Esai

Membaca Kisah Adi bin Hatim saat Pimpinan Negeri Bikin “Anxiety in This Economy”

×

Membaca Kisah Adi bin Hatim saat Pimpinan Negeri Bikin “Anxiety in This Economy”

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Belakangan ini, membuka media sosial atau membaca portal berita rasanya butuh mental baja. Bagaimana tidak? Setiap detiknya kita selalu disuguhi kabar yang tidak sedap. Kalau bukan soal kebijakan yang bikin dahi mengernyit, ya kelakuan para pembuat kebijakan yang makin hari makin ngadi-ngadi. Rasanya anxiety in this economy itu bukan lagi sekadar bumbu obrolan kopi, tapi sudah jadi menu sarapan wajib yang bikin asam lambung naik.

Di titik lelah dan mental breakdown akibat kelakuan para pimpinan negeri ini, saya punya pelarian tersendiri. Alih-alih menonton video motivasi dari para influencer yang sering kali berjarak lebar dengan isi dompet, saya lebih suka mencari bacaan atau sekadar melihat postingan tentang masa kepemimpinan Islam zaman dulu. Masa-masa kejayaan Islam yang kalau dibaca sekarang, rasanya seperti sedang membaca fiksi saking indahnya.

Salah satu kisah yang sukses membuat saya termenung sekaligus ingin tertawa getir melihat realitas hari ini adalah kisah Adi bin Hatim.

Bagi yang belum familier, Adi bin Hatim ini bukan orang sembarangan. Dia adalah tokoh masyarakat, sosok terpandang di kaumnya. Suatu hari, sesaat setelah ia memutuskan untuk memeluk Islam, ia pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah.

Adi kemudian berkisah:

“Aku berangkat hingga tiba di hadapan Rasulullah di Madinah. Aku masuk menemuinya, sementara beliau berada di masjidnya. Aku memberinya salam, lalu beliau bertanya, ‘Siapa orang ini?’ Aku menjawab, ‘Adi bin Hatim.'”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah tidak lantas menyuruh asisten pribadinya untuk mengecek jadwal audiensi atau meminta Adi membuat proposal resmi terlebih dahulu. Beliau langsung berdiri dan mengajak Adi berjalan menuju rumahnya.

Nah, plot twist yang sebenarnya dimulai di sini.

BACA JUGA  “Orang-Orang Biasa”: Kisah Lugu, Lucu, dan Menggugah dari Pinggiran

Demi Allah, ketika Rasulullah sedang berjalan membawanya, tiba-tiba langkah beliau dihentikan oleh seorang wanita tua yang lemah. Bukan seorang pejabat tinggi, bukan pula pengusaha kaya yang mau menawarkan investasi megaproyek. Cuma seorang wanita tua, rakyat biasa, yang membawa keluhan dan kabar getir tentang kehidupannya.

Dan apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin tertinggi Madinah itu? Beliau berhenti. Beliau mendengarkan keperluan wanita tua itu dengan saksama.

Bukan cuma semenit dua menit untuk kebutuhan dokumentasi foto di media sosial biar kelihatan merakyat, ya. Rasulullah berdiri di sana sangat lama. Begitu lamanya sampai-sampai Adi bin Hatim yang berdiri menunggu di belakangnya mengaku kalau kakinya sampai lelah.

Bayangkan, seorang pemimpin besar yang pengaruhnya megah dan pasukannya ditakuti kekaisaran besar, rela kakinya ikut pegal demi mendengarkan keluh kesah satu orang tua yang tidak punya privilese apa-apa.

Melihat pemandangan ajaib itu, Adi bin Hatim langsung membatin dalam hatinya: “Demi Allah, ini bukanlah seorang raja.” Pemandangan itu pula yang membuat Adi langsung jatuh cinta setengah mati pada akhlak beliau.

Membaca kisah ini di tengah gempuran berita hari ini jelas memicu rasa sesak di dada. Logika kaum mendang-mending seperti kita pasti otomatis membandingkannya dengan realitas birokrasi zaman sekarang.

Hari ini, jangankan mau curhat soal urusan dapur yang makin seret ke pemimpin negeri. Mau sekadar lewat jalan raya saja kita sering kali harus minggir dan menepi lama karena ada rombongan pejabat yang mau lewat lengkap dengan raungan sirine dan kawalan ketat. Jargonnya sih melayani rakyat, tapi praktiknya di lapangan, rakyat yang harus maklum kalau urusannya terhambat demi kenyamanan perjalanan dinas mereka.

BACA JUGA  Ketika Pendiri Bangsa Memberikan Kesadaran: Kehidupan Adalah Bentuk Rahmat Allah

Nanti, kalau di antara kita yang membaca tulisan ini ditakdirkan Tuhan menjadi tokoh besar atau duduk di kursi kekuasaan, mari bawa kembali pemandangan indah dari Madinah ini ke bangsa kita, yuk.

Sebab, esensi dari sebuah kepemimpinan itu bukan tentang seberapa megah panggung seremonial yang bisa kita sewa lewat jasa Event Organizer, melainkan seberapa kuat kaki kita mau bertahan berdiri demi mendengarkan jeritan mereka yang tak punya suara.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *