Kilas

Waspada “Godzilla El Nino”, Setya Arinugraha Desak Pemprov Jateng Percepat Mitigasi Pangan

×

Waspada “Godzilla El Nino”, Setya Arinugraha Desak Pemprov Jateng Percepat Mitigasi Pangan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Wilayah Jawa Tengah diprediksi mulai memasuki musim kemarau panjang pada akhir April hingga awal Mei 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini Jawa Tengah masih berada dalam masa peralihan atau pancaroba.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Setya Arinugraha meminta pemerintah daerah tidak lengah dan meningkatkan kewaspadaan. Imbauan itu juga ditujukan kepada masyarakat, khususnya petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan.

Setya menegaskan, kemarau panjang berpotensi memengaruhi produktivitas hasil pertanian. Karena itu, pemerintah diminta aktif memantau kondisi cuaca dan menyampaikan informasi secara cepat kepada masyarakat.

“Kita harus curi start dalam mitigasi. Pemerintah tidak boleh pasif. Informasi cuaca dari BMKG harus segera sampai ke petani agar mereka bisa menentukan langkah sebelum kekeringan memuncak,” ujarnya saat diwawancarai di Semarang, Rabu (23/4/2026).

Ia menjelaskan, dampak fenomena yang disebut “Godzilla El Nino” diperkirakan paling terasa pada komoditas utama seperti padi dan jagung, yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

“Tanaman pangan, terutama padi, tidak bisa menunggu air. Jika fase pertumbuhannya terganggu panas ekstrem, dampaknya bukan hanya kerugian petani, tetapi juga ancaman bagi stok pangan daerah,” tambahnya.

Untuk itu, langkah mitigasi di tingkat petani dinilai penting, antara lain dengan memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh, mempermudah akses informasi cuaca, serta mendorong penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan. Pendampingan intensif juga diperlukan agar petani mampu menyesuaikan praktik budidaya di lapangan.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam menghadapi El Nino, termasuk melalui penguatan infrastruktur pengairan dan pemanfaatan teknologi pertanian.

“Belajar dari pengalaman, infrastruktur seperti embung dan sumur resapan harus dipastikan berfungsi optimal. Jangan sampai saat kemarau datang, fasilitas justru tidak siap,” tegasnya.

BACA JUGA  Tinjau Titik Terparah Banjir Bandang Pemalang, Taj Yasin Dorong Pemerintah Pusat Perkuat Hutan Lindung

Ia menambahkan, keberhasilan mitigasi sangat bergantung pada kemampuan adaptasi petani. Tanpa pendampingan, teknologi dan data cuaca tidak akan berdampak maksimal.

“Teknologi dan data cuaca hanya akan menjadi angka jika petani tidak didampingi dalam penerapannya. Kita butuh aksi nyata di lapangan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Setya meminta pemerintah melalui BMKG memperkuat sistem peringatan dini hingga tingkat desa. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor guna mencegah gagal panen sekaligus menjaga stabilitas pangan di Jawa Tengah.

“Keamanan pangan adalah prioritas. Sinergi pemerintah, BMKG, dan petani harus solid agar Jawa Tengah tetap tangguh menghadapi fenomena ini,” pungkasnya. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *