Liputan

Kemah Ukhuwah Pramuka SIT Banyumas: Saat 326 Penggalang Belajar Bersama di Desa Glempang

4
×

Kemah Ukhuwah Pramuka SIT Banyumas: Saat 326 Penggalang Belajar Bersama di Desa Glempang

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Sebanyak 326 Pramuka Penggalang dari delapan sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Kabupaten Banyumas mengikuti Kemah Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SIT) Banyumas di Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, 2–3 September 2026.

Kemah yang mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Menumbuhkan Kemandirian, dan Membentuk Pramuka Berkarakter Islami” tersebut tidak hanya mengajak peserta bermalam di alam terbuka. Selama dua hari, peserta mendapatkan pengalaman belajar melalui interaksi dengan teman dari sekolah lain, masyarakat, lingkungan alam, hingga pelaku usaha di Desa Glempang.

Peserta berasal dari SDIT Harapan Bunda 1, SDIT Harapan Bunda 2, SDIT Cita Mulia, SDIT Insan Mulia, SDIT Generasi Mulia, SDIT Insan Harapan, SMPIT Harapan Bunda, dan SMPIT IKADI. Kegiatan juga melibatkan 73 Bina Damping yang mendampingi peserta selama perkemahan.

Ketua panitia, Egi dari SDIT Harapan Bunda Purwokerto, melaporkan pelaksanaan kegiatan tersebut. Kemah dibuka oleh Yudi selaku Mabisakocab Pramuka SIT Banyumas.

Tidak Semua Teman Satu Sekolah

Salah satu konsep yang menjadi ciri Kemah Ukhuwah kali ini adalah pembagian regu. Panitia mencampur anggota regu dari berbagai pangkalan sehingga peserta tidak selalu berada satu kelompok dengan teman-teman dari sekolahnya sendiri.

Pola tersebut membuat peserta harus berkenalan dengan teman baru, membangun komunikasi, membagi tugas, dan bekerja sama dengan anggota regu yang memiliki latar sekolah berbeda.

Bagi penyelenggara, cara ini menjadi bagian dari pembelajaran tentang ukhuwah. Peserta tidak diarahkan untuk melihat sekolah atau pangkalan lain sebagai lawan, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang dapat saling mendukung.

Dengan demikian, semangat yang dibangun bukan sekadar siapa yang menjadi regu terbaik. Peserta justru belajar bahwa sebuah kegiatan dapat berjalan ketika orang-orang yang berbeda mampu bekerja menuju tujuan yang sama.

BACA JUGA  Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

Desa Glempang Menjadi Ruang Kelas

Pembelajaran juga tidak berhenti di area perkemahan. Dalam agenda jelajah alam, peserta diajak melihat langsung berbagai aktivitas masyarakat Desa Glempang.

Sejumlah lokasi menjadi tujuan kunjungan edukasi, antara lain sentra industri telur asin, industri yogurt, peternakan lebah, peternakan kambing, serta kebun timun.

Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat mengelola potensi pertanian, peternakan, dan usaha di lingkungan mereka. Pengalaman tersebut mempertemukan pengetahuan yang selama ini diperoleh di sekolah dengan aktivitas nyata di tengah masyarakat.

Program kunjungan ini melibatkan Kelompok Tani Mindajaya, Kelompok Tani Guyub, dan Kelompok Tani ABE Farm Desa Glempang.

Bagi peserta, pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa belajar tidak selalu membutuhkan ruang kelas dan papan tulis. Alam, masyarakat, petani, peternak, dan pelaku usaha juga dapat menjadi sumber pembelajaran.

Dari Api Unggun hingga Wawasan Kebangsaan

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan upacara api unggun yang dipimpin oleh Achri selaku Pinsakocab Banyumas. Api unggun menjadi salah satu kegiatan bersama yang mempertemukan seluruh peserta dalam suasana perkemahan.

Selain kegiatan kepramukaan dan jelajah lingkungan, peserta mendapatkan materi wawasan kebangsaan serta pelatihan baris-berbaris. Materi tersebut disampaikan Joko dan Karseno dari Koramil dan Polsek Kecamatan Pekuncen.

Materi tersebut memperkenalkan peserta pada kedisiplinan, ketertiban, nasionalisme, dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Kegiatan juga dihadiri perwakilan Kwarcab Banyumas, Agus Anggraito. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan pembinaan kepramukaan di lingkungan sekolah Islam Terpadu.

“Dua Hari Kemah Sama dengan Belajar Dua Tahun”

Kemah Ukhuwah ditutup oleh Priyono dari Pinsakoda Jawa Tengah. Dalam pesan penutupnya, ia mengajak peserta melihat pengalaman dua hari di perkemahan sebagai proses belajar yang jauh lebih luas daripada sekadar menerima materi.

BACA JUGA  Komunitas BARENG: Wadah Penghobi Bajaj Republik Ngapak

“Adik-adik penggalang yang kemah selama dua hari ini sama saja belajar di ruangan kelas selama dua tahun, karena kemah bisa belajar tentang kehidupan, belajar bersosialisasi ke masyarakat, belajar kerja sama antar tim, belajar di alam terbuka mengamati fenomena alam, belajar mengatur diri sendiri mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi dan sebagainya.”

Pesan tersebut menggambarkan pengalaman yang diperoleh peserta selama perkemahan. Mereka belajar mengatur kebutuhan sehari-hari, bekerja dalam kelompok, berkomunikasi dengan orang lain, mengenali lingkungan, sekaligus beradaptasi dengan situasi yang berbeda dari keseharian di sekolah.

Pada akhirnya, Kemah Sako Pramuka SIT Banyumas di Glempang tidak hanya meninggalkan pengalaman bermalam di alam terbuka. Pertemuan 326 Penggalang dari berbagai sekolah menjadi kesempatan untuk belajar mengenal perbedaan dan membangun kerja sama.

Dari regu yang anggotanya berasal dari pangkalan berbeda, peserta belajar bahwa kebersamaan tidak harus dibangun dari kesamaan sekolah. Sementara dari masyarakat dan lingkungan Desa Glempang, mereka belajar bahwa kehidupan sehari-hari juga menyimpan banyak pengetahuan.

Kemah pun menjadi ruang untuk menumbuhkan tiga hal yang menjadi tema kegiatan: ukhuwah, kemandirian, dan karakter Islami.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *