Liputan

Buku Pelajaran Tak Hanya Mengajarkan Pelajaran. Ia Juga Mengajari Anak Melihat Dunia

5
×

Buku Pelajaran Tak Hanya Mengajarkan Pelajaran. Ia Juga Mengajari Anak Melihat Dunia

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Buku pelajaran biasanya baru terasa penting ketika guru meminta siswa membukanya. Selebihnya, ia mungkin hanya menjadi benda yang memenuhi rak, masuk ke dalam tas, atau sesekali menjadi alas menulis ketika meja kelas terlalu penuh. Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar halaman berisi teks, gambar, dan soal pilihan ganda. Buku pelajaran ikut menemani anak membentuk cara mereka memahami dunia.

Karena itu, rencana Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas patut mendapat perhatian lebih dari sekadar urusan kualitas kertas atau tampilan sampul. Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, mengingatkan bahwa memperbaiki buku pelajaran juga berarti memeriksa cara buku tersebut bercerita tentang manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial. Sebab, sesuatu yang berulang kali dibaca anak lama-lama bisa terasa sebagai sesuatu yang wajar.

Radius, pengamat pendidikan dan kajian budaya Umsura yang selama ini meneliti buku teks sekolah, mengapresiasi langkah pemerintah tersebut. Namun, ia mengingatkan agar pembaruan buku tidak berhenti pada perbaikan materi, kualitas cetakan, atau tampilan visual. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting: memastikan buku tidak membawa bias dan stereotipe yang justru ikut diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Memperbaiki buku teks jangan hanya soal memperbaiki materi, kualitas cetakan, atau tampilan buku. Yang juga penting adalah memastikan buku tersebut bebas dari bias dan stereotipe,” kata Radius, Sabtu (8/8/2026).

Kekhawatiran itu bukan muncul begitu saja. Radius memang menjadikan buku teks sekolah sebagai salah satu objek kajiannya. Dalam penelitian doktoralnya, ia mengkaji ideologi gender dan ekologi dalam buku teks Kurikulum Merdeka dengan perspektif ekofeminisme. Penelitian tersebut menemukan masih adanya narasi yang bias gender dan tidak ramah lingkungan dalam buku teks sekolah dasar.

BACA JUGA  Bupati Banyumas Salurkan Rp3,08 Miliar Bantuan Keuangan untuk Sembilan Partai Politik

Bagi Radius, persoalannya sederhana tetapi sering luput diperhatikan. Anak-anak memang belajar dari apa yang secara terang-terangan ditulis dalam buku, tetapi mereka juga belajar dari hal-hal yang mungkin tidak pernah dijelaskan oleh guru. Mereka belajar dari siapa yang menjadi tokoh utama, siapa yang lebih sering digambarkan bekerja, siapa yang berada di rumah, siapa yang mengambil keputusan, bahkan siapa yang tidak pernah muncul dalam cerita. Dengan kata lain, buku pelajaran tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bisa secara perlahan mengajarkan bagaimana seharusnya dunia dipandang.

“Anak-anak tidak hanya belajar dari materi yang secara eksplisit ditulis. Mereka juga belajar dari siapa yang ditampilkan, siapa yang tidak terlihat, bagaimana perempuan dan laki-laki digambarkan, bagaimana kelompok tertentu direpresentasikan, dan bagaimana alam diposisikan,” tegas Radius.

Di sinilah pembicaraan tentang kualitas buku menjadi lebih menarik. Buku yang bagus tentu harus memiliki materi yang benar. Tetapi apakah buku yang materinya benar otomatis sudah menjadi buku yang baik? Radius menganggap pertanyaan tersebut belum selesai. Buku juga perlu diperiksa dari cara ia menggambarkan masyarakat yang begitu beragam.

Indonesia bukan hanya satu wajah, satu kebudayaan, atau satu pengalaman hidup. Ada banyak daerah, agama, kelompok sosial, latar ekonomi, bahasa, dan kebiasaan yang hidup berdampingan. Karena itu, Radius menilai isu mengenai stereotipe gender, ras, agama, daerah, kelas sosial, hingga relasi manusia dengan lingkungan perlu ikut diperhatikan dalam evaluasi buku pelajaran.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Jangan sampai buku pelajaran justru menyederhanakan keberagaman tersebut atau menghadirkan kelompok tertentu melalui stereotipe,” katanya.

Persoalan lain muncul ketika pemerintah hendak membandingkan buku pelajaran Indonesia dengan buku dari sejumlah negara ASEAN. Membandingkan diri dengan negara lain tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, dari sana pemerintah bisa menemukan banyak hal yang dapat dipelajari. Hanya saja, Radius mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perlombaan mencari tahu buku negara mana yang terlihat paling bagus.

BACA JUGA  Banyumas Job Fair Hybrid 2023 Dibuka, Tawarkan 5.224 Lowongan Kerja

Sebab, buku yang cocok untuk satu negara belum tentu begitu saja cocok ketika dipindahkan ke ruang kelas Indonesia. Ada konteks sosial, kebudayaan, sejarah, dan pengalaman masyarakat yang berbeda. Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, maupun Vietnam tentu memiliki kebutuhan pendidikan dan latar sosial masing-masing.

“Kita boleh belajar dari Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, Vietnam atau negara ASEAN lainnya. Tetapi jangan sekadar mencari buku mana yang lebih bagus. Kita harus melihat apa yang bisa dipelajari dan apa yang sesuai dengan konteks Indonesia,” ujar Radius.

Kalau begitu, buku pelajaran seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan? Radius setidaknya menawarkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembaruan buku teks: akurasi pengetahuan, keadilan representasi, dan kemampuan membangun daya kritis siswa. Ketiganya terdengar seperti istilah akademik, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak-anak di ruang kelas. Anak perlu mendapatkan pengetahuan yang benar, melihat dirinya dan orang lain secara adil, sekaligus memiliki kemampuan untuk bertanya terhadap apa yang ia baca.

“Jangan hanya membuat buku yang lebih bagus secara akademik. Kita perlu buku yang juga lebih adil dalam merepresentasikan masyarakat Indonesia dan mendorong anak berpikir kritis,” tuturnya.

Ada satu hal lain yang menurut Radius tidak boleh ditinggalkan dalam pembaruan buku pelajaran: lingkungan. Selama ini alam cukup sering hadir dalam buku sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan manusia. Hutan menjadi sumber kayu, laut menjadi sumber ikan, tanah menjadi tempat bercocok tanam. Padahal, hubungan manusia dengan alam jauh lebih rumit daripada sekadar hubungan antara pengguna dan sumber daya.

“Anak-anak perlu belajar bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi. Mereka perlu memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap alam,” katanya.

BACA JUGA  Setya Arinugroho Tekankan Pentingnya Pemerataan Pendidikan Hingga Lereng Gunung Jawa Tengah

Pada akhirnya, memperbaiki buku pelajaran memang bukan pekerjaan sederhana. Ia bukan sekadar mengganti buku lama dengan buku baru, mempercantik ilustrasi, atau membuat kertasnya lebih bagus. Ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang pengetahuan macam apa yang ingin diwariskan dan cara pandang seperti apa yang ingin ditanamkan kepada anak-anak Indonesia.

Karena itu, Radius berharap penyusunan buku pelajaran baru melibatkan lebih banyak pihak. Akademisi, guru, peneliti, praktisi pendidikan, hingga kelompok masyarakat yang selama ini menjadi objek representasi dalam buku teks perlu diberi ruang untuk ikut membaca dan mengkritisinya. Dengan begitu, buku tidak hanya disusun dari balik meja, tetapi juga diperiksa dari berbagai pengalaman yang hidup di masyarakat.

Sebab, mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya apakah isi sebuah buku pelajaran sudah benar atau belum. Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: ketika seorang anak selesai membaca buku itu, cara pandang seperti apa yang ikut tumbuh di kepalanya?

“Kalau ingin memperbaiki buku teks, kita tidak cukup hanya bertanya apakah materinya benar. Kita juga perlu bertanya: nilai apa yang sedang kita tanamkan kepada anak melalui buku tersebut?” pungkasnya.

Sumber: www.um-surabaya.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *