Kilas

Ketika 1.254 Anak Banyumas Memutuskan Kembali ke Sekolah, Harapan Itu Ternyata Belum Hilang

×

Ketika 1.254 Anak Banyumas Memutuskan Kembali ke Sekolah, Harapan Itu Ternyata Belum Hilang

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di luar sana, kita sering mendengar cerita tentang anak-anak yang putus sekolah. Sebagian karena ekonomi keluarga yang tidak baik-baik saja. Sebagian lagi karena harus membantu orang tua bekerja. Ada yang kehilangan semangat belajar, ada pula yang merasa sekolah tidak lagi relevan dengan hidup yang sedang mereka jalani.

Karena itulah, kabar bahwa 1.254 anak di Banyumas menyatakan bersedia kembali melanjutkan pendidikan sebenarnya layak mendapat perhatian lebih besar daripada sekadar angka dalam laporan pemerintah.

Angka tersebut muncul dari upaya penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyumas hingga akhir Mei 2026. Dari proses pendataan, verifikasi, hingga pendampingan yang dilakukan lintas sektor, lebih dari 72 persen data anak tidak sekolah usia 6 sampai 18 tahun telah berhasil ditangani.

Di balik angka 1.254 itu, sesungguhnya ada ribuan cerita yang berbeda-beda.

Ada anak yang mungkin pernah merasa sekolah bukan lagi tempatnya. Ada yang sempat memilih bekerja karena keadaan. Ada yang harus berhenti karena persoalan keluarga. Ada pula yang perlahan kehilangan arah ketika teman-temannya terus melaju ke jenjang berikutnya sementara dirinya tertinggal.

Kembali ke sekolah bagi mereka bukan sekadar kembali duduk di bangku kelas. Itu adalah keberanian untuk memulai lagi.

Dalam rapat koordinasi progres penanganan ATS yang digelar di Pendopo Si Panji Purwokerto pada 9 Juni 2026, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengingatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai. Sebab masih ada anak-anak lain yang masih dalam proses pendampingan, sementara ribuan data lainnya masih harus diverifikasi untuk memastikan bentuk intervensi yang tepat.

Pernyataan itu penting karena persoalan anak tidak sekolah memang jarang berdiri sendiri. Penyebabnya sering kali saling bertaut: ekonomi, lingkungan keluarga, akses pendidikan, kondisi sosial, hingga kesehatan mental anak.

BACA JUGA  Perpusnas: Literasi Kunci Mewujudkan Masyarakat Berpengetahuan dan Berkarakter

Karena itu, menyelesaikan masalah ini tidak cukup hanya dengan mendata nama dan alamat. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk mendengarkan cerita di balik setiap anak yang tidak lagi datang ke sekolah.

Pemerintah boleh memiliki aplikasi, data, dan sistem. Banyumas bahkan telah mengembangkan SIPATAS sebagai instrumen untuk memetakan kondisi anak tidak sekolah secara lebih rinci. Namun pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan program semacam ini tetaplah manusia-manusia yang mau hadir di lapangan: guru, perangkat desa, relawan, pendamping, dan keluarga.

Mereka yang bersedia mengetuk pintu rumah warga, bertanya mengapa seorang anak berhenti sekolah, lalu membantu mencarikan jalan keluar.

Sebab pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas. Pendidikan adalah tentang memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk bermimpi.

Dan ketika 1.254 anak Banyumas memutuskan kembali ke sekolah, itu berarti ada 1.254 mimpi yang berhasil diselamatkan.

Mungkin jumlah itu belum sempurna. Masih ada pekerjaan besar yang menunggu. Namun di tengah berbagai kabar yang sering membuat kita pesimistis terhadap masa depan pendidikan, angka tersebut setidaknya memberi satu pesan sederhana: harapan itu ternyata belum hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *