BANYUMASMEDIA.COM – Ada satu tempat yang diam-diam sedang menghadapi tantangan besar di era digital ini: perpustakaan. Bukan karena bangunannya sepi atau koleksi bukunya berkurang. Tantangannya jauh lebih rumit. Hari ini, mahasiswa bisa mencari referensi hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Bahkan, tak sedikit yang lebih dulu membuka ChatGPT ketimbang berjalan menuju rak buku.
Di tengah perubahan kebiasaan itu, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah perpustakaan masih relevan? Pertanyaan itulah yang tampaknya coba dijawab oleh Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melalui penyelenggaraan UMP Library Festival 2026. Festival yang digelar pada 20 Mei serta 9–10 Juni 2026 tersebut menjadi cara perpustakaan keluar dari citra lamanya sebagai tempat sunyi yang hanya dipenuhi buku dan meja baca.
Wakil Rektor IV UMP, Assoc. Prof. Akhmad Darmawan, Ph.D., menegaskan bahwa perpustakaan tetap menjadi jantung perguruan tinggi, meski zaman telah berubah.
“Tanpa perpustakaan, perguruan tinggi ini tidak akan maju. Di era digital ini, perpustakaan akan terus berbenah dan adaptif terhadap perubahan teknologi dan informasi,” ujarnya.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan tantangan yang tidak kecil. Sebab, jika dahulu perpustakaan menjadi tujuan utama mahasiswa mencari ilmu, kini ia harus berbagi perhatian dengan beragam platform digital yang menawarkan informasi serba cepat. Karena itulah, perpustakaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan tumpukan buku.

Kepala Perpustakaan UMP, Riski Tri Wisnamawati, S.Hum., melihat perpustakaan masa kini sebagai ruang pengetahuan yang lebih luas. Bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, berdiskusi, hingga memahami berbagai persoalan yang muncul di era digital.
Salah satu contohnya adalah kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto dalam memberikan edukasi mengenai kejahatan finansial digital.
“Perpustakaan itu tidak hanya untuk belajar, cari buku, atau baca saja. Tapi perpustakaan itu memang benar-benar sumber ilmu, sumber pengetahuan yang inklusif dan berdampak. Kita ingin memberikan pengetahuan lebih tentang kejahatan digital, makanya kami bersinergi dengan OJK,” kata Riski.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa tantangan literasi hari ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca buku. Masyarakat juga dituntut mampu memilah informasi, memahami risiko dunia digital, hingga menghindari berbagai modus penipuan yang semakin canggih.
Dalam festival tahun ketiganya ini, UMP menghadirkan berbagai kegiatan yang dekat dengan kebutuhan generasi sekarang. Mulai dari webinar pemanfaatan kecerdasan buatan seperti SciSpace dan QuillBot untuk menunjang penulisan artikel ilmiah, talk show pengelolaan keuangan, kompetisi ulas buku Bibliobattle Competition 2026, hingga diskusi strategi meraih beasiswa bertajuk Unlock Your Future.
Menariknya, suasana festival juga tidak dibuat terlalu formal. Selain agenda akademik, pengunjung dapat menikmati bazar buku, stan UMKM, photobooth, pertunjukan musik, hingga berbagai doorprize yang disiapkan panitia.
Cara seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah era ketika perhatian manusia semakin sulit diperebutkan, perpustakaan tampaknya mulai memahami bahwa mengajak orang datang tidak cukup hanya dengan menyediakan buku yang bagus. Mereka juga perlu menciptakan pengalaman yang menyenangkan.
Pada akhirnya, perpustakaan tidak sedang bersaing melawan teknologi. Mereka justru sedang belajar hidup berdampingan dengannya.
ChatGPT mungkin bisa menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Mesin pencari bisa menemukan ribuan referensi dalam sekejap. Namun perpustakaan masih memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma: kemampuan menghadirkan ruang perjumpaan, ruang diskusi, dan ruang belajar yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.
Dan mungkin, di situlah cara perpustakaan bertahan. Bukan dengan melawan zaman, melainkan dengan ikut berubah bersama zaman.
Sumber: ump.ac.id











