BANYUMASMEDIA.COM – Liburan semester. Waktu di mana para orang tua mulai bingung, anak-anak mulai bosan, dan rasanya pertanyaan ini logis muncul, “Liburan ini enaknya ke mana ya.” Kalau belum tahu, saya sarankan satu destinasi yang murah meriah, dan mendidik: Bazar Buku Out of the Boox.
Bazar ini sedang berlangsung di Gedung IPHI Purwokerto, sejak 20 Juni dan akan terus buka sampai 14 Juli 2025. Gratis masuk, buka dari pukul 09.00 sampai 21.00 WIB, setiap hari. Iya, setiap hari. Mau datang pagi-pagi buat ngadem sambil milih buku? Bisa. Mau sorean bareng anak-anak habis beli es krim di sekitar Menara Pandang Teratai, Boleh banget. Atau, datang sendirian pas malam buat menenangkan diri dari hiruk pikuk siang? Sangat direkomendasikan.
Saya sendiri mengunjungi bazar ini pada Kamis, 26 Juni. Masuk ke dalam gedungnya seperti masuk ke waktu yang melambat. Tumpukan buku di mana-mana, dari novel remaja sampai buku parenting, dari sejarah nasional sampai kisah detektif internasional. Buku anak, buku dewasa, dengan harga yang beragam dan insyaAllah masih membuat dompet lega.
Yang bikin haru: banyak anak-anak datang dan memilih bukunya sendiri. Tidak sedikit yang berseri-seri memeluk buku barunya seperti baru dapat mainan. Momen itu menyadarkan saya bahwa liburan anak sekolah tidak harus selalu diisi dengan wisata kolam renang atau mal. Wisata buku seharusnya masuk top list agenda keluarga.
Buku fisik itu seperti sahabat lama. Di tengah gegap gempita dunia digital, ia tetap sabar menunggu, tidak minta update, tidak minta login, tidak lemot. Dan, diam-diam, dunia mulai sadar bahwa buku cetak tidak bisa sepenuhnya digantikan.
Contohnya Swedia, negara yang biasanya dipuja-puja sebagai kiblat pendidikan digital, baru-baru ini memutuskan putar balik. Setelah 15 tahun menerapkan sistem pembelajaran digital di sekolah, pemerintah Swedia memutuskan untuk kembali menggunakan buku cetak. Alasannya sederhana dan jujur: terlalu banyak anak yang sekarang susah fokus, kemampuan membaca dan menulis menurun, dan layar tidak bisa menggantikan pengalaman membaca dari kertas.
Pemerintah Swedia bahkan mengalokasikan sekitar 1,7 triliun rupiah untuk menyediakan buku cetak dan mengkampanyekan come back ini secara nasional. Bukan main-main. Ini seperti seorang selebgram yang tiba-tiba menutup akun dan kembali ke dunia nyata karena sadar, “Oh ternyata yang saya butuhkan cuma ngobrol dan baca buku.”
Negara tetangga kita, Malaysia, juga tidak main-main dalam urusan literasi. Mereka punya kebijakan unik: pelajar dan guru diberi voucher buku, sementara masyarakat umum yang beli buku bisa mendapat pemotongan pajak. Bayangkan, beli buku lalu bisa dipakai buat ngeklaim pajak tahunan. Ini bukan cuma dukungan simbolik, ini konkret dan terasa langsung. Pemerintah Malaysia paham betul: buku bukan sekadar barang, tapi investasi peradaban.
Kita mungkin belum sampai ke titik seperti Swedia yang reflektif, atau Malaysia yang insentif. Tapi bazar buku seperti Out of the Boox ini seharusnya jadi pengingat. Bahwa buku fisik masih penting, bahwa membangun kebiasaan membaca tetap relevan, dan bahwa liburan bisa jadi ruang untuk menyuburkan budaya literasi.
Jadi, kalau minggu ini Anda masih mikir mau ngajak anak ke mana, coba arahkan stir ke Gedung IPHI. Ajak anak, ajak pasangan, ajak keponakan. Atau ajak diri sendiri saja dulu, biar tenang. Karena di antara ribuan halaman dan deretan rak, bisa jadi Anda bukan hanya menemukan buku bagus, tapi juga jeda dan makna. [asr]











