BANYUMASMEDIA.COM – Beberapa tahun lalu, naik gunung identik dengan aktivitas pecinta alam. Mereka membawa carrier besar, hafal jalur pendakian, dan terbiasa tidur di tengah dinginnya pegunungan. Namun hari ini, gunung telah menjadi ruang yang jauh lebih ramai dan beragam.
Di media sosial, pemandangan matahari terbit dari puncak gunung kerap berseliweran di linimasa. Foto lautan awan, secangkir kopi hangat di ketinggian, hingga unggahan bertajuk healing membuat gunung semakin populer di kalangan anak muda. Bahkan, tidak sedikit yang memilih pendakian model tektok, naik dan turun dalam satu hari demi menikmati suasana alam tanpa harus bermalam.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa gunung kini tidak hanya dipandang sebagai destinasi petualangan, tetapi juga tempat untuk beristirahat sejenak dari kepadatan rutinitas. Ketika pekerjaan menumpuk, tugas kuliah tak kunjung selesai, atau kehidupan terasa terlalu bising, banyak orang memilih mencari ketenangan di lereng dan puncak gunung.
Namun, di balik tren yang terus meningkat itu, ada satu ancaman yang kerap luput dari perhatian para pendaki, terutama mereka yang masih minim pengalaman. Ancaman itu bernama hipotermia.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius. Kondisi ini bukan sekadar rasa dingin biasa, melainkan gangguan serius yang dapat memengaruhi fungsi berbagai organ vital.

Menurutnya, tubuh manusia membutuhkan suhu yang stabil agar seluruh sistem organ dapat bekerja dengan baik. Ketika suhu tubuh mulai turun, fungsi jantung, otot, hingga sistem hormonal ikut terganggu. Dalam kondisi tertentu, tubuh memang berusaha menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil. Namun kemampuan tersebut tidak berlangsung selamanya.
“Pada pendaki yang sudah kelelahan, cadangan glukosa untuk mempertahankan panas tubuh semakin berkurang. Oleh karena itu, kemampuan tubuh melawan suhu dingin juga ikut menurun,” jelas dr. Yusda.
Risiko ini semakin besar ketika pendaki kurang memperhatikan kondisi fisiknya sendiri. Banyak orang berangkat ke gunung dengan persiapan logistik yang matang, tetapi lupa memastikan apakah tubuh mereka cukup kuat menghadapi suhu rendah, angin kencang, hujan, dan kelelahan yang berkepanjangan.
Padahal, hipotermia sering kali datang secara perlahan. Korbannya tidak langsung pingsan atau kehilangan kesadaran. Justru gejala awalnya sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa setelah perjalanan panjang.
Dr. Yusda menjelaskan, seseorang yang mengalami hipotermia biasanya mulai menunjukkan tanda-tanda seperti kebingungan, sulit berkonsentrasi, mengantuk berlebihan, kehilangan orientasi, hingga merasa sangat lemah. Dalam kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran.
Tidak jarang, gejala tersebut dianggap sebagai hal yang wajar oleh sesama pendaki.
“Ketika ada pendaki yang tiba-tiba blank, tersesat, sangat lemas, atau mengantuk berlebihan, kondisi tersebut sebenarnya terjadi karena alasan ilmiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, hipotermia yang tidak segera ditangani dapat memicu gangguan berantai pada berbagai organ tubuh. Fungsi otak menurun, otot semakin melemah, ginjal terganggu, hingga pada kondisi tertentu dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.
Karena itu, meningkatnya minat mendaki gunung seharusnya diikuti dengan peningkatan kesadaran mengenai keselamatan pendakian. Menyiapkan perlengkapan foto, membuat konten media sosial, atau menentukan titik matahari terbit terbaik memang menyenangkan. Namun ada hal yang jauh lebih penting, yakni memastikan tubuh tetap aman selama perjalanan.
Pengetahuan mengenai kondisi cuaca, pakaian yang sesuai, kebutuhan kalori selama pendakian, perlengkapan penghangat tubuh, hingga kemampuan mengenali gejala hipotermia menjadi bekal yang tidak kalah penting dibandingkan peta jalur pendakian.
Gunung memang menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di kota. Udara yang lebih segar, pemandangan yang luas, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat banyak orang kembali pulang dengan pikiran yang lebih ringan.
Namun alam selalu memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia agar tidak meremehkan risiko. Sebab mencari ketenangan di gunung tentu boleh saja, tetapi keselamatan tetap harus menjadi tujuan utama setiap perjalanan.
Sumber: https://www.umy.ac.id/











