HikmahRamadan

Maafkan Kami, Ramadan

×

Maafkan Kami, Ramadan

Sebarkan artikel ini
sumber foto: pexels-urlapovaanna

BANYUMASMEDIA.COM – Ramadan hampir sampai di ujung perjalanannya. Hari-hari ini kita memasuki fase yang paling sunyi sekaligus paling berharga: hari-hari terakhir dari bulan yang penuh anugerah.

Bulan yang begitu istimewa. Bulan yang menjadikan waktu terasa berbeda. Siang harinya dipenuhi dengan ibadah puasa, sementara malamnya dihiasi dengan salat, doa, dan bacaan Al-Qur’an.

Namun pada titik ini, sering kali muncul satu perasaan yang diam-diam mengendap di hati orang beriman: rasa khawatir. Khawatir jika Ramadan yang kita jalani ternyata belum benar-benar seperti yang seharusnya.

Sebab Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah bulan yang menghadirkan kesempatan besar bagi manusia untuk mendekat kepada Allah. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali dalam hidup seseorang.

Siang hari Ramadan adalah waktu menahan diri. Menahan lapar, menahan dahaga, dan menahan berbagai hal yang membatalkan puasa. Tetapi lebih dari itu, puasa sebenarnya adalah latihan kejujuran hati.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah yang sangat mendalam maknanya. Hadis ini dicatat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:

“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Para ulama menjelaskan bahwa puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Sebab puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi. Tidak semua orang bisa melihatnya. Tidak semua orang tahu kualitasnya. Orang bisa saja terlihat berpuasa di hadapan manusia, tetapi yang benar-benar mengetahui kejujurannya hanyalah Allah. Karena itu puasa selalu berkaitan dengan keikhlasan.

Namun ketika Ramadan hampir berakhir seperti sekarang, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: sudahkah puasa kita benar-benar sampai kepada Allah? Atau jangan-jangan kita hanya menahan lapar, tetapi belum benar-benar menjaga hati.

BACA JUGA  Terjebak Macet Saat Mudik? Begini Cara Salat Tanpa Harus Turun dari Kendaraan

Ramadan sebenarnya datang membawa banyak kemuliaan. Bahkan Allah sendiri memuliakan ibadah yang ada di dalamnya. Siang harinya dipenuhi dengan puasa. Malamnya dipenuhi dengan salat dan doa. Malam-malam Ramadan adalah malam yang dinanti oleh orang beriman. Malam ketika masjid menjadi lebih hidup. Lantunan Al-Qur’an terdengar lebih sering. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih sungguh-sungguh.

Namun tidak sedikit pula dari kita yang menjalani Ramadan dengan setengah hati. Salat yang terburu-buru. Tilawah yang jarang. Tarawih yang sesekali saja.

Lalu tanpa terasa Ramadan hampir selesai.

Di titik inilah, barangkali yang paling tepat kita ucapkan adalah sebuah pengakuan yang jujur: maafkan kami, Ramadan.

Maaf jika kami belum menyambutmu dengan sebaik-baiknya.
Maaf jika hari-harimu tidak selalu kami isi dengan ibadah terbaik.
Maaf jika masih banyak waktu yang terlewat begitu saja.

Bagi orang-orang beriman, perpisahan dengan Ramadan sering kali terasa seperti berpisah dengan seorang tamu yang sangat mulia. Tamu yang membawa banyak hadiah, tetapi kita belum sempat membuka semuanya.

Sementara itu, di hadapan kita masih tersisa malam-malam terakhir Ramadan. Malam-malam yang sangat berharga. Di antara malam-malam itulah terdapat kemungkinan hadirnya Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Maka Ramadan belum benar-benar pergi. Kesempatan masih terbuka.

Masih ada waktu untuk memperbaiki niat.
Masih ada waktu untuk memperbanyak doa.
Masih ada waktu untuk kembali duduk bersama Al-Qur’an.

Sebab mungkin yang Allah lihat bukan seberapa sempurna ibadah kita, tetapi seberapa tulus kita kembali kepada-Nya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *