Liputan

Ketika Anak Membaca Dunia Lewat Goresan Kuas

2
×

Ketika Anak Membaca Dunia Lewat Goresan Kuas

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada banyak cara untuk membaca dunia. Orang dewasa mungkin melakukannya melalui buku, berita, percakapan, atau pengalaman perjalanan. Anak-anak punya cara yang kadang lebih sederhana: memperhatikan sesuatu, membayangkannya, lalu menggambarnya.

Seekor kucing bisa menjadi gambar dengan kepala yang terlalu besar. Rumah bisa memiliki warna yang tidak biasa. Gunung mungkin berwarna biru, langit bisa dibuat merah, dan matahari tidak selalu harus berada di pojok kanan atas kertas. Bagi orang dewasa, gambar-gambar itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi anak, di situlah mereka sedang bercerita tentang dunia yang mereka lihat dan bayangkan.

Cara pandang semacam itulah yang hendak diberi ruang melalui Pameran Seni Lukis Anak bertajuk Vicky vs SketchBike Art Class dengan tema Merdeka dan Elok. Pameran yang berlangsung pada 8–16 Agustus 2026 tersebut digelar di Ruang Pameran Lantai 4 Gedung Layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Sekitar 50 hingga 70 anak dari SketchBike Art Class memamerkan karya mereka. Mereka datang bukan untuk menentukan siapa yang paling hebat, bukan pula untuk memperebutkan piala sebagai pelukis cilik terbaik. Pameran ini justru ingin memberi anak-anak sesuatu yang barangkali semakin mahal di tengah kehidupan hari ini: ruang untuk berekspresi tanpa harus takut dibandingkan.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan pameran tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi anak. Sebab, literasi tidak selamanya harus dimulai dari huruf dan kalimat.

Membaca Tidak Selalu Harus dengan Buku

Kita sering kali membayangkan aktivitas literasi sebagai anak yang duduk dengan buku di tangannya. Ia membaca halaman demi halaman, kemudian mungkin menuliskan kembali apa yang telah dibacanya. Gambaran tersebut tentu tidak keliru, tetapi ternyata bukan satu-satunya cara anak belajar memahami dunia.

Suharyanto mengatakan literasi di era modern tidak lagi terbatas pada kemampuan memahami teks tertulis. Anak juga perlu memiliki kemampuan membaca, memahami, dan menceritakan kembali realitas melalui bahasa rupa, imajinasi, dan estetika.

Dengan kata lain, ketika seorang anak mengamati lingkungan di sekitarnya lalu mencoba menggambarkannya, sebenarnya sedang ada proses belajar yang berlangsung. Ia memilih apa yang ingin dilihat, menentukan apa yang dianggap penting, lalu mencari cara untuk menceritakannya melalui warna dan bentuk.

BACA JUGA  Warung Sorjem Purwokerto: Tempat Makan yang Mengajarkan Saya Bahwa Bahagia Itu Kadang Cuma Butuh Telor Balado dan Mendoan Hangat

“Literasi di era modern tidak lagi hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi mencakup kemampuan anak dalam membaca, memahami, dan menceritakan kembali realitas dunia melalui bahasa rupa, imajinasi, dan estetika,” kata Suharyanto saat membuka pameran, Sabtu (8/8/2026).

Barangkali karena itulah lukisan anak tidak seharusnya buru-buru dinilai hanya dari pertanyaan sederhana: bagus atau tidak bagus? Ada hal yang jauh lebih menarik untuk ditanyakan, yakni apa yang sedang ingin diceritakan anak melalui gambar tersebut.

Tidak Ada Anak yang Kalah

Menariknya, pameran ini memang tidak dirancang sebagai perlombaan. Tidak ada anak yang harus pulang sebagai juara pertama, kedua, atau ketiga. Tidak ada pula karya yang harus dinyatakan lebih unggul daripada karya lainnya.

Bagi Suharyanto, keputusan tersebut penting karena anak-anak membutuhkan ruang yang aman dan nyaman untuk berekspresi. Mereka perlu kesempatan untuk bermain, mencoba, membuat sesuatu, bahkan menghasilkan karya yang mungkin belum sempurna menurut ukuran orang dewasa.

“Ajang ini bukanlah sebuah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik, siapa yang menang atau kalah, seperti perlombaan melukis pada umumnya,” ungkapnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup relevan dengan kehidupan anak hari ini. Banyak hal yang mereka lakukan dengan cepat berubah menjadi ukuran pencapaian. Belajar ada nilainya, membaca ada targetnya, menggambar bisa menjadi lomba, bahkan bermain pun kadang berakhir dengan pertanyaan: siapa yang menang?

Padahal, tidak semua yang dilakukan anak harus menghasilkan kemenangan.

Ada kalanya seorang anak menggambar hanya karena ia senang menggambar. Ada anak yang ingin memenuhi kertas dengan warna karena ia sedang menikmati warna-warna tersebut. Ada pula yang membuat gambar dengan bentuk yang bagi orang dewasa terasa aneh, tetapi justru sangat masuk akal dalam dunia kecilnya.

Ruang seperti itulah yang coba dihadirkan melalui pameran ini. Anak tidak sedang diminta membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada anak lain. Ia hanya diberi kesempatan untuk menunjukkan, “Ini yang ada di kepalaku.”

BACA JUGA  Menyeberangi Jurang Riset: Kolaborasi Kemdiktisaintek dan ADB Bangun Fondasi Inovasi Indonesi

Ketika Perpustakaan Menjadi Ruang Ekspresi

Pameran ini juga menghadirkan gambaran lain tentang perpustakaan. Selama ini perpustakaan sering dibayangkan sebagai ruangan yang tenang, dipenuhi rak buku, meja, kursi, dan orang-orang yang sibuk membaca. Gambaran tersebut memang masih relevan, tetapi perpustakaan rupanya bisa menjadi tempat yang lebih luas dari sekadar ruang membaca.

Perpusnas sendiri memiliki Ruang Layanan Anak yang berada di Lantai 7 Gedung Layanan Perpusnas. Selain itu, lembaga tersebut juga memfasilitasi literasi anak melalui penerbitan buku bacaan dan komik anak, termasuk karya yang merupakan alih wahana dari naskah-naskah kuno Nusantara serta saduran karya klasik.

Pameran seni lukis anak kemudian menjadi salah satu cara lain untuk mendekatkan ruang literasi kepada anak. Anak tidak harus selalu diajak masuk melalui pintu yang sama. Jika membaca buku membuatnya penasaran, buku bisa menjadi pintu. Jika menggambar membuatnya ingin bercerita, seni bisa menjadi pintu yang lain.

Pada akhirnya, yang penting bukan sekadar bagaimana anak masuk ke ruang literasi, tetapi apakah setelah berada di sana ia merasa nyaman untuk terus belajar dan menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran.

Perpusnas berharap ruang-ruang ekspresi seperti pameran seni anak dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan serta kebudayaan Indonesia.

“Jadikan Layanan Perpusnas sebagai ruang kreativitas dan inovasi. Kebebasan untuk menjadi diri sendiri, menuangkan gagasan dengan bebas dan merdeka, itulah hakikat keindahan seni yang sebenarnya,” kata Suharyanto.

Anak dan Kemerdekaan untuk Berimajinasi

Pameran ini berlangsung pada 8–16 Agustus 2026, bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional 2026 dan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema Merdeka dan Elok pun menjadi menarik ketika ditempatkan dalam konteks tersebut.

Sebab, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, pembicaraan itu tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang besar. Bagi anak, kemerdekaan mungkin sesederhana memiliki kesempatan untuk memilih warna yang ia sukai, menggambar sesuatu yang ia pikirkan, dan menyampaikan gagasannya tanpa buru-buru disalahkan.

Seorang anak mungkin menggambar rumah dengan pintu yang terlalu besar. Anak lain mungkin membuat langit berwarna hijau. Ada pula yang menggambar keluarganya dengan ukuran tubuh yang tidak proporsional. Kita bisa saja sibuk membetulkan gambar-gambar tersebut, tetapi mungkin ada baiknya sesekali kita bertanya lebih dulu: mengapa ia menggambarnya seperti itu?

BACA JUGA  Menapak Waktu di Curug Tebela

Sebab di balik sebuah gambar, ada pengalaman yang sedang disusun menjadi cerita. Ada sesuatu yang dilihat, dirasakan, diingat, atau bahkan hanya dibayangkan oleh seorang anak.

Di titik inilah seni menjadi menarik. Ia memberi anak kesempatan untuk mengatakan sesuatu sebelum mereka memiliki kemampuan bahasa yang cukup untuk menjelaskannya dengan panjang lebar.

Dari Goresan Kecil Menuju Masa Depan

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, yang turut hadir dalam pembukaan pameran, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pameran memberikan ruang kepada anak-anak untuk menuangkan imajinasi, kreativitas, sekaligus kecintaan terhadap Indonesia melalui karya seni.

“Kita hadir hari ini dalam rangka memberikan dukungan terhadap kegiatan yang luar biasa yakni pameran lukisan anak. Pesertanya dari seluruh Indonesia, tentu kita berharap anak-anak ke depan terus berkembang bakatnya menjadi pelukis yang andal seperti Raden Saleh,” ungkapnya.

Harapan agar kelak muncul pelukis-pelukis hebat tentu merupakan sesuatu yang baik. Tetapi mungkin ada harapan lain yang tidak kalah penting: semoga anak-anak tersebut tetap memiliki keberanian untuk berkarya, bahkan ketika karya mereka belum dianggap bagus.

Sebab dunia anak bukan hanya tentang menjadi siapa mereka kelak. Dunia anak juga tentang bagaimana mereka hari ini belajar melihat, merasakan, mencoba, dan memahami sesuatu. Jika semua proses itu selalu dibebani tuntutan untuk menjadi yang terbaik, bisa jadi kita justru membuat anak kehilangan kegembiraan dalam belajar.

Maka, membiarkan anak menggambar dengan caranya sendiri bukan berarti membiarkannya bermain-main tanpa arah. Bisa jadi, dari sanalah ia sedang belajar memperhatikan dunia.

Dan mungkin, di antara puluhan lukisan yang terpajang di dinding Perpusnas itu, kita tidak perlu buru-buru mencari mana yang paling indah. Cukup berhenti sebentar di depan salah satunya, lalu mencoba melihat dunia dari sana.

Karena bagi seorang anak, selembar kertas mungkin bukan sekadar tempat menumpahkan warna. Ia bisa menjadi halaman pertama dari sebuah cerita—tentang dunia yang sedang ia baca dengan caranya sendiri.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *