BANYUMASMEDIA.COM – Bagi umat Islam, Rasulullah ﷺ bukan hanya sosok Nabi dan Rasul, tetapi juga teladan dalam setiap gerak kehidupan. Beliau adalah perwujudan nyata nilai-nilai Qur’ani, yang hadir bukan sekadar dalam ucapan, melainkan dalam laku hidup yang nyata. Kehadirannya di tengah kegelapan jahiliyah menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju martabatnya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.
Selama dua puluh tiga tahun dakwah, Rasulullah mengemban misi inqadzun-nas—menyelamatkan manusia dari jurang kehinaan menuju kehidupan mulia. Meski penuh tantangan dan cobaan, beliau berhasil menuntaskan misi itu dengan sempurna. Para sahabat yang ditempa langsung oleh beliau menjadi generasi terbaik (khairu ummah), fondasi kokoh peradaban Islam.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Keberhasilan Rasulullah tidak terlepas dari dua pusaka agung: al-Qur’an dan Sunnah. Beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua hal, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad)
Dari pusaka inilah lahir peradaban agung yang membawa rahmat bagi semesta alam. Namun, ketika umat Islam menjauh darinya, peradaban itu merosot, dan dunia pun kehilangan pijakan moral yang kokoh.
Hari ini, umat Islam dituntut untuk kembali mengambil peran. Menegakkan kembali nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah, menelaah perjalanan hidup Rasulullah, serta menapaki jejak perjuangan beliau dalam membangun masyarakat yang berkeadaban. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Ma’idah: 3)
Ayat ini menjadi bukti bahwa risalah Rasulullah telah paripurna. Kini, tugas umatnya adalah melanjutkan perjuangan itu: menghadirkan kembali Islam sebagai solusi bagi problem kemanusiaan, menjadikannya sumber inspirasi peradaban, dan meneguhkan ukhuwah yang diridhai Allah.
Meneladani Rasulullah bukan sekadar mengenang, tetapi juga menelusuri jejak perjuangan beliau. Dengan itu, kita dapat menyusun kembali peradaban umat yang tercerai-berai, menghadirkan Islam sebagai rahmat yang menenteramkan, sekaligus bekal menuju akhirat yang abadi.
(Sumber: Khutbah Jumat Ikadi DIY, Ustadz Deden A. Herdiansyah, M.Hum.)











