BANYUMASMEDIA.COM – “Perjalanan kangkungnya panjang ya, Ma, sampai ke piringku. Kamu tumbuh enak banget!”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Puan, kangkung bukan lagi sekadar sayuran yang sudah berubah menjadi lauk di meja makan. Setelah berbulan-bulan bermain dengan tanah, menanam biji, menyiram tanaman, melihat tanaman tumbuh, bahkan menyaksikan beberapa di antaranya mati, Puan tahu bahwa sebatang kangkung memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat di piring.
Namanya Restu Puan Yovela. Di sekolah, anak kelas 2 SD ini biasa dipanggil Puan. Ketertarikannya pada tanaman bermula sejak usia tiga tahun, ketika ia sering melihat mamanya menanam sayuran di rumah. Dari kebiasaan sederhana itu tumbuh sebuah rasa penasaran: bagaimana sesuatu yang awalnya hanya berupa biji kecil bisa tumbuh menjadi tanaman, kemudian dipanen, dimasak, dan akhirnya sampai ke perutnya?
Rasa penasaran itu kemudian ia bawa menjadi sebuah riset bertajuk “Menanam”. Selama prosesnya, halaman rumah berubah menjadi laboratorium kecil. Polybag, biji-bijian, tanah, air, dan berbagai tanaman menjadi bagian dari keseharian Puan. Ia tidak hanya membaca atau mencari informasi, tetapi ikut menanam, menyiram, mengukur, memindahkan pot, mencabut rumput, memanen, bahkan menerima kenyataan bahwa beberapa percobaannya gagal.
Salah satu bagian dari perjalanan itu kemudian ia presentasikan di sekolah pada 25 Mei 2026. Di salah satu sudut ruang TA yang teduh, Puan menata sebuah meja yang dipenuhi hasil risetnya. Ada biji kangkung, bayam merah, bayam hijau, 21 bibit tanaman dalam polybag kecil, bunga soka kesayangan, kunyit hasil panen, dan sebuah buku riset yang menjadi catatan perjalanan belajarnya.
Puan bahkan sudah memikirkan kapan bibit-bibit itu harus ditanam. “Kan seminggu lagi presentasi, Mah. Mereka biar sempat tumbuh,” katanya saat menyiapkan bibit-bibit tersebut.
Di meja itu pula Puan belajar bahwa sebuah presentasi tidak selalu berarti berdiri di depan kelas sambil membaca tulisan yang sudah disiapkan. Ia menentukan sendiri bagaimana meja ditata, membuat poster harga, mengemas biji-bijian, hingga menjelaskan hasil riset kepada siapa saja yang datang.
Ketika pengunjung mulai mendekat, Puan membuka buku risetnya. Ia menunjukkan gambar-gambar tanaman sambil bercerita tentang apa yang telah dilakukannya. Sesekali ia masih tertukar menyebut sereh dan kencur atau kebingungan membedakan hitungan hari dan bulan untuk usia tanaman. Namun, justru dari ketidaksempurnaan itu terlihat bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar sebuah presentasi, melainkan proses seorang anak memahami sesuatu melalui pengalaman langsung.
Semua Bermula dari Rasa Penasaran
Puan rupanya tidak tiba-tiba memilih tanaman sebagai tema riset. Ada pengalaman yang jauh lebih lama yang mendahuluinya. Sejak kecil, ia melihat mamanya menanam berbagai sayuran di rumah, sementara dirinya sendiri memang memiliki ketertarikan pada makanan dan kegiatan memasak bersama sang mama.
Dari sana muncul pertanyaan yang mungkin terdengar sepele bagi orang dewasa. Puan ingin tahu bagaimana makanan yang ia sukai itu bermula. Bagaimana biji kecil bisa berubah menjadi tanaman? Bagaimana tanaman itu kemudian menghasilkan sesuatu yang bisa dipanen? Dan bagaimana akhirnya sesuatu yang tumbuh di tanah bisa sampai ke piring makan?
Pertanyaan itu kemudian dijalani, bukan hanya dijawab.
Bersama mamanya, Puan mencari berbagai kebutuhan untuk membuat kebun kecil. Polybag dan aneka biji sayuran dibeli. Halaman rumah pun perlahan berubah menjadi tempat untuk bereksperimen. Puan mencoba menanam berbagai jenis tanaman sekaligus belajar dari apa yang terjadi setelahnya.
Hasilnya tidak selalu menggembirakan.
Tanaman tomat menjadi salah satu yang berhasil. Ia tumbuh dan menghasilkan buah yang kemudian bisa dipanen. Tetapi mentimun yang sempat tumbuh justru tidak kunjung berbuah. Cabai pernah tumbuh sebelum akhirnya mati. Buncis pun mengalami nasib serupa karena layu dan tidak berhasil dipertahankan.
Bagi orang dewasa, kegagalan menanam mungkin hanya berarti mengganti tanaman dengan bibit baru. Tetapi bagi Puan, setiap tanaman yang gagal memberikan pengalaman yang berbeda. Ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana harapan, dan ia harus menerimanya sebagai bagian dari proses.
Kebun kecil itu juga tidak sepenuhnya berisi tanaman yang dibeli atau ditanam sendiri. Orang-orang di sekitar Puan ikut menyumbang kehidupan di dalamnya. Ada tanaman markisa pemberian Geva yang kini tumbuh besar, tanaman ekor tupai dari Tante Rena, serta tanaman hias yang dibawa jauh-jauh dari Cimahi oleh Tante Tari.
Hari-hari Puan kemudian diisi dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang mungkin tidak selalu dianggap sebagai kegiatan belajar. Bersama mamanya, ia bergantian menyiram tanaman, mengukur tinggi batang, menambahkan tanah ketika diperlukan, mencabut rumput liar, dan memindahkan pot-pot berat agar tanaman mendapatkan cahaya matahari yang cukup.
Dari situ Puan belajar bahwa merawat sesuatu tidak cukup dilakukan sekali. Ada rutinitas yang harus diulang. Ada perhatian yang kadang terasa membosankan. Dan ada konsekuensi ketika perhatian itu terlewat, sebab beberapa tanamannya memang sempat mati karena tidak terurus dengan baik.
Ketika Kebun Mengajarkan tentang Hidup
Puan kemudian membawa rasa ingin tahunya keluar dari halaman rumah. Ia dua kali mengunjungi kebun Tante Rena di Solo. Dua kunjungan itu memberinya pengalaman yang berbeda tentang bagaimana sebuah kebun bisa terlihat.
Pada kunjungan pertama, kebun Tante Rena tampak rimbun. Berbagai tanaman tumbuh subur dengan buah dan sayuran yang bergelantungan. Namun, ketika Puan datang untuk kedua kalinya, pemandangannya berubah. Kebun itu tampak gundul karena sedang diistirahatkan untuk menyuburkan kembali tanahnya.
Dari sana Puan melihat bahwa kebun tidak harus selalu hijau agar bisa disebut berhasil. Ada masa ketika tanah perlu dibiarkan beristirahat. Ada waktu ketika tanaman tumbuh, dan ada waktu ketika sesuatu harus berhenti agar kehidupan berikutnya bisa berjalan lebih baik.
Di kebun yang sama, Puan menemukan pengalaman lain yang lebih membekas. Ia melihat pohon rosella yang meranggas setelah tersambar petir. Daunnya kering dan berguguran. Namun, di antara ranting-ranting yang terlihat rapuh itu, buah rosella justru tumbuh dengan lebat.
Puan memperhatikannya dan kemudian berkata kepada mamanya, “Besok-besok kalau kita datang ke sini lagi, mungkin dia udah nggak ada ya, Mah?”
Bagi orang dewasa, kalimat itu mungkin terdengar sebagai pertanyaan biasa seorang anak. Tetapi di dalamnya ada sesuatu yang sedang tumbuh: kesadaran bahwa makhluk hidup tidak selalu berada dalam kondisi yang sama. Ada yang tumbuh, ada yang layu, ada yang pulih, dan ada yang suatu saat mungkin tidak lagi ada.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Puan mengenal lebih banyak hal. Ia belajar tentang black gold, tanah kascing yang subur. Ia mengenal berbagai cara merawat tanaman dan mencoba memahami hubungan antara tanah, air, cahaya, serta pertumbuhan tanaman.
Ia dan mamanya juga pernah mencoba membuat pupuk organik. Namun, percobaan tersebut akhirnya tidak dilanjutkan karena keduanya sama-sama takut dengan maggot.
Tidak semua rasa ingin tahu harus berakhir dengan keberhasilan. Kadang-kadang, proses belajar juga mempertemukan kita dengan sesuatu yang belum sanggup kita lakukan.
Belajar Menjual Bibit
Riset Puan ternyata tidak berhenti pada urusan menanam. Saat presentasi di sekolah, ia juga membawa sebagian hasil kebunnya untuk dijual.
Ada biji kangkung, bayam merah, dan bayam hijau yang dikemas dalam kertas kecil. Harganya Rp3.000. Ada pula bibit-bibit tanaman yang ia tanam sendiri.
Semula Puan ingin menjual bibitnya dengan harga Rp4.000. Ketika mamanya mengingatkan bahwa harga tersebut mungkin terlalu mahal, Puan sudah menyiapkan rencana.
“Ya nanti kalau nggak ada yang beli, aku turunin jadi tiga ribu.”
Strategi sederhana itu menunjukkan bahwa Puan mulai memahami bahwa sesuatu yang ia hasilkan juga memiliki nilai. Ia harus menentukan harga, melihat respons orang lain, dan menerima kemungkinan bahwa tidak semua orang akan membeli.
Dan memang, tidak semua dagangannya laku.
Saat pulang, mamanya bertanya makanan apa yang paling laris di sekolah hari itu. Puan menjawab bahwa makanan menjadi barang yang paling banyak dibeli. Kemudian ia sempat bergumam, “Lakunya cuma dikit ya…”
Tetapi Puan tidak pulang dengan wajah kecewa. Bibit dan sayuran yang tidak terjual masih bisa dibawa kembali ke rumah. Ia bisa memasaknya bersama keluarga.
Barangkali di situ ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Tidak semua hasil kerja harus selalu berakhir dengan angka penjualan. Sesuatu yang tidak laku pun masih bisa memiliki manfaat lain.
Dari Tanaman ke Meja Makan
Saat presentasi, Puan juga menjelaskan apa yang ia lakukan dengan hasil tanamannya. Kangkung bisa diolah menjadi tumis kangkung. Tomat bisa dibuat menjadi tomat gula. Bayam dapat dimasak menjadi sayur bening.
Puan tidak hanya mengetahui nama tanaman. Ia tahu bagaimana tanaman itu dirawat, kapan dipanen, dan apa yang bisa dilakukan setelah panen. Hubungan antara menanam, memanen, memasak, dan makan menjadi sesuatu yang ia alami sendiri.
Karena itu, kalimat Puan tentang kangkung di meja makan terasa masuk akal.
“Perjalanan kangkungnya panjang ya, Ma, sampai ke piringku. Kamu tumbuh enak banget!”
Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat makanan hanya pada tahap akhirnya. Nasi sudah berada di piring. Sayur sudah berada di mangkuk. Buah sudah tersedia di meja. Kita jarang memikirkan perjalanan panjang yang membuat semuanya bisa sampai ke sana.
Puan justru menemukan perjalanan itu dari halaman rumah.
Ia melihat biji sebelum menjadi tanaman. Ia menyaksikan tanaman yang tumbuh dan tanaman yang mati. Ia tahu bahwa tanah perlu dirawat, tanaman perlu disiram, dan ada hari-hari ketika seseorang bisa lupa memperhatikannya.
Dari pengalaman sederhana itu, makanan tidak lagi sekadar sesuatu untuk dimakan. Ada proses panjang yang membuatnya sampai ke meja.
Anak yang Sedang Menemukan Caranya Belajar
Anggi Satoko, selaku notulis, memberikan catatan reflektif atas perjalanan Puan. Melalui riset sederhana tentang menanam, Puan sebenarnya sedang belajar menghargai setiap makanan yang tersaji di hadapannya.
Tetapi kisah Puan juga memperlihatkan sesuatu yang lebih luas tentang cara seorang anak belajar. Pengetahuan tidak selalu datang dari buku, meskipun Puan tetap memiliki buku riset yang ia bawa ke sekolah. Sebagian pengetahuan justru datang ketika tangannya menyentuh tanah, ketika ia menunggu biji tumbuh, ketika tanaman mati, atau ketika ia harus memutuskan berapa harga bibit yang akan dijual.
Puan memang masih kelas 2 SD. Ia masih bisa tertukar antara sereh dan kencur. Ia masih bisa bingung menghitung usia tanaman dalam hari atau bulan. Tetapi barangkali tidak ada yang perlu terburu-buru untuk membuatnya mengetahui semuanya sekarang.
Sebab yang lebih penting adalah ia sedang belajar untuk penasaran.
Ia belajar mengamati sesuatu yang ada di sekitarnya. Ia mencoba membuat pertanyaan, mencari jawaban, melakukan percobaan, menerima kegagalan, lalu mencoba memahami apa yang terjadi. Sesekali ia berhasil, sesekali ia harus mengakui bahwa ada hal yang belum bisa ia lakukan.
Dan semua itu berlangsung tanpa harus selalu disebut sebagai pelajaran.
Halaman rumah menjadi ruang belajarnya. Kebun Tante Rena menjadi ruang belajarnya. Meja presentasi di sekolah menjadi ruang belajarnya. Bahkan sepiring kangkung di meja makan pun menjadi ruang belajar ketika ia mulai menyadari betapa panjang perjalanan makanan sebelum sampai ke hadapannya.
Mungkin bagi orang dewasa, Puan hanya sedang menanam beberapa tanaman di halaman rumah. Namun bagi Puan, tanaman-tanaman itu telah membuka pintu untuk mengenal banyak hal: tentang kesabaran, kegagalan, tanggung jawab, makanan, kehidupan, bahkan tentang dirinya sendiri.
Dan mungkin memang begitu cara seorang anak tumbuh. Bukan dengan buru-buru mengetahui semua jawaban, tetapi dengan diberi cukup ruang untuk bertanya, mencoba, merawat, dan menemukan sendiri apa yang membuatnya ingin terus belajar.
Sebab pada akhirnya, dari kebun kecil itu Puan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar cara menanam. Ia menemukan bahwa sesuatu yang tumbuh membutuhkan waktu, perhatian, dan kasih sayang.
Termasuk dirinya sendiri.
Sumber: www.salamyogyakarta.com











