LiputanRagam

Bisakah Purwokerto Tetap Nyaman Meski Wisatawan Terus Bertambah?

×

Bisakah Purwokerto Tetap Nyaman Meski Wisatawan Terus Bertambah?

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada satu kalimat yang belakangan ini semakin sering terdengar ketika seseorang dari luar daerah mengaku ingin berlibur ke Purwokerto. Bukannya mendapat daftar rekomendasi tempat makan atau destinasi wisata, ia justru disambut dengan candaan, “Jangan ke Purwokerto, nanti macet.” Kalimat itu biasanya diikuti tawa, seolah hanya gurauan antarteman. Namun di balik candaan tersebut, tersimpan kegelisahan yang cukup nyata. Banyak warga mulai merasakan Purwokerto tidak lagi setenang beberapa tahun lalu. Jalan-jalan utama lebih padat, kawasan kuliner semakin ramai, dan setiap musim liburan kendaraan berpelat luar daerah memenuhi berbagai sudut kota.

Kegelisahan semacam itu sebenarnya dapat dipahami. Tidak ada warga yang ingin kotanya kehilangan kenyamanan. Namun, apakah bertambahnya wisatawan memang harus dipandang sebagai ancaman? Ataukah yang sesungguhnya perlu dipersoalkan bukan jumlah orang yang datang, melainkan kesiapan kota dalam mengelola pertumbuhan tersebut?

Perlu diakui, tidak ada kota yang menjadi tujuan wisata jika tidak memiliki sesuatu yang menarik. Orang datang ke Purwokerto karena melihat daya tarik yang mungkin tidak lagi disadari oleh warganya sendiri. Ada yang mencari udara sejuk Baturraden, ada yang ingin menikmati kuliner khas Banyumas, ada pula yang sekadar singgah karena mendengar bahwa Purwokerto masih menawarkan ritme hidup yang lebih tenang dibanding kota-kota besar. Dengan kata lain, semakin banyak orang datang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa Purwokerto memiliki nilai yang layak dikunjungi.

Sayangnya, apresiasi itu sering kali berubah menjadi kekhawatiran. Ketika kota mulai ramai, perhatian publik segera tertuju pada kemacetan, harga tanah yang meningkat, atau munculnya bangunan-bangunan baru. Padahal semua itu bukanlah penyebab utama persoalan. Kota yang berkembang memang akan menghadapi konsekuensi berupa meningkatnya aktivitas ekonomi, mobilitas, maupun kebutuhan ruang. Persoalannya adalah apakah perkembangan tersebut telah diantisipasi melalui perencanaan yang matang.

BACA JUGA  Gebyar Kemenag Banyumas: Dekatkan Diri dengan Masyarakat dan Dukung UMKM

Di sinilah pembahasan mengenai tata kelola kota menjadi penting. Pertumbuhan sebuah kota tidak cukup diukur dari banyaknya hotel yang berdiri, pusat kuliner yang bermunculan, atau ramainya destinasi wisata. Kota juga harus mampu memastikan bahwa jalan tetap berfungsi dengan baik, ruang terbuka hijau tidak terus menyusut, trotoar tetap nyaman digunakan pejalan kaki, sistem parkir tertata, sampah wisata dapat dikelola, dan pelayanan publik mampu mengikuti peningkatan aktivitas masyarakat. Tanpa pengelolaan yang baik, pertumbuhan justru berpotensi melahirkan persoalan-persoalan baru yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup warga.

Pengalaman berbagai kota menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak selalu identik dengan kemacetan dan kesemrawutan. Banyak daerah mampu menjadikan meningkatnya jumlah wisatawan sebagai penggerak ekonomi tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat. Kuncinya bukan pada membatasi orang datang, melainkan pada keberanian pemerintah menyiapkan infrastruktur, mengatur tata ruang, memperkuat transportasi, menjaga lingkungan, dan memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara lebih merata.

Purwokerto saat ini berada pada fase yang menarik. Kota ini belum menghadapi persoalan perkotaan seberat kota-kota besar, tetapi tanda-tanda pertumbuhan mulai terlihat jelas. Justru pada fase seperti inilah berbagai kebijakan strategis seharusnya mulai disiapkan. Menunggu sampai kemacetan menjadi persoalan harian atau ruang hijau semakin sulit ditemukan tentu bukan pilihan yang bijak. Kota yang baik bukanlah kota yang sibuk menyelesaikan masalah setelah muncul, melainkan kota yang mampu mengantisipasi persoalan sebelum menjadi krisis.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang keramaian di Purwokerto. Kehadiran wisatawan bukan sesuatu yang perlu ditakuti, sebab mereka datang karena melihat potensi yang dimiliki kota ini. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pertumbuhan diikuti dengan tata kelola yang baik, sehingga Purwokerto tetap menjadi kota yang nyaman dihuni sekaligus menyenangkan untuk dikunjungi. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukanlah seberapa banyak orang yang datang, melainkan apakah warganya tetap merasa betah tinggal di dalamnya ketika kota itu terus berkembang.

BACA JUGA  Brave Pink & Hero Green, Warna Solidaritas di Media Sosial
Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *