BANYUMASMEDIA.COM – Ada kalanya seseorang begitu tekun beribadah hingga tanpa sadar merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang pantas mendapat ampunan Allah. Ia melihat orang lain melakukan dosa, lalu merasa dirinya lebih baik. Dari sana, nasihat perlahan berubah menjadi vonis.
Rasulullah SAW pernah menceritakan kisah dua orang laki-laki dari Bani Israil. Salah seorang gemar berbuat dosa, sementara yang lain tekun beribadah. Orang yang tekun beribadah itu berkali-kali melihat saudaranya melakukan dosa dan memintanya berhenti.
Pada suatu hari, ia kembali mendapati saudaranya berbuat dosa. Ia berkata, “Berhentilah!”
Orang yang berbuat dosa itu menjawab, “Biarkan aku bersama Tuhanku. Apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku?”
Ahli ibadah itu kemudian berkata, “Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.”
Allah kemudian mencabut nyawa keduanya. Ketika mereka berkumpul di hadapan Allah, Dia berfirman kepada ahli ibadah tersebut, “Apakah kamu lebih mengetahui tentang Aku? Atau apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?”
Allah kemudian berfirman kepada orang yang berbuat dosa, “Pergilah dan masuklah ke dalam surga dengan rahmat-Ku.” Sementara kepada ahli ibadah itu Allah berfirman, “Pergilah dan bawalah dia ke neraka.”
Abu Hurairah RA berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu perkataan yang membinasakan dunia dan akhiratnya.” (HR Abu Dawud).
Kisah tersebut mengandung pelajaran penting tentang batas antara mengajak kepada kebaikan dan merasa berhak menentukan nasib seseorang di hadapan Allah.
Pertama, kesalehan tidak membuat seseorang memiliki pengetahuan tentang perkara yang menjadi kewenangan Allah. Seberapa tekun pun seseorang beribadah, ia tetap seorang hamba. Ia tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan orang lain, sebagaimana ia juga tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya sendiri.
Karena itu, jangan sampai ibadah melahirkan perasaan lebih suci daripada orang lain. Seseorang yang hari ini terjatuh dalam dosa masih memiliki kesempatan untuk bertobat. Sebaliknya, seseorang yang hari ini tekun beribadah tetap harus menjaga hatinya dari ujub dan kesombongan.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS az-Zumar: 53).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa pintu rahmat Allah tidak semestinya ditutup oleh manusia. Bisa jadi orang yang hari ini tergelincir dalam dosa adalah tetangga, kerabat, murid, kolega, atau orang yang berada di sekitar kita. Jika mereka melakukan kesalahan, tugas kita adalah mengingatkan dan membimbingnya dengan cara yang baik, bukan membuatnya semakin jauh dari Allah.
Rasulullah SAW pun mengajarkan betapa luasnya pintu tobat. Dalam sebuah hadis yang masyhur diceritakan tentang seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Ia kemudian mencari jalan untuk bertobat dan akhirnya menemukan orang yang menunjukkan kepadanya jalan menuju ampunan Allah. Ia meninggalkan tempat yang penuh keburukan dan berusaha menuju lingkungan yang baik hingga kemudian meninggal dalam perjalanan.
Kisah tersebut bukan pembenaran terhadap dosa. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu tobat dan rahmat Allah tidak layak ditutup oleh manusia.
Kita memang diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, nasihat tidak membutuhkan kesombongan. Dakwah tidak membutuhkan perasaan bahwa diri kita lebih suci. Justru semakin seseorang memahami kelemahan dirinya sebagai hamba, semestinya semakin lembut ia ketika mengingatkan orang lain.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa keputusan mengenai seseorang bukan sepenuhnya berada di tangan manusia. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
“Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.” (QS Ali Imran: 128).
Pesan ayat tersebut menegaskan bahwa keputusan akhir tentang seseorang berada dalam kekuasaan Allah. Manusia boleh menasihati, mengingatkan, dan mengajak kepada kebaikan. Namun, manusia tidak mengetahui bagaimana Allah akan mengakhiri kehidupan seseorang.
Di sinilah pentingnya menjaga lisan.
Sering kali kita mudah mengatakan seseorang “tidak akan berubah”, “tidak mungkin diampuni”, atau “pasti masuk neraka”. Padahal, kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang. Rasulullah SAW mengingatkan:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada penutupnya.” (HR al-Bukhari).
Orang yang hari ini bergelimang dosa masih mungkin mendapatkan taufik untuk bertobat. Sebaliknya, orang yang hari ini rajin beribadah tetap harus memohon kepada Allah agar diteguhkan hingga akhir hayat.
Karena itu, ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, mari kita hadir sebagai orang yang menunjukkan jalan pulang. Ingatkan ia kepada Allah, tetapi jangan membuatnya merasa bahwa pintu Allah telah tertutup baginya.
Sebab kita adalah hamba yang sama-sama membutuhkan rahmat-Nya.
Semoga Allah menjaga hati kita dari perasaan paling benar, menjauhkan kita dari kesombongan dalam beribadah, dan menjadikan lisan kita sebagai jalan yang mengantarkan manusia kepada rahmat-Nya, bukan menjauhkan mereka dari-Nya











