke 10 Sanggar Bimbingan yang tersebar di berbagai wilayah Semenanjung Malaysia, termasuk Negeri Perak. Sasarannya adalah anak-anak migran Indonesia berusia 8–14 tahun.
Alih-alih mengandalkan metode ceramah, para mahasiswa memilih pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak. Mereka menghidupkan kembali cerita rakyat Nusantara melalui kegiatan mendongeng yang dipadukan dengan permainan edukatif.
Kisah Malin Kundang menjadi pintu masuk untuk mengajak anak-anak memahami pentingnya menghormati orang tua dan menjaga hubungan keluarga. Sementara Timun Mas digunakan untuk mengenalkan nilai keberanian, kecerdikan, gotong royong, serta semangat pantang menyerah.
Suasana belajar pun dibuat lebih menyenangkan melalui berbagai permainan berbasis gamification. Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diajak berdiskusi, bermain, dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan.
Ketua tim pendamping dari Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Linda Susana, mengatakan pendekatan budaya dipilih karena menjadi cara yang lebih mudah diterima anak-anak sekaligus membantu mereka tetap mengenal identitas bangsanya.
“Cerita rakyat merupakan media yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui dongeng dan permainan edukatif, kami ingin menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus memperkenalkan budaya Nusantara dengan cara yang menyenangkan sehingga mereka tetap memiliki kedekatan dengan akar budayanya,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga menjadi ruang belajar yang tidak mereka dapatkan di ruang kuliah. Mereka belajar beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berbeda, sekaligus memahami bagaimana pendidikan dapat menjadi penghubung antara anak-anak migran dengan budaya asalnya.
Dosen pendamping, Ahmad Sabiq, menilai kegiatan ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Mahasiswa memperoleh pengalaman pengabdian di lingkungan internasional, sedangkan anak-anak migran mendapatkan ruang belajar yang aman sekaligus tetap dekat dengan nilai-nilai budaya Indonesia.
“Melalui KKN Internasional ini, mahasiswa belajar beradaptasi dengan kondisi sosial dan budaya yang berbeda sekaligus mengimplementasikan ilmu yang dimiliki. Di sisi lain, anak-anak migran Indonesia memperoleh ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan tetap dekat dengan nilai-nilai budaya bangsa,” katanya.
Selain menjadi bagian dari pengabdian masyarakat, pengalaman tersebut akan dikembangkan menjadi karya ilmiah sebagai kontribusi akademik Unsoed. Pada 2026, Malaysia bukan satu-satunya tujuan KKN Internasional. Unsoed juga mengirim mahasiswa menjalankan program serupa di Thailand, Vietnam, dan Tiongkok.











