Esai

Terhubung atau Terputus?

83
×

Terhubung atau Terputus?

Sebarkan artikel ini
Dok. Ulum A Saif

Anak-anak pasti berkesan dengan kehidupan alam raya terkembang. Anak-anak pasti berkesan saat naik gunung. Anak-anak pasti berkesan saat menyusur sungai, menginjak lumpur, memetik buah, memandang hijaunya pepohonan, awan yang mengambang, kebun yang luas.

Pasti berkesan.

Maka, berkegiatannya anak-anak dengan alam raya terkembang bukan untuk membuat mereka merasa terkesan. Tanpa harus diminta pun, mereka pasti akan berkesan. Yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah “Apakah anak merasa terhubung atau terputus dari alam sekitarnya?”

Bagaimana maksudnya?

Semua anak pasti berkesan ketika berada di alam raya kehidupan nyata (being offline). Namun, ada yang berkesan dan terhubung dengan alam sekitarnya, tapi lebih banyak lagi yang berkesan dan terputus dari alam sekitarnya.

Yang berkesan tapi terputus dari alam sekitarnya adalah anak yang merasa alam sekitarnya itu bukan bagian dari kehidupannya. Ia berkesan, tapi ia terpisah dengan gunung, terpisah dengan pantai, terpisah dengan kebun, terpisah dengan pohon, tanah, air, udara. Biasanya, pola pendidikan yang memposisikan anak sebagai “wisatawan” yang membuat anak jadi terputus dari alam sekitarnya.

Mereka berkunjung hanya untuk melihat-lihat, menjadi “tamu”, bukan bagian dari alam itu sendiri. Ini yang sering belum disadari. Ini yang membuat anak terputus dari alam sekitarnya, meskipun berkesan.

Maka, inilah peran orang tua sebagai pendidik anak-anaknya. Didiklah bahwa alam itu bagian dari kehidupannya. Idealnya memang orang tua punya lahan kebun sendiri, punya aktivitas sehari-hari yang melestarikan lahan milik keluarga menjadi agenda kegiatan keluarga sebagaimana mestinya. Itu idealnya.

Jika belum punya lahan sendiri?
Maka, tetap berkunjung ke alam, sambil menjaga kesadaran diri dan anak-anak bahwa ini bukan kunjungan “wisata”, tapi memang alam ini adalah bagian dari hidup kita.

BACA JUGA  Lafran Pane: Menggali Jejak Pemikiran dan Perjuangan dalam "Merdeka Sejak Hati"

Meskipun tetap ada bayar tiket.
Tetap untuk menjaga adab.

Tapi, yakinlah, adab dan tiket terbaik dari kita kepada alam bukan dengan memposisikan diri sebagai tamu wisatawan, melainkan dengan memposisikan bahwa diri ini terhubung dan tak terpisah dengan alam.


Oleh: Ulum A Saif (Founder Sekolah Rumah Tangga)