BANYUMASMEDIA.COM – Ada amal yang tampak besar di mata manusia, namun ringan di sisi Allah. Ada pula amal yang terlihat sederhana, tetapi menjulang nilainya di langit. Pembeda di antara keduanya bukan pada bentuknya, bukan pula pada ramainya tepuk tangan yang menyertai. Pembeda itu bernama niat.
Dalam khazanah Islam, niat bukan sekadar lintasan hati. Ia adalah fondasi. Tanpanya, ibadah hanya menjadi rutinitas; dengannya, setiap gerak menjadi persembahan. Para ulama menegaskan bahwa niat adalah ruh amal. Tanpa ruh, jasad tak bernyawa. Tanpa niat yang lurus, ibadah kehilangan maknanya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Hadis ini menjadi pembuka dalam banyak kitab, termasuk karya monumental Imam Imam Bukhari. Para ulama meletakkannya di awal sebagai penanda: semua kebaikan berawal dari hati.
Menata niat berarti menata arah. Seseorang bisa saja berdiri lama dalam shalat, namun jika hatinya ingin dipuji, maka ia hanya sedang menegakkan tubuh, bukan mendirikan ibadah. Seseorang bisa menulis, mengajar, berdakwah, bahkan berderma, tetapi jika tujuan akhirnya adalah pengakuan, maka amal itu terhenti di dunia.
Di era yang serba terbuka hari ini, ujian niat semakin halus. Amal mudah dipamerkan, kebaikan cepat dipublikasikan, dan tepuk tangan bisa datang dalam hitungan detik. Di sinilah jiwa perlu disiapkan. Sebab yang lebih berat dari memulai amal adalah menjaga kemurniannya.
Menyiapkan jiwa berarti membersihkan hati dari riya, sum’ah, dan ambisi yang tersembunyi. Ia adalah kerja sunyi yang tidak terlihat. Seperti akar pohon yang menancap dalam tanah, tak tampak dari permukaan, tetapi menentukan kokoh tidaknya batang dan rindangnya daun.
Al-Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa orang-orang saleh sangat menjaga niat mereka, bahkan lebih dari menjaga amalnya. Mereka khawatir bukan karena sedikitnya ibadah, melainkan karena cacatnya tujuan.
Maka, sebelum tangan bergerak, hati perlu bertanya: untuk siapa ini dilakukan? Sebelum lisan berbicara, jiwa perlu memastikan: demi siapa kata-kata ini diucapkan? Jika jawabannya adalah Allah semata, maka langkah itu insyaallah bernilai ibadah.
Menata niat juga berarti menyadari bahwa ibadah bukan sekadar ritual formal. Ia adalah proses pembentukan jiwa. Puasa melatih kejujuran batin. Shalat mengajarkan ketundukan. Zakat membersihkan cinta berlebihan pada harta. Semua itu berawal dari niat yang lurus.
Niat yang benar akan melahirkan ketenangan. Sebab seseorang tidak lagi sibuk menunggu penilaian manusia. Ia tidak gelisah ketika tak dipuji, dan tidak goyah ketika tak dihargai. Ia tahu bahwa ada Zat Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada.
Dalam kehidupan sehari-hari, menata niat bukan perkara sekali jadi. Ia perlu diperbarui, bahkan dalam satu hari bisa berkali-kali diluruskan. Ketika hati mulai condong pada selain Allah, saat itulah muhasabah diperlukan.
Kolom hikmah ini mengajak kita untuk kembali pada awal: memperbaiki apa yang tak terlihat sebelum memperindah apa yang tampak. Karena ibadah yang diterima bukan yang paling megah bentuknya, tetapi yang paling jernih niatnya.
Semoga setiap langkah yang kita ayunkan, setiap tugas yang kita tunaikan, dan setiap kebaikan yang kita lakukan, benar-benar menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Bukan sekadar aktivitas, melainkan pengabdian. Bukan hanya rutinitas, tetapi penghambaan.
Dan dari hati yang tertata, lahirlah jiwa yang siap beribadah, dalam sunyi maupun ramai, dalam lapang maupun sempit. [asr]
Penulis: Ust. Evan S. Parusa dengan judul “Menata Niat, Menyiapkan Jiwa dalam Beribadah”
Tulisan ini diadaptasi dan dikembangkan oleh Redaksi Banyumasmedia dari naskah khutbah Jumat yang disampaikan penulis.











