BANYUMASMEDIA.COM – Bagaimana cara merawat ingatan di tengah bangsa yang kerap mengidap amnesia sejarah? Film panjang Laut Bercerita hadir sebagai monumen visual yang bertenaga. Diadaptasi dari novel sejarah laris karya Leila S. Chudori, film berdurasi 135 menit ini resmi menyapa publik bioskop tanah air mulai 29 Oktober 2026, setelah sebelumnya berkompetisi dan menggelar world premiere di Busan International Film Festival (BIFF), Korea Selatan.
Sutradara Yosep Anggi Noen, yang selama ini dikenal lewat karya-karya art-house yang kontemplatif, kali ini mengambil langkah berani dengan memilih pendekatan sinema yang lebih populer, aksesibel, dan membumi. Keputusan ini krusial agar narasi kelam mengenai represi politik akhir era Orde Baru, tragedi penghilangan paksa aktivis mahasiswa 1998, serta duka abadi keluarga yang ditinggalkan, dapat menjangkau spektrum penonton yang jauh lebih luas.
Narasi film bergerak secara emosional melalui poros karakter Biru Laut Wibisono (Reza Rahadian) yang memimpin pergerakan kelompok studi Winatra di Yogyakarta. Paruh awal film menyajikan dinamika persahabatan, idealisme, hingga mencekamnya ruang-ruang interogasi dan penyiksaan bawah tanah. Kebrutalan aparat dihadirkan secara taktis, memenuhi kualifikasi rating sensor 17+ tanpa kehilangan esensi teror psikologisnya.
Namun, kekuatan terbesar dari adaptasi layar lebar ini justru terletak pada ketajaman memotret dampak kemanusiaan pasca-prahara politik. Sudut pandang keluarga korban yang diwakili oleh ketabahan sunyi Asmara Jati (Yunita Siregar) dan kepedihan mendalam seorang ibu (Christine Hakim) berhasil dikemas secara intim. Ritual makan bersama di meja makan keluarga Wibisono, yang secara konsisten mengosongkan satu piring dan kursi untuk Laut, bertransformasi menjadi salah satu sekuens paling menguras emosi di sepanjang film.
Dukungan ansambel aktor papan atas seperti Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, dan Kevin Julio memperkokoh bangunan emosional cerita. Penggunaan aransemen musik yang akrab di telinga publik serta dialog yang lugas membuat film ini jauh dari kesan sebuah doktrin politik yang kering. Laut Bercerita berhasil memanusiakan kembali angka statistik korban penculikan sejarah menjadi sebuah elegi yang dekat dengan penonton.
Sebagai film adaptasi novel tebal, tantangan terbesar Noen adalah merangkum kompleksitas sub-plotWinatra ke dalam durasi 2 jam 15 menit. Beberapa transisi kilas balik di pertengahan cerita mungkin terasa berjalan terlalu cepat bagi penonton yang belum membaca bukunya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai tawar film ini sebagai sebuah karya seni yang penting dalam melawan lupa. Selama keadilan belum dituntaskan, film ini menegaskan bahwa laut akan terus mengucapkan nama-nama mereka yang hilang. [asr]











