BANYUMASMEDIA.COM – Upaya meningkatkan kesadaran petani terhadap bahaya paparan pestisida dilakukan melalui kegiatan pelatihan dan penyuluhan pembuatan masker berbahan karbon aktif dan ekstrak daun bidara di Desa Karangmangu, Kabupaten Banyumas, Senin (12/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti para petani dan masyarakat desa setempat dengan antusias. Selain edukasi kesehatan, peserta juga mendapat pelatihan praktik pembuatan masker sederhana sebagai alat filtrasi paparan pestisida.
Acara dibuka oleh Kepala Desa Karangmangu yang menekankan pentingnya perlindungan kesehatan bagi petani sebagai pelaku utama sektor pertanian.
Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inovasi pemanfaatan bahan lokal yang dinilai dapat membantu mengurangi risiko kesehatan akibat penggunaan pestisida.
Materi pertama disampaikan oleh Zaeni Budiono mengenai bahaya pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan. Ia menjelaskan, penggunaan pestisida yang tidak sesuai prosedur dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Paparan pestisida, kata dia, dapat masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, kulit, maupun pencernaan. Dampaknya antara lain pusing, mual, iritasi kulit, gangguan pernapasan, hingga penurunan aktivitas enzim cholinesterase akibat paparan bahan kimia berlebih.
“Paparan bahan kimia secara terus-menerus dapat berdampak serius bagi kesehatan petani,” jelasnya.
Karena itu, petani diimbau lebih memperhatikan aspek keselamatan kerja saat melakukan penyemprotan.
Sementara itu, Fauzan Ma’ruf menyampaikan materi mengenai hubungan paparan pestisida dengan risiko gangguan fungsi ginjal serta pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD).
“Penggunaan APD seperti masker, sarung tangan, pakaian pelindung, dan sepatu kerja menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko masuknya zat berbahaya ke dalam tubuh,” ujarnya.
Peserta juga diberikan edukasi mengenai tata cara penggunaan APD yang benar agar perlindungan terhadap paparan pestisida lebih optimal.

Pada sesi berikutnya, Nurul Amaliyah memperkenalkan pemanfaatan karbon aktif dan ekstrak daun bidara sebagai bahan filtrasi masker.
Menurutnya, karbon aktif memiliki kemampuan adsorpsi tinggi untuk membantu menyaring partikel dan senyawa kimia di udara. Sedangkan daun bidara mengandung senyawa alami seperti flavonoid dan antioksidan yang berpotensi memberikan manfaat protektif bagi kesehatan.
Dalam sesi praktik, peserta diajarkan cara membuat masker berbahan karbon aktif dan ekstrak daun bidara dengan metode sederhana yang mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Para petani tampak aktif mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari persiapan bahan hingga cara penggunaan masker saat bekerja di area pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap kesadaran petani terhadap pentingnya keselamatan kerja semakin meningkat, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan lokal yang ekonomis dan mudah diperoleh.
“Apa yang telah diperoleh hari ini semoga bisa diaplikasikan oleh para petani sebagai upaya pencegahan penyakit akibat paparan pestisida,” ujar Nurul Amaliyah.











