BANYUMASMEDIA.COM – Di tengah dunia yang bergerak cepat, notifikasi yang tak henti berbunyi, dan layar gawai yang terus menyita perhatian, manusia sering kehilangan jeda untuk merenung. Padahal, dalam sejarah Islam, ada satu peristiwa agung yang justru mengajarkan makna berhenti sejenak, menengadah, dan menata ulang arah hidup: Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ.
Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukan sekadar perjalanan luar biasa melintasi ruang dan waktu. Ia adalah perjalanan spiritual yang sarat pesan, relevan untuk setiap zaman—termasuk era digital yang kita hidupi hari ini. Allah Swt. berfirman:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.”
(QS. Al-Isrā’: 1)
Pertama, penguatan hubungan dengan Allah melalui shalat.
Isra’ Mi‘raj menghadiahkan shalat sebagai tiang agama, sebagai jalan penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya. Di saat manusia modern lebih sibuk berkomunikasi dengan dunia maya, shalat sejatinya menjadi “mi‘raj” harian—ruang sunyi untuk menumpahkan lelah, kegelisahan, dan harapan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Shalat adalah tiang agama.”
Namun shalat tidak cukup jika hanya menjadi rutinitas gerak. Ia harus hidup, bermakna, dan menghadirkan kesadaran. Shalat adalah tempat bersandar ketika tekanan hidup terasa semakin berat—bukan sekadar kewajiban yang disegerakan agar selesai.
Kedua, keteguhan iman di tengah ujian.
Isra’ Mi‘raj terjadi pada masa paling gelap dalam hidup Rasulullah ﷺ, ‘Amul Huzni—tahun kehilangan. Istri tercinta Khadijah dan paman pelindung dakwah, Abu Thalib, wafat dalam waktu berdekatan. Justru di titik terendah itulah Allah menghadirkan penghiburan terbesar.
Pesan ini relevan dengan kondisi kita hari ini. Ketika bangsa diuji oleh krisis kepemimpinan, korupsi yang menggerogoti keadilan, hingga bencana alam yang datang silih berganti, iman dituntut untuk tetap tegak. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Ketangguhan seorang mukmin bukan lahir dari hidup tanpa masalah, melainkan dari keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu membawa peluang pertolongan dari Allah.
Ketiga, akhlak dan tanggung jawab sosial—termasuk di dunia digital.
Shalat yang benar seharusnya berbuah akhlak. Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Pertanyaannya, mengapa kemungkaran masih subur meski masjid penuh? Mengapa caci maki, fitnah, dan hoaks justru ramai di ruang digital, bahkan dilakukan oleh mereka yang mengaku beriman? Barangkali karena shalat belum benar-benar meresap ke dalam jiwa.
Jika shalat kita hidup, maka lisan dan jari-jemari pun akan terjaga. Media sosial tidak lagi menjadi ladang dosa, melainkan ruang dakwah dan penyebar kebaikan. Keshalihan hari ini tidak hanya diuji di atas sajadah, tetapi juga di balik layar gawai.
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa iman harus berdampak: menenangkan hati, menguatkan mental, dan memperindah akhlak. Ia bukan peristiwa untuk dikenang setahun sekali, tetapi nilai yang perlu dihidupkan setiap hari—di masjid, di jalan, dan di dunia digital yang kita tempati.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga shalat, meneguhkan iman, dan memancarkan akhlak Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kehidupan.
Penulis: Ust. Sulkhan Zaenuri, Lc., MA.
Disunting oleh: Redaksi banyumasmedia.com











