BANYUMASMEDIA.COM – Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan tanah air. Tindakan yang sering kali bermula dari candaan tak terukur ini berisiko mengganggu perkembangan psikologis anak jika tidak dimitigasi sejak dini. Merespons fenomena tersebut, tim dosen dan mahasiswa Telkom University Purwokerto hadir menggelar program edukasi dan sosialisasi pencegahan perundungan di SD Negeri 1 Muntang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk gerakan anti-perundungan ini menjadi bagian nyata dari komitmen Telkom University Purwokerto dalam membangun ekosistem pendidikan ramah anak, sekaligus menanamkan nilai-nilai empati serta kepedulian sosial kepada generasi muda sejak usia sekolah dasar.
Pentingnya Membangun Karakter di Luar Kelas
Program yang diketuai oleh Dasril Aldo, S.Kom., M.Kom., ini melibatkan 24 siswa perwakilan kelas IV, V, dan VI, serta didampingi oleh lima guru kelas. Melalui media interaktif, para siswa dibekali pemahaman komprehensif mengenai jenis-jenis perundungan, mulai dari tindakan fisik, serangan verbal seperti ejekan menyakitkan, hingga perundungan sosial berupa pengucilan kelompok.

Kepala SD Negeri 1 Muntang, Endang, menyambut baik inisiatif strategis ini. Ia menegaskan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai wadah transfer ilmu pengetahuan (hardskills), melainkan laboratorium sosial untuk membentuk kematangan karakter peserta didik.
“Kami berharap melalui edukasi dini ini, siswa mampu membedakan perilaku bercanda biasa dengan tindakan yang dapat melukai perasaan orang lain. Anak-anak harus memiliki keberanian untuk menolak perundungan dan langsung melaporkannya kepada guru,” kata Endang.
Hal senada diungkapkan oleh dosen pembimbing Telkom University Purwokerto, Angga Kurniawan, S.Pd., M.Kom. Ia menyoroti bahwa pemutusan mata rantai perundungan memerlukan pendekatan berkelanjutan, pembiasaan perilaku positif sehari-hari, serta keterlibatan aktif rekan sebaya sebagai pembela (upstander) korban perundungan.
Kontribusi Nyata Mahasiswa untuk Masyarakat
Edukasi ini dikemas secara menarik dengan melibatkan peran aktif lima mahasiswa Telkom University Purwokerto, yakni Muhammad Dani Ayubi, Tegar Bangkit Wijaya, Denny Budiansyach, Didik Setiawan, dan Rizal Dwi Anggoro. Kehadiran para mahasiswa ini bertujuan untuk menyajikan materi penanggulangan secara lebih dekat dan bersahabat dengan dunia anak-anak.
Para siswa diajak berkomitmen mengaplikasikan semangat “Hormati Perbedaan, Bangun Persahabatan” sebagai benteng utama dalam menciptakan ruang kelas yang aman dan nyaman.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam merespons isu-isu sosial di lingkungan pendidikan. Dengan materi yang disesuaikan dengan usia anak dasar, kami ingin membangun kesadaran kolektif agar tidak ada lagi anak yang memendam sendiri rasa takutnya saat menghadapi ancaman perundungan,” ujar Dasril Aldo.
Melalui kolaborasi erat antara Telkom University Purwokerto dan SD Negeri 1 Muntang ini, diharapkan lahir agen-agen perubahan cilik yang siap mengawal terciptanya sekolah yang sehat, bebas dari kekerasan, serta kaya akan nilai toleransi dan gotong royong di Kabupaten Purbalingga. [adv]











