Hikmah

Sahur dan Istighfar: Menjemput Keberkahan di Ujung Malam

×

Sahur dan Istighfar: Menjemput Keberkahan di Ujung Malam

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di antara keindahan ajaran Islam adalah tidak pernah terpisahnya ibadah dari keberkahan hidup. Bahkan aktivitas yang tampak sederhana seperti sahur, menyimpan nilai spiritual yang mendalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar persiapan fisik untuk berpuasa. Ia adalah waktu yang dipenuhi rahmat, ketenangan, dan peluang kebaikan. Di ujung malam yang hening, seorang mukmin seharusnya tidak hanya menguatkan tubuhnya dengan makanan, tetapi juga menghidupkan hatinya dengan dzikir, doa, dan istighfar.

Hal ini ditegaskan oleh Dr. H. Masyhuril Khamis, SH, MM, Ketua Bidang Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak istighfar, terutama pada waktu sahur di bulan Ramadhan.

Menurutnya, istighfar bukan sekadar rangkaian kata, tetapi pintu keberkahan. Terlebih jika dilakukan di waktu sahur, saat langit rahmat terbuka dan doa lebih dekat pada pengabulan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qur’an, tepatnya QS. Ali Imran ayat 17:

اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ

Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan berinfak, serta memohon ampunan pada akhir malam.”

Ayat ini menghubungkan istighfar di waktu sahur dengan empat karakter utama seorang mukmin: sabar, jujur, taat, dan gemar berinfak. Istighfar bukan hanya membersihkan dosa, tetapi juga membentuk kepribadian.

Pertama, ia menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi ujian. Kedua, memperkuat kejujuran dalam sikap dan ucapan. Ketiga, mengokohkan ketaatan kepada Allah. Keempat, menumbuhkan kepedulian sosial melalui semangat berbagi.

Dalam tafsirnya yang masyhur, Al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Imam Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa orang-orang yang beristighfar di waktu sahur adalah mereka yang menggabungkan shalat dan permohonan ampun. Waktu sahur disebut secara khusus karena ia merupakan saat yang paling memungkinkan dikabulkannya doa.

BACA JUGA  "Nak, Perhatikan Dirimu"

Beliau juga menukil riwayat bahwa Nabi Ya’qub menunda permohonan ampun bagi anak-anaknya hingga waktu sahur—sebuah isyarat tentang keistimewaan waktu tersebut.

Karena itu, sahur jangan hanya dimaknai sebagai waktu makan sebelum fajar. Ia adalah momen sunyi untuk memperbarui hubungan dengan Allah. Ketika sebagian manusia terlelap, seorang mukmin justru menundukkan hati, memohon ampun, dan menata niat.

Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang memperhalus jiwa. Dan salah satu jalan terdekatnya adalah istighfar di penghujung malam.

Semoga kita tidak menyia-nyiakan waktu sahur hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga mengisinya dengan taubat dan doa. Dari sanalah keberkahan hidup bertumbuh, bukan hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam tanggung jawab kolektif menjaga kehalalan dan keberkahan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *