Kilas

Sampah yang Kita Buang Pagi Ini Belum Tentu Pergi Besok Pagi

×

Sampah yang Kita Buang Pagi Ini Belum Tentu Pergi Besok Pagi

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada satu kebiasaan manusia yang cukup menarik untuk diamati. Kita senang membuang sampah, lalu menganggap urusannya selesai.

Plastik bekas minuman dilempar ke tempat sampah. Kantong kresek dimasukkan ke tong sampah depan rumah. Daun-daun kering disapu ke sudut jalan. Setelah itu kita merasa semuanya beres.

Padahal, sampah tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Sebagian berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Sebagian menyumbat saluran air. Sebagian lagi hanyut menuju sungai dan bermuara di laut. Yang paling menyedihkan, ada juga yang kembali kepada kita dalam bentuk banjir, pencemaran, udara yang semakin buruk, dan lingkungan yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali.

Mungkin karena itulah persoalan sampah selalu terasa seperti pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai.

Kesadaran itulah yang coba diingatkan kembali melalui kegiatan bersih lingkungan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar di Kabupaten Purbalingga, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan dipusatkan di kawasan Sentul Garden Karangsentul, Kecamatan Padamara, dan Rusunawa Kembaran Kulon dengan melibatkan relawan, penghuni rusunawa, komunitas lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Namun sebenarnya, inti dari kegiatan semacam ini bukanlah berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan dalam satu pagi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengubah cara pandang kita terhadap sampah itu sendiri.

Sebab persoalan lingkungan tidak pernah lahir dari satu kantong plastik. Ia terbentuk dari ribuan kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang setiap hari. Dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. Dari anggapan bahwa sampah adalah urusan petugas kebersihan. Dari keyakinan bahwa selama halaman rumah bersih, maka persoalan lingkungan sudah selesai.

Mewakili Bupati Purbalingga, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Kemasyarakatan Tri Gunawan Setiadi mengingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan semata tugas pemerintah. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat untuk mewariskan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA  Banyumas Targetkan Generasi Sehat Lewat CKG

Pesan itu terasa sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting.

Sebab anak-anak kita kelak tidak hanya mewarisi rumah, sawah, kendaraan, atau tabungan. Mereka juga akan mewarisi kualitas lingkungan yang kita tinggalkan hari ini.

Kalau sungai-sungai semakin kotor, mereka yang akan merasakannya. Kalau udara semakin panas akibat perubahan iklim, mereka pula yang akan hidup di dalamnya. Kalau ruang hijau terus berkurang, mereka yang akan kehilangan tempat bermain. Karena itu, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, Saatnya Bekerja untuk Iklim, terasa semakin relevan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Heru Djatmika, menyebut berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ia sudah hadir di sekitar kita hari ini.

Musim yang sulit diprediksi, hujan yang datang lebih ekstrem, suhu udara yang terasa semakin panas, hingga banjir yang semakin sering terjadi adalah sebagian kecil tanda yang mulai kita rasakan bersama. Karena itu, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar.

Kadang ia dimulai dari hal-hal sederhana: membawa botol minum sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah rumah tangga, atau memastikan sampah tidak berakhir di sungai.

Terdengar sepele memang. Tetapi hampir semua persoalan lingkungan yang besar bermula dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Dan mungkin, masa depan bumi juga akan ditentukan oleh hal yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *