Liputan

Sohibul Iman: Keluarga yang Kuat Menjadi Fondasi Indonesia Emas 2045

3
×

Sohibul Iman: Keluarga yang Kuat Menjadi Fondasi Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ketua Majelis Syura PKS, Mohamad Sohibul Iman, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa. Menurutnya, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya ditopang pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun kemajuan teknologi, tetapi juga membutuhkan keluarga yang tangguh sebagai tempat lahirnya generasi berkualitas.

Menurut Sohibul Iman, keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk karakter, akhlak, dan nilai-nilai kebangsaan seorang anak sebelum mengenal sekolah maupun masyarakat. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional.

“Masa depan Indonesia sesungguhnya dibentuk setiap hari di ruang keluarga. Di sanalah karakter dibangun, nilai diwariskan, dan harapan tentang masa depan bangsa mulai disemai,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, pembangunan keluarga telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Regulasi tersebut diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 yang menempatkan keluarga sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia.

Menurut Sohibul Iman, keluarga juga merupakan tempat pertama seseorang belajar mengenai nilai-nilai kehidupan. Sebelum mengenal negara, seorang anak lebih dahulu mengenal keluarganya. Sebelum memahami hukum, ia belajar mengenai benar dan salah dari orang tuanya.

“Di dalam keluarga pula seorang anak belajar menghargai sesama, bermusyawarah, bertanggung jawab, hingga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Sebagai seorang muslim, lanjut Sohibul Iman, penguatan keluarga juga merupakan amanah agama. Ia mengutip Surat At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan setiap orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya. Menurutnya, tanggung jawab keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga mencakup pembinaan iman, akhlak, ilmu pengetahuan, dan karakter.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketahanan keluarga di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya terlihat dari tingginya angka perceraian yang masih mencapai lebih dari 400 ribu kasus setiap tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

BACA JUGA  Muhammadiyah Buka Taman Pustaka untuk Umum, Jadi Ruang Literasi dan Arsip Sejarah

Selain itu, keluarga juga menghadapi perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital, tekanan ekonomi, meningkatnya persoalan kesehatan mental, hingga berkurangnya interaksi antaranggota keluarga.

“Tidak sedikit anak yang kini lebih akrab dengan layar telepon genggam daripada percakapan hangat bersama kedua orang tuanya,” ujarnya.

Sohibul Iman menilai persoalan tersebut bukan hanya dialami Indonesia. Berbagai kajian internasional, seperti OECD, UNICEF, UNFPA, hingga World Health Organization (WHO), menunjukkan banyak negara menghadapi tantangan serupa berupa melemahnya ketahanan keluarga dan kohesi sosial.

Mengacu pada OECD Family Database, stabilitas keluarga memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan anak, keberhasilan pendidikan, kesehatan mental, hingga mobilitas sosial saat dewasa. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang stabil cenderung memiliki capaian akademik lebih baik, risiko putus sekolah lebih rendah, serta kondisi kesehatan fisik dan psikologis yang lebih baik.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya persoalan privat, melainkan aset strategis bangsa.

“Keluarga yang kokoh akan melahirkan modal sosial yang kuat. Sebaliknya, ketika keluarga melemah, masyarakat kehilangan ruang pertama untuk membangun kepercayaan, empati, disiplin, dan tanggung jawab,” jelasnya.

Menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, Sohibul Iman mengingatkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari kualitas keluarga.

Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila keluarga mampu melahirkan generasi yang sehat, berakhlak, berilmu, tangguh, adaptif, dan memiliki kepedulian sosial.

Karena itu, ia menilai penguatan ketahanan keluarga tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Dunia pendidikan, tokoh agama, dunia usaha, media, hingga orang tua memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju sekaligus berkeadaban, maka investasi terbesar yang harus terus kita lakukan adalah memperkuat keluarga. Sebab kualitas sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuknya, dan manusia-manusia terbaik selalu berawal dari keluarga yang kuat,” pungkasnya.

BACA JUGA  Wakil Ketua DPRD Tegaskan SPMB Jawa Tengah 2025 Gunakan Sistem Domisili, Bukan Lagi Zonasi
Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *