BANYUMASMEDIA.COM – Bulan Muharram menempati posisi istimewa dalam kalender Islam. Selain menjadi awal tahun Hijriah, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan inilah umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk melaksanakan puasa sunah Asyura pada 10 Muharram.
Puasa Asyura bukanlah amalan yang baru dikenal pada masa Rasulullah SAW. Sejak zaman para nabi terdahulu, hari Asyura telah memiliki kedudukan yang istimewa. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa puasa Asyura telah dikenal di kalangan para nabi, bahkan Nabi Nuh AS dan Nabi Musa AS juga melaksanakannya.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa puasa Asyura merupakan ibadah yang memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi kenabian. Karena itulah Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap pelaksanaannya.
Salah satu keutamaan terbesar puasa Asyura adalah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa setahun yang telah lalu. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Aku berharap kepada Allah agar puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.”
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan seorang muslim, selama ia menjauhi dosa-dosa besar dan melaksanakan puasanya dengan penuh keimanan serta keikhlasan.
Lalu mengapa puasa Asyura menghapus dosa satu tahun, sementara puasa Arafah disebut dapat menghapus dosa dua tahun?
Syekh Abu Bakr Syatha ad-Dimyathi menjelaskan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan lebih karena merupakan ibadah yang secara khusus terkait dengan syariat Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Adapun puasa Asyura telah dikenal sejak masa Nabi Musa AS. Meski demikian, puasa Asyura tetap termasuk salah satu puasa sunah paling utama yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Selain puasa pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya berpuasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW berkeinginan untuk berpuasa pada hari kesembilan agar berbeda dengan praktik kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Para ulama menyebutkan sedikitnya tiga hikmah dianjurkannya puasa Tasu’a bersamaan dengan puasa Asyura. Pertama, untuk menyelisihi tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura. Kedua, agar puasa Asyura tidak dilakukan secara sendirian. Ketiga, sebagai bentuk kehati-hatian dalam penentuan tanggal 10 Muharram sehingga terhindar dari kekeliruan.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus. Dengan cara tersebut, seorang muslim tidak hanya memperoleh keutamaan puasa Asyura, tetapi juga menjalankan sunnah Rasulullah SAW secara lebih sempurna.
Di tengah kesibukan dan berbagai aktivitas duniawi, hadirnya bulan Muharram menjadi pengingat bahwa Allah SWT senantiasa membuka pintu-pintu kebaikan bagi hamba-Nya. Puasa Asyura adalah salah satu kesempatan berharga itu; sebuah amalan yang diwariskan para nabi, dijanjikan pahala besar, dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bish shawab.
Sumber: mui.or.id











