Esai

Kemumu di dalam Semak

5
×

Kemumu di dalam Semak

Sebarkan artikel ini
sumber foto: unplash.com

BANYUMASMEDIA.COM – Ingatan kolektif kita sering kali menyimpan frasa lama yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas. Seperti siang itu, ketika berkendara di tengah terik matahari, di antara riuh rendah deru kendaraan di jalan beraspal, sebuah kalimat tiba-tiba melintas begitu saja: “Kemumu di dalam semak …”

Berusaha mengingat maknanya, jemari pun mulai mengetuk papan ketik, menjelajahi dunia maya. Saya menemukan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian dari pantun lama yang dikenal dalam khazanah Melayu dan Nusantara. Kemumu, tumbuhan yang kerap dikaitkan dengan lingkungan bersemak, menjadi pembuka sebuah nasihat tentang ilmu dan kehidupan.

Namun, semakin lama merenungkannya, saya justru merasa bahwa frasa sederhana itu menyimpan ruang tafsir yang lebih luas. Bukankah perjalanan hidup kita sering kali menyerupai kemumu yang tumbuh di tengah semak belukar?

Seni Berdamai dengan Fase Semak Belukar

Dalam perjalanan hidup, kita semua pernah atau mungkin sedang berada di dalam “semak”. Semak menjadi metafora bagi fase kehidupan yang penuh ketidakpastian, rutinitas yang menjemukan, hingga persoalan yang datang bertubi-tubi.

Ia adalah fase ketika pandangan kita terhalang ranting-ranting kecemasan tentang masa depan, ekspektasi orang lain, atau bayang-bayang kegagalan masa lalu.

Berada di dalam semak bisa terasa melelahkan. Kita merasa tersembunyi, tidak terlihat, bahkan terisolasi. Seolah-olah kehidupan sedang berjalan di luar sana, sementara kita masih berkutat dengan persoalan yang tak kunjung selesai.

Di sinilah kemumu menjadi metafora yang menarik. Sebagai tumbuhan yang tumbuh di tengah semak, ia mengingatkan kita bahwa sesuatu yang tidak banyak terlihat bukan berarti tidak sedang bertumbuh.

Kita pun tidak selalu harus mengutuk keadaan yang sedang dihadapi. Ada kalanya, kita perlu menerima bahwa hidup memiliki fase-fase yang tidak nyaman. Fase ketika kita belum menemukan arah, belum memperoleh pengakuan, atau belum sampai pada tujuan yang diimpikan.

BACA JUGA  Senin dan Rasa Syukur

Sebelum melangkah ke ruang yang lebih luas, barangkali kita memang perlu melewati masa-masa ketika pertumbuhan hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Bukan untuk selamanya menetap di dalam semak, melainkan untuk belajar bertahan, mengenali diri, dan menyiapkan langkah berikutnya.

Dari Sampiran Menjadi Isi

Pantun klasik mengenal sampiran dan isi. Sampiran bukan sekadar hiasan pembuka, sebab keindahan pantun justru lahir dari hubungan bunyi, citraan, dan makna yang terjalin di antara keduanya.

Namun, dalam perjalanan hidup, kita terkadang justru terlalu sibuk mengurusi apa yang tampak di luar. Penampilan, validasi media sosial, jabatan, atau penilaian orang lain bisa menyita perhatian hingga kita lupa memeriksa isi kehidupan sendiri.

Salah satu pantun Melayu yang mengandung nasihat tentang ilmu dan ibadah berbunyi:

Kemumu di dalam semak,
Jatuh melayang selaranya.
Meski ilmu setinggi tegak,
Tidak sembahyang apa gunanya.

Pantun tersebut mengingatkan bahwa ilmu yang tinggi perlu disertai pengamalan dan ketaatan beribadah. Dalam renungan saya, nasihat itu juga mengundang pertanyaan yang lebih luas: apa sebenarnya yang sedang kita bangun dalam kehidupan ini?

Ilmu, jabatan, dan harta benda memang dapat menjadi bagian penting dari perjalanan hidup. Namun, semuanya tidak semestinya membuat kita kehilangan kerendahan hati, integritas, dan kepedulian kepada sesama.

Dalam tafsir personal ini, kemumu menjadi pengingat bahwa apa yang tampak dari luar bukanlah keseluruhan diri kita. Ada nilai-nilai yang perlu dirawat di dalam diri, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihatnya.

Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri atau seberapa banyak orang mengenal nama kita. Hidup juga tentang bagaimana kita menjaga nilai, memperlakukan sesama, dan menemukan kedamaian di tengah berbagai keadaan.

BACA JUGA  Memasak: Skill Tambahan yang Wajib Dimiliki Bapak-Bapak

Menembus Rimbunnya Hari Esok

Mengingat kembali kalimat “kemumu di dalam semak” secara tiba-tiba mungkin bukan sekadar nostalgia masa sekolah. Barangkali, ingatan itu menjadi semacam alarm kecil yang mengajak kita berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri.

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, ketika setiap orang seolah dituntut untuk selalu tampil bersinar dan menonjol, ada satu hal yang ingin saya bisikkan: tidak apa-apa jika hari ini kita merasa seperti kemumu yang masih berada di tengah semak yang lebat.

Tidak semua proses harus segera terlihat. Tidak semua perjuangan harus lekas mendapatkan pengakuan. Ada masa ketika bertahan dengan tetap menjaga nilai-nilai diri merupakan pencapaian yang tidak kalah berarti.

Namun, berdamai dengan keadaan bukan berarti menyerah pada keadaan. Kita tetap perlu melangkah, meski perlahan. Tetap berusaha, meski belum tahu kapan hasilnya akan terlihat.

Pada akhirnya, semak kehidupan tidak selalu harus kita tunggu terbuka dengan sendirinya. Ada ranting yang perlu disibak, ada jalan yang perlu dicari, dan ada keberanian yang perlu ditumbuhkan untuk melangkah keluar.

Barangkali, kemumu tidak pernah memilih di mana ia tumbuh. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk memaknai keadaan dan menentukan bagaimana akan menjalaninya.

Sebab, bertumbuh tidak selalu berarti menjadi yang paling tinggi atau paling terlihat. Terkadang, bertumbuh berarti tetap teguh menjaga nilai-nilai diri, bahkan ketika dunia belum sempat menoleh.

Penulis: Tanti Tri Hastuti, S.TP., M.Pd. (Praktisi Pendidikan dan Founder EduTumbuh)

Tag:
Penulis: Tanti Tri HastutiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *