LiputanRagam

Mendaki Gunung, Mendidik Karakter Anak

×

Mendaki Gunung, Mendidik Karakter Anak

Sebarkan artikel ini
sekolah petualang

BANYUMASMEDIA.COM – Keimanan itu tidak diuji di ruang nyaman. Ia teruji saat tubuh lelah, hati jenuh, dan kondisi tidak bisa dikendalikan. Salah satu ruang ujian itu adalah jalur pendakian gunung, sebuah tempat yang diam-diam mengembalikan manusia pada dirinya yang paling jujur.

Bagi Mukhamad Kholik, seorang praktisi pendidikan sekaligus pegiat pendidikan berbasis fitrah, mendaki gunung bukan semata kegiatan petualangan, tapi juga sarana pembentukan jati diri anak-anak menuju kedewasaan sejati.

“Naik gunung adalah salah satu metode pendidikan untuk menempa karakter anak menuju dewasa (aqil baligh) yang sesungguhnya.” terang, Kang Kholik.

Kang Kholik bercerita lebih dalam tentang bagaimana pengalaman mendaki bisa menjadi cermin keimanan dan ketahanan mental anak-anak.

“Sering kali anak-anak yang sudah dibekali banyak teori, latihan fisik, perlengkapan lengkap, itu merasa sudah siap. Tapi ketika bertemu jalur ekstrem, kabut, hujan, dingin, dan rasa capek yang luar biasa, di situlah sifat asli mereka muncul. Dan biasanya, keimanan juga ikut terbaca.” lanjutnya lagi.

Di jalur yang menanjak, saat tenaga terkuras dan suasana tidak seperti ekspektasi, anak-anak mulai bereaksi secara spontan. Yang selama ini ibadahnya dilakukan karena kebiasaan, mulai ragu dan mengeluh. Tapi anak yang punya kesadaran keimanan yang tumbuh secara fitrah, justru akan lebih mudah kembali kepada Allah dengan istighfar, dengan doa lirih, dengan tenang dan sabar.

“Ada anak yang terlihat santun di rumah, tapi di jalur gunung malah mengumpat. Ada anak yang terlihat kuat, tapi menitipkan beban ke temannya agar bisa berjalan ringan. Semua keluar di momen-momen itu,” kata Kang Kholik.

Namun bukan hanya soal ibadah. Karakter anak-anak juga tampak dari bagaimana mereka berinteraksi dengan tim. Anak-anak yang terbiasa dilayani di rumah, biasanya tampak kesulitan memasak, mendirikan tenda, atau mengambil peran dalam kerja tim. Sebaliknya, mereka yang sejak kecil dilatih mandiri, menyapu, mencuci, memasak akan lebih sigap dan tahan banting.

BACA JUGA  Endemik yang Epik: Maleo dan Telur Besar

Ia meyakini, naik gunung adalah proses pendidikan karakter yang sangat efektif. Tak hanya membentuk daya tahan fisik, tapi juga menguatkan adab, tanggung jawab, kerja sama, dan keimanan yang utuh.

Sebagai pendidik, Kang Kholik tidak sekadar mengajak anak naik gunung untuk keren-kerenan. Baginya, pendakian adalah latihan menjadi manusia dewasa. Bukan dewasa karena usia, tapi dewasa karena mampu mengendalikan diri, memahami keterbatasan, dan terus terhubung kepada Sang Pencipta bahkan dalam kondisi paling sulit.

Gunung, pada akhirnya, bukan tujuan. Ia adalah proses. Dan dalam proses itu, anak-anak bisa belajar tentang kehidupan, dari jalur licin, dari udara tipis, dari tenda yang bocor, dan lainnya.

Namun justru di situlah pelajaran paling dalam hadir: bahwa menjadi manusia sejati tidak cukup dengan kuat fisik. Harus ada kesadaran, tanggung jawab, dan keimanan yang tumbuh, pelan-pelan, seperti langkah kaki yang naik menembus kabut.

“Jadi naik gunung adalah salah satu metode pendidikan untuk menempa karakter anak menuju dewasa (Aqil Baligh) yang sesungguhnya,” pungkasnya. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *