Budaya

Desa Sokawera Sambut 1448 H dengan Grebeg Syuro: Gotong Royong NU, Desa, dan Warga

×

Desa Sokawera Sambut 1448 H dengan Grebeg Syuro: Gotong Royong NU, Desa, dan Warga

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H, Desa Sokawera, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, menggelar tradisi Grebeg Syuro pada malam 1 Muharram 1448 H. Acara yang digagas Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama/PRNU Sokawera ini berhasil menarik ribuan warga dan menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong.

Sejak sore, suasana religius dan budaya sudah terasa. Pendopo dan Lapangan Balai Desa Sokawera berkapasitas sekitar 600 orang terisi penuh sesak. Jalan raya di sekitar Balai Desa bahkan sempat mengalami kemacetan total karena membludaknya warga yang ingin menyaksikan prosesi.

Gotong Royong Jadi Kunci Keberhasilan

Ketua Tanfidziyah PRNU Sokawera, Bapak Syaefudin Purwanto,S.Pd., M.Pd., menegaskan kesuksesan acara adalah hasil sinergi:
“Acara Grebeg Syuro ini dapat terlaksana atas inisiatif Pengurus Ranting NU Sokawera serta seluruh Banomnya, dan didukung penuh oleh Pemerintah Desa serta melibatkan seluruh Ketua RT yang tergabung dalam PKRT Desa Sokawera.”

Kepala Desa Sokawera, Bapak H. Badrun, S.E., mengapresiasi antusiasme warga:
“Masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terbukti dengan panjangnya iring-iringan dari tiap Kepala Dusun yang diiringi kesenian khas masing-masing.”

Tiga Manfaat yang Dirasakan Warga

Rangkaian Grebeg Syuro 1448 H dirancang menyentuh spiritual, sosial, dan budaya:

  1. Aspek Spiritual: Gelaran istigasah atau mujahadah bersama demi keselamatan bangsa dan desa.
  2. Aspek Sosial: Pembagian bantuan alat tulis bagi anak-anak TK dan SD se-Desa Sokawera sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan.
  3. Aspek Syukur dan Budaya: Tasyakuran sedekah hasil bumi sebagai rasa syukur atas rezeki dari Allah SWT, serta prosesi Ruwat Desa yang dipimpin Budayawan Muslim Nusantara, Bapak Agus Sukoco.

Meluruskan Makna Tradisi dalam Bingkai Islam

Puncak acara adalah Ruwat Desa. Agus Sukoco menjelaskan makna filosofis ruwatan dan simbolisme gunungan. Ia menegaskan tradisi Jawa tidak bertentangan dengan Islam apabila dipahami esensinya.

BACA JUGA  Nassirun Purwokartun: Banjaran Soedirman Inspirasi Generasi Muda untuk Ambil Peran

“Malam hari ini saya merasa bangga menjadi warga Desa Sokawera, dan pada acara ini saya menemukan jawaban mengapa Allah SWT menakdirkan saya menjadi warga Desa Sokawera,” ungkap Agus Sukoco.

Acara ini juga dihadiri lengkap oleh unsur desa: tokoh masyarakat, tokoh agama, takmir masjid dan musala, Ketua RT, Ketua RW, Kadus, perangkat desa, perwakilan Kantor Penyuluh Pertanian, hingga Kapolsek Padamara yang mengamankan jalannya kegiatan.

Melalui Grebeg Syuro 1448 H, Desa Sokawera tidak hanya menyambut tahun baru Islam dengan khidmat, tetapi juga berhasil merawat warisan budaya bangsa yang bernafaskan nilai-nilai religius melalui semangat gotong royong NU, pemerintah desa, dan seluruh warga.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *