Babad BanyumasBanyumasanBudayaLiputan

Begalan Jaka Kaiman: Mempertemukan Dua Warisan Budaya Banyumas

5
×

Begalan Jaka Kaiman: Mempertemukan Dua Warisan Budaya Banyumas

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Sebuah kesenian bisa mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, tetapi pengakuan saja belum tentu membuatnya tetap hidup. Di Banyumas, Begalan masih dikenal sebagai bagian dari tradisi pernikahan adat. Sementara Gubrag Lesung, yang dahulu akrab dengan kehidupan masyarakat agraris, kini semakin jarang dimainkan.

Perbedaan nasib dua kesenian itu menjadi perhatian budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun. Melalui sebuah pementasan bertajuk Begalan Jaka Kaiman, ia ingin mempertemukan keduanya sekaligus mengajak masyarakat kembali mengenali warisan budaya leluhur.

Pementasan tersebut akan digelar pada Sabtu, 26 September 2026, di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Babad Banyumas yang digelar Kang Nass bersama Bale Babad Banyumas.

Begalan dan Pitutur Perkawinan

Begalan merupakan kesenian tradisional Banyumas yang biasa hadir dalam rangkaian upacara pernikahan adat, terutama pada kondisi tertentu berdasarkan urutan kelahiran kedua mempelai, seperti anak sulung dengan anak sulung atau anak bungsu dengan anak bungsu.

Dalam pementasannya, Begalan tidak sekadar menjadi hiburan. Kesenian ini menyampaikan pitutur luhur kepada pasangan pengantin melalui dialog dan berbagai perlengkapan rumah tangga yang memiliki makna simbolis. Di dalamnya tersimpan nasihat tentang kehidupan berumah tangga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Begalan Banyumas telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2018. Namun, menurut Kang Nass, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kisah awal mula tradisi tersebut.

Ketertarikannya terhadap sejarah Begalan bermula ketika ia membaca naskah-naskah Babad Banyumas. Dari penelusurannya, Kang Nass menemukan kisah yang menghubungkan awal mula Begalan dengan pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman.

“Sepertinya belum banyak yang tahu sejarah awal mula adanya tradisi Begalan di Banyumas. Setelah saya baca naskah-naskah Babad Banyumas, ternyata bermula dari pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman. Akhirnya, saya angkat menjadi sebuah pagelaran,” ungkap Kang Nass.

BACA JUGA  Jangkau 109 Ribu Warga, Setya Arinugroho Minta Layanan Dokter Spesialis Keliling Terus Disempurnakan

Penelusuran itulah yang kemudian menjadi dasar gagasan Begalan Jaka Kaiman. Melalui pementasan tersebut, ia ingin membawa kisah dari naskah Babad Banyumas ke ruang pertunjukan yang lebih mudah dinikmati masyarakat.

Gubrag Lesung, dari Sawah ke Panggung

Jika Begalan masih memiliki tempat dalam tradisi pernikahan, Gubrag Lesung menghadapi tantangan yang berbeda. Kesenian ini tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris, ketika lesung dan alu menjadi bagian penting dari aktivitas mengolah hasil panen.

Sebelum mesin penggiling padi digunakan secara luas, lesung dipakai untuk menumbuk padi menjadi beras. Dalam aktivitas itu, bunyi alu yang beradu dengan lesung membentuk irama yang kemudian menjadi hiburan tersendiri. Para petani menumbuk padi sambil berdendang, menjadikan pekerjaan sehari-hari sebagai ruang untuk menciptakan musik bersama.

Namun, ketika mesin penggiling padi mulai menggantikan fungsi lesung sekitar 1980-an, banyak lesung tak lagi digunakan. Sebagian dihancurkan atau dijadikan kayu bakar karena dianggap tidak lagi memiliki manfaat. Peralatan yang dahulu umum dijumpai di rumah-rumah masyarakat perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari.

Gubrag Lesung pun semakin jarang dimainkan. Padahal, kesenian ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2020.

Kondisi tersebut mendorong Kang Nass untuk mencari lesung yang masih tersisa. Sejak 2019, ia berkeliling ke sejumlah desa di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Setelah berhasil mendapatkan tiga buah lesung, ia mengajak para tetangganya untuk kembali memainkan kesenian tersebut.

Kelompok Gubrag Lesung yang dibentuknya diberi nama Pangastawa. Kang Nass menjelaskan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Jawa Kawi yang bermakna berdoa, memohon, dan berharap.

“Dengan nama Pangastawa sebenarnya saya sedang mengajak para pelakunya untuk terus berdoa, memohon, dan berharap datangnya kebaikan dan kebahagiaan. Kalau dulu gubrag lesung dimainkan untuk melepas lelah setelah bekerja di sawah, sekarang menjadi hiburan di tengah himpitan beban kehidupan,” jelasnya.

BACA JUGA  Tingkatkan Literasi Kesehatan, Warga Desa Muntang Ikuti Pelatihan Pembuatan Kombucha

Bagi Kang Nass, Gubrag Lesung bukan sekadar bunyi dari alat pertanian masa lalu. Kesenian itu juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kehidupan, sebagaimana Begalan menyampaikan nasihat kepada pasangan yang akan membangun rumah tangga.

Pengakuan Budaya Perlu Diikuti Pelestarian

Kang Nass memandang pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda bukanlah tujuan akhir. Status tersebut perlu diikuti langkah nyata agar kesenian tetap dimainkan, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Saya ingin, gubrag lesung kembali mengalun merdu. Agar tidak sia-sia pengakuan yang telah didapatkan dari pemerintah. Juga supaya tidak sekadar bangga mendapatkan pengakuan, namun tidak dilanjutkan dengan langkah nyata pelestariannya. Semoga Gubragan bisa sederajat dengan Begalan. Dua kesenian Banyumas tersebut sama-sama hidup kembali,” ujarnya.

Melalui Begalan Jaka Kaiman, Kang Nass berusaha membuka ruang bagi dua kesenian tersebut untuk kembali hadir di tengah masyarakat. Begalan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kisah dari Babad Banyumas, sementara Gubrag Lesung diharapkan kembali memperoleh tempat sebagai kesenian yang hidup dan dimainkan.

Pementasan di Desa Mandirancan itu pada akhirnya bukan hanya tentang menghidupkan sebuah cerita lama. Ada harapan agar warisan budaya tidak berhenti sebagai catatan sejarah atau pengakuan administratif, melainkan tetap hadir dalam kehidupan masyarakat Banyumas.

Sebab, sebuah warisan budaya tidak cukup hanya dikenang atau dibanggakan. Ia perlu terus dimainkan, diceritakan, dan diwariskan agar tidak kehilangan tempat di tengah masyarakat yang terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *