BANYUMASMEDIA.COM – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Kabupaten Purbalingga mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal sekaligus menjawab berbagai persoalan di bidang kesehatan, ekonomi, sosial, pemerintahan desa, dan lingkungan.
Program KKN periode Juli–Agustus 2026 tersebut dilaksanakan di empat kecamatan, yakni Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, dan Rembang. Pelaksanaan KKN ditutup dengan penarikan mahasiswa yang berlangsung di Operation Room Graha Adiguna, Kompleks Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga, Senin (10/8/2026).
Sekretaris Bapperida Kabupaten Purbalingga Jupri Santoso, saat membacakan sambutan Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan KKN tidak semestinya hanya dipandang sebagai bagian dari kewajiban akademik mahasiswa. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan desa.
“Kami berharap kesempatan pembelajaran ini memberikan dampak positif dan nyata di tengah kehidupan masyarakat. Program-program pemberdayaan yang telah dirintis bersama masyarakat juga diharapkan dapat terus berjalan dan dikembangkan secara mandiri,” ujar Jupri.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan masyarakat memberikan pengalaman untuk memahami berbagai persoalan yang tidak selalu ditemui di ruang perkuliahan. Sebaliknya, kehadiran mahasiswa juga dapat memberikan tambahan gagasan, pengetahuan, dan pendampingan bagi masyarakat dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki desa.
Pada periode ini, KKN Unsoed mengusung tema “Kolaborasi Pengoptimalan Potensi Desa untuk Mengatasi Kemiskinan”. Program yang dijalankan mahasiswa mencakup lima bidang, yakni kesehatan, ekonomi, sosial, pemerintahan desa, dan lingkungan.
Kelima bidang tersebut dikembangkan berdasarkan persoalan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing lokasi KKN. Dengan demikian, program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan selama mahasiswa berada di desa, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan KKN. Masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi menjadi mitra mahasiswa dalam mengenali persoalan, menentukan kebutuhan, hingga menjalankan berbagai program.
Pola tersebut diharapkan membuat program yang dirintis mahasiswa lebih sesuai dengan kondisi masyarakat serta memiliki peluang untuk dilanjutkan setelah masa KKN berakhir.
Mewakili Rektor Unsoed, Widhiatmoko Herry Purnomo menyampaikan bahwa KKN memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa karena mereka dapat belajar langsung di luar ruang kelas. Interaksi dengan warga juga memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai dinamika serta kebutuhan pembangunan di tingkat desa.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, para kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat yang telah menerima dan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Kepedulian, gotong royong, dan dukungan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa,” katanya.
Ia menegaskan, berakhirnya masa KKN tidak harus menjadi akhir dari hubungan antara Unsoed dengan masyarakat dan pemerintah desa di Purbalingga.
Menurutnya, Unsoed tetap membuka ruang untuk kerja sama lanjutan dengan desa yang membutuhkan pendampingan. Sumber daya akademik serta berbagai pusat studi yang dimiliki Unsoed dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan potensi dan penyelesaian persoalan di masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat terus berkembang setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Program yang berangkat dari kebutuhan warga dan potensi masing-masing desa dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak jangka panjang. Dengan demikian, manfaat KKN tidak berhenti pada selesainya masa pengabdian mahasiswa, tetapi dapat terus dikembangkan masyarakat untuk memperkuat kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan warga.











