BANYUMASMEDIA.COM – Babad Banyumas tidak selalu harus dikenalkan melalui buku.
Di Bale Babad Banyumas, sanggar seni milik budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun, kisah-kisah dari naskah lama itu dicoba dibawa ke bentuk yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Salah satunya melalui bunyi lesung dan syair berbahasa Banyumasan.
Upaya tersebut sudah dilakukan Kang Nass, begitu ia biasa disapa, selama bertahun-tahun. Sejak 2015, ia mengumpulkan berbagai naskah Babad Banyumas dan menemukan bahwa sebagian besar ditulis dalam bentuk tembang Macapat.
Bagi orang yang tidak terbiasa dengan aksara Jawa, bahasa Jawa lama, atau tembang Macapat, naskah tersebut tentu tidak mudah didekati. Karena itu, Kang Nass tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan naskah.
Pada 2017, ia membentuk kelompok Macapatan bersama 15 orang tetangganya di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Kelompok tersebut diberi nama Pangastawa, singkatan dari Paguyuban Ngesti Tata Swara, yang dimaknai sebagai perkumpulan untuk berlatih menata suara.
Setiap malam Sabtu, mereka berkumpul untuk menembangkan kisah-kisah Babad Banyumas. Naskah yang pertama dibacakan adalah Babad Banyumas Mertadiredjan, naskah yang menurut catatan Kang Nass ditulis sekitar 1816 atas perintah Bupati Banyumas Adipati Mertadireja I.
Namun, Macapatan memiliki batasnya sendiri. Tidak semua orang bisa mengikuti tembang atau memahami bahasa yang digunakan dalam naskah lama.
Karena itu, pada 2019 Kang Nass membentuk kelompok lain: Gubrag Lesung Babad Banyumas.
Jika Macapatan menjadi ruang untuk melestarikan pembacaan Babad Banyumas melalui tembang, Gubrag Lesung digunakan sebagai medium untuk mengenalkan kisah-kisah tersebut melalui syair yang lebih sederhana.
Kelompok musik lesung itu diberi nama Pangastuti, sebagai pasangan dari Pangastawa. Nama tersebut merupakan singkatan dari Paguyuban Mangasah Tulusing Ati, yang dimaknai sebagai tempat untuk menajamkan ketulusan hati.
“Secara arti, Pangastuti dan Pangastawa sama artinya. Yaitu berdoa, memohon, atau berharap. Itu bahasa Jawa Kawi. Sengaja saya pakai dua nama yang beda kata tapi sama arti, karena sesungguhnya saya sedang berdoa, memohon, dan berharap, agar Babad Banyumas bisa dikenali lagi oleh masyarakat Banyumas,” kata Kang Nass.
Nama itu sekaligus menggambarkan apa yang sedang ia kerjakan. Babad Banyumas tidak hanya diperlakukan sebagai naskah lama yang disimpan, tetapi sebagai cerita yang perlu dicari kembali jalan untuk sampai kepada masyarakat.
Salah satu lagu yang kerap dibawakan kelompok Gubrag Lesung adalah “Babad Banyumas Kuwe”. Syairnya memperkenalkan sejumlah tokoh dan cerita dalam Babad Banyumas, mulai dari Raden Baribin hingga Jaka Kaiman.

Kang Nass menyusun sendiri lagu-lagu tersebut dengan mengambil inti kisah dari Babad Banyumas. Bahasanya dibuat sederhana agar dapat diingat dan dinyanyikan bersama.
Pilihan nadanya pun bukan sesuatu yang asing. Lagu “Babad Banyumas Kuwe” menggunakan melodi “Gelang Sipaku Gelang”, lagu yang sudah dikenal luas oleh masyarakat.
Dengan cara itu, batas antara naskah sejarah dan pertunjukan kesenian menjadi lebih cair. Orang yang mungkin tidak pernah membaca Babad Banyumas dapat terlebih dahulu mengenal nama tokohnya melalui lagu, sebelum kemudian tertarik mengetahui cerita yang lebih lengkap.
Syairnya bahkan membawa pesan sederhana tentang pentingnya menjaga cerita tersebut: Babad Banyumas disebut sebagai “crita Banyumas kabeh” yang jangan sampai hilang dan perlu dijaga sebagai pusaka.
Kelompok Macapatan Babad Banyumas sendiri sempat berhenti sejak 2024. Sementara Gubrag Lesung Babad Banyumas masih berjalan dan kini telah berkembang menjadi dua kelompok.
Bagi Kang Nass, keberlanjutan Gubrag Lesung bukan semata-mata soal mempertahankan sebuah kesenian. Ada tujuan lain yang ingin dicapai: membuat Babad Banyumas memiliki lebih banyak pintu masuk.
Ada pintu melalui naskah, ada melalui tembang Macapat, dan ada pula melalui bunyi lesung yang bisa dinikmati bersama. Di situlah Babad Banyumas tidak berhenti menjadi cerita masa lalu, tetapi dicoba untuk kembali hadir dalam ingatan masyarakat hari ini.
Sebab mungkin persoalan warisan budaya bukan selalu karena ceritanya sudah tidak menarik. Bisa jadi, cara untuk mendekatinya yang perlu dibuat lebih beragam.
Dan di Bale Babad Banyumas, Kang Nass sedang mencoba salah satu caranya: mengetuk kembali cerita lama dengan bunyi lesung.
“Babad Banyumas kuwe
Babade awake dhewek
Ayuh kanca padha debukak
Padha dewaca ben bisa crita
Babad Banyumas kuwe
Akeh banget critane
Kena kanggo ndonengi bocah
Ndongengi bocah ben padha bungah
Babad Banyumas kuwe
Crita Raden Baribin
Majapahit asal usule
Asal usule Raden Baribin
Babad Banyumas kuwe
Crita Raden Katuhu
Mlebung geni dadine sekti
Dadine sekti dadi bupati
Babad Banyumas kuwe
Crita Jaka Kaiman
Bocah lola lan angon kebo
Lan angon kebo dadi bupati
….”











