BANYUMASMEDIA.COM – Ada satu nasihat yang mungkin pernah didengar banyak orang sejak kecil: “Kalau bisa sembuh pakai jamu, ngapain minum obat?”
Kalimat sederhana itu hidup dari generasi ke generasi. Dari dapur rumah, warung tradisional, hingga para penjual jamu gendong yang dahulu berkeliling kampung sambil membawa botol-botol kaca berisi ramuan berwarna cokelat dan kuning keemasan.
Di Jawa Tengah, jamu bukan sekadar minuman. Ia sudah menjadi bagian dari budaya. Orang masuk angin minum wedang jahe. Badan pegal minum jamu. Habis melahirkan minum jamu. Bahkan kini jamu mulai naik kelas menjadi minuman yang disajikan di kafe-kafe modern dengan kemasan yang lebih estetik.
Karena itu, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan program Indonesia Sadar Jamu Aman (Idaman) dan menunjuk lima daerah di Jawa Tengah sebagai proyek percontohan, kabar tersebut semestinya menjadi angin segar bagi para pecinta jamu.
Lima daerah yang terpilih meliputi Purworejo, Sukoharjo, Pati, Surakarta, dan Kota Semarang. Menurut Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, Jawa Tengah dipilih karena memiliki kekayaan tanaman herbal yang melimpah dan budaya minum jamu yang masih terjaga hingga hari ini.
Namun di balik optimisme itu, BPOM juga membawa kabar yang cukup mengusik. Sepanjang tahun 2025, BPOM melakukan pengujian terhadap 11.654 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan. Hasilnya, sebanyak 206 produk terbukti mengandung bahan kimia obat.
Bagi masyarakat awam, angka itu mungkin terdengar biasa saja. Namun jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, artinya cukup sederhana: masih ada jamu yang dijual sebagai produk herbal alami, tetapi di dalamnya diam-diam dicampur bahan kimia yang seharusnya hanya boleh digunakan dalam obat-obatan tertentu.
Di sinilah paradoks dunia perjamuan Indonesia muncul. Banyak orang memilih jamu karena ingin sesuatu yang alami. Mereka ingin menghindari ketergantungan obat kimia, mencari alternatif yang lebih tradisional, atau sekadar melanjutkan kebiasaan yang diwariskan orang tua dan kakek-nenek mereka.
Namun ironisnya, sebagian produk yang mengatasnamakan jamu justru mencoba menjadi obat dengan jalan pintas.
Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang jamu pegal linu yang efeknya luar biasa cepat. Baru diminum beberapa saat, badan langsung terasa ringan. Nyeri sendi seketika hilang. Tubuh mendadak segar seperti habis tidur delapan jam.
Bagi sebagian orang, efek seperti itu dianggap bukti bahwa jamunya manjur. Padahal, justru di situlah alarm kewaspadaan perlu berbunyi. Sebab karakter jamu tradisional sejak dahulu tidak pernah bekerja seperti sulap. Khasiatnya hadir secara bertahap. Ia membantu tubuh berproses, bukan memberikan efek instan yang terasa berlebihan.
Karena itu, ketika ada produk herbal yang efeknya terlalu cepat, terlalu kuat, dan terlalu sempurna, masyarakat perlu mulai bertanya: apakah yang bekerja benar-benar rempah-rempahnya, atau ada bahan lain yang diam-diam diselipkan di dalamnya?

Temuan BPOM menunjukkan persoalan tersebut masih cukup serius.
Selain menemukan ratusan produk yang mengandung bahan kimia obat, patroli siber BPOM juga menemukan lebih dari 39 ribu penjualan obat bahan alam ilegal atau tidak memenuhi ketentuan. Di wilayah Semarang, BPOM turut menemukan ribuan produk obat bahan alam yang diduga mengandung bahan kimia obat atau beredar tanpa izin edar.
Temuan-temuan itu tentu menjadi pekerjaan rumah bersama. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan masyarakat, melainkan juga nama baik jamu itu sendiri. Padahal jamu sedang berada dalam momentum yang baik. Sejak UNESCO menetapkan budaya jamu Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2023, jamu tidak lagi dipandang sekadar minuman tradisional. Ia telah menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang diakui dunia.
Di berbagai daerah, jamu mulai dihadirkan dalam bentuk yang lebih modern. Di Solo, Sukoharjo, maupun Semarang, misalnya, jamu kini dapat ditemukan di berbagai kafe dengan penyajian yang lebih menarik bagi generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa jamu masih memiliki masa depan yang panjang.
Namun masa depan itu hanya bisa dijaga jika kepercayaan masyarakat tetap terawat. Karena itu, yang perlu diperangi bukanlah jamunya. Yang perlu diperangi adalah praktik-praktik curang yang memanfaatkan nama besar jamu untuk menjual produk yang tidak aman.
Pada akhirnya, kekuatan jamu bukan terletak pada kemampuannya memberikan efek instan. Justru sebaliknya. Jamu bertahan ratusan tahun karena kesederhanaannya.
Segelas beras kencur tidak pernah menjanjikan keajaiban dalam hitungan menit. Sebotol kunyit asam tidak pernah mengklaim mampu menyembuhkan segala penyakit. Mereka hadir sebagai warisan pengetahuan yang mengajarkan bahwa tubuh membutuhkan proses untuk pulih.
Dan mungkin di tengah zaman yang serba instan seperti sekarang, kesabaran itulah yang justru menjadi khasiat paling berharga dari segelas jamu.











