BANYUMASMEDIA.COM – Air minum isi ulang dalam galon menjadi pilihan banyak masyarakat Indonesia. Selain harganya relatif terjangkau, air isi ulang juga mudah diperoleh dan praktis untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari.
Namun, di balik kepraktisan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sederhana: apakah air minum isi ulang selalu aman dikonsumsi?
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Islam Syarifurrahman, mengatakan keamanan air minum tidak semata-mata ditentukan oleh apakah air tersebut berasal dari depot isi ulang atau bukan. Menurutnya, yang lebih penting adalah kualitas air dan bagaimana air tersebut dikelola sejak dari sumber hingga dikonsumsi.
“Dalam kajian kesehatan masyarakat, persoalannya bukan semata-mata pada status ‘air isi ulang’, melainkan pada jaminan mutu air dan seluruh rantai pengelolaannya,” ujar Islam, Kamis (20/8/2026).
Menurut Islam, rantai tersebut meliputi sumber air, proses pengolahan, kondisi peralatan, pengisian ke dalam galon, kebersihan wadah, hingga cara penyimpanan setelah air dibawa pulang.
Dengan kata lain, air yang pada awalnya memenuhi persyaratan tetap dapat mengalami penurunan kualitas jika terjadi kontaminasi dalam salah satu tahapan tersebut.
Risiko Utama Ada pada Kontaminasi Mikrobiologis
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam keamanan air minum adalah potensi kontaminasi mikrobiologis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya pendekatan berbasis risiko dalam pengelolaan air minum, mulai dari sumber air hingga air dikonsumsi masyarakat.
Islam menjelaskan, air yang semula memiliki kualitas baik dapat tercemar selama proses pengolahan, pengisian, maupun penyimpanan.
“Air yang awalnya memenuhi persyaratan dapat mengalami penurunan kualitas apabila terjadi kontaminasi selama proses pengolahan, pengisian, maupun penyimpanan. Risiko utamanya adalah kontaminasi mikrobiologis,” katanya.
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah keberadaan bakteri Escherichia coli atau E. coli dan kelompok Coliform. Menurut Islam, keberadaan bakteri tersebut dapat menjadi indikator adanya persoalan pada kualitas sumber air, proses pengolahan, sanitasi peralatan, higiene operator, maupun penanganan air setelah pengisian.
Karena itu, keamanan air isi ulang tidak cukup dinilai hanya dari tampilan fisiknya. Air yang terlihat jernih belum tentu menunjukkan bahwa seluruh aspek mikrobiologisnya telah memenuhi persyaratan.
Sejumlah penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa kualitas air minum isi ulang dapat berbeda antara satu depot dengan depot lainnya. Kondisi sarana dan proses pengolahan menjadi beberapa faktor yang dapat berkaitan dengan kualitas mikrobiologis air.
Salah satu penelitian di wilayah Ligung, Majalengka, misalnya, melaporkan hampir separuh depot yang diteliti tidak memenuhi persyaratan kualitas mikrobiologis. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antara kondisi peralatan dan proses pengolahan dengan kualitas mikrobiologis air.
Temuan seperti itu tidak berarti seluruh depot air minum isi ulang tidak aman. Justru, menurut Islam, hal tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan dan penerapan higiene sanitasi pada setiap depot.
“Artinya, risiko kesehatan tidak melekat pada konsep air isi ulang itu sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan depot dan penanganan air setelah pengisian,” jelasnya.
Galon dan Peralatan Depot Juga Perlu Diperhatikan
Kualitas air bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kondisi galon dan berbagai peralatan yang digunakan dalam proses pengisian juga dapat memengaruhi keamanan air minum.
Menurut Islam, galon yang tidak dibersihkan dengan baik, mengalami kerusakan, atau mengalami kontaminasi selama proses pengisian dapat menjadi media masuknya mikroorganisme.
Karena itu, proses pembilasan galon sebelum pengisian perlu dilakukan secara higienis. Begitu pula dengan kebersihan keran pengisian, selang, tangki penyimpanan, filter, dan peralatan lain yang digunakan di depot.
Sanitasi peralatan menjadi penting karena proses pengolahan air tidak hanya bergantung pada kualitas air yang masuk. Peralatan yang kurang terjaga kebersihannya justru dapat menjadi salah satu titik terjadinya kontaminasi.
Hal yang sama berlaku setelah air dibawa pulang.
Air yang memenuhi persyaratan ketika meninggalkan depot belum tentu memiliki kualitas yang sama setelah disimpan selama beberapa hari di rumah. Cara menempatkan dan menangani galon dapat memengaruhi kemungkinan terjadinya kontaminasi.
Galon sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang bersih dan terlindung dari kotoran maupun kontaminan lain. Tutup dan keran juga perlu dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sumber cemaran.
WHO menempatkan penyimpanan air di tingkat rumah tangga sebagai salah satu titik penting dalam menjaga kualitas mikrobiologis air. Wadah penyimpanan perlu mampu mencegah masuknya kontaminan dari tangan, alat pengambil air, serangga, maupun lingkungan sekitar.
Apa Dampaknya bagi Kesehatan?
Kontaminasi mikrobiologis pada air minum dapat meningkatkan risiko penyakit, terutama penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan seperti diare.
Risiko tersebut menjadi perhatian lebih bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Islam mengatakan keberadaan E. coli dalam air minum merupakan salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan.
“Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikator adanya kontaminasi mikroba yang dapat meningkatkan risiko penyakit menular bagi orang yang mengonsumsinya,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya hanya melihat air dari warna, bau, atau rasa. Aspek mikrobiologis membutuhkan pengelolaan dan pengawasan yang lebih menyeluruh.
Dalam konteks air minum yang memenuhi persyaratan kesehatan, aspek mikrobiologis menjadi salah satu bagian penting yang harus diperhatikan. Air minum yang memenuhi persyaratan harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk persyaratan terkait E. coli dan Coliform.
Bagaimana dengan Kekhawatiran soal BPA?
Selain persoalan mikrobiologis, penggunaan wadah plastik juga kerap menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan Bisphenol A atau BPA.
Islam mengatakan paparan BPA menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena senyawa tersebut dapat berinteraksi dengan sistem hormon atau endokrin.
“Paparan BPA menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena dapat mengganggu fungsi hormon dalam tubuh dan berpotensi memengaruhi sistem endokrin,” katanya.
Meski demikian, persoalan keamanan air isi ulang tidak dapat disederhanakan hanya pada keberadaan bahan tertentu pada wadah. Menurut Islam, risiko kesehatan perlu dilihat berdasarkan jenis kontaminan dan tingkat paparannya.
Untuk air minum, persoalan kontaminasi mikrobiologis tetap menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Karena itu, menjaga kebersihan depot, galon, peralatan pengolahan, proses pengisian, serta penyimpanan di rumah menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan air.
Cara Memilih Depot Air Minum Isi Ulang
Masyarakat yang mengonsumsi air isi ulang tidak perlu serta-merta menganggap semua depot berbahaya. Yang perlu dilakukan adalah lebih selektif dalam memilih depot dan memperhatikan kondisi tempat serta proses pengisian.
Islam menyarankan masyarakat memastikan depot memiliki izin dan memenuhi persyaratan higiene sanitasi. Konsumen juga dapat mengamati kondisi fisik depot sebelum melakukan pengisian.
Kebersihan area pengisian, peralatan, dan kondisi galon dapat menjadi hal yang diperhatikan. Galon yang digunakan sebaiknya tidak dalam kondisi rusak dan perlu dipastikan bersih sebelum diisi.
“Amati area pengisian dan kebersihan peralatan sebelum mengisi air. Hindari depot dengan keran pengisian yang bocor karena area di sekitar mulut pipa dapat menjadi basah dan lembap sehingga berpotensi menjadi tempat tumbuhnya bakteri,” tutur Islam.
Masyarakat juga perlu memperhatikan bagaimana air disimpan setelah sampai di rumah. Galon sebaiknya ditempatkan di tempat yang bersih, tidak mudah terkena kotoran, dan terlindung dari sumber kontaminasi.
Selain itu, kebersihan keran dan bagian mulut galon perlu dijaga. Tangan yang kotor atau benda yang bersentuhan langsung dengan bagian tersebut dapat menjadi salah satu jalur masuknya kontaminan.
Air Isi Ulang Tidak Otomatis Berbahaya
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai aman atau tidaknya air minum isi ulang tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan bahwa air tersebut berasal dari depot.
Menurut Islam, keamanan air ditentukan oleh keseluruhan proses pengelolaannya. Mulai dari kualitas sumber air, proses pengolahan, kondisi peralatan, sanitasi depot, kebersihan galon, proses pengisian, hingga cara air disimpan setelah dibawa pulang.
Artinya, air isi ulang tetap dapat memenuhi persyaratan keamanan apabila seluruh proses tersebut dilakukan dengan baik dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Bagi konsumen, hal yang paling penting bukan sekadar memilih air isi ulang atau tidak, tetapi mengetahui bagaimana air tersebut diproses dan memastikan cara penyimpanannya di rumah tetap higienis.
Sebab, perjalanan air minum tidak selesai ketika galon meninggalkan depot. Keamanan air juga bergantung pada apa yang terjadi setelah galon itu sampai di rumah.
Sumber: https://www.um-surabaya.ac.id/











