Kilas

Krisis Regenerasi Mengancam Kelestarian Batik Rifa’iyah

4
×

Krisis Regenerasi Mengancam Kelestarian Batik Rifa’iyah

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kelestarian Batik Rifa’iyah, kain tradisional khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini menghadapi tantangan serius. Dari total 24 motif klasik yang pernah tercipta sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme, saat ini tercatat hanya tersisa 16 motif yang masih aktif diproduksi akibat terkendala krisis regenerasi pembatik muda.

Ancaman kepunahan warisan budaya takbenda ini ditegaskan oleh Ketua Dekranasda Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin saat menghadiri acara Kenduri Batik 2026 di Objek Wisata Hutan Pinus Si Kembang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Sabtu (17/10/2026). Penurunan corak ini berjalan linier dengan data Balai Besar Kerajinan dan Batik Kementerian Perindustrian yang menunjukkan jumlah perajin batik nasional merosot tajam hingga 40 persen, dari semula 82.550 orang menjadi tersisa 33.020 orang.

Batik Rifa’iyah memiliki keunikan sosiologis dan spiritual yang sangat kental karena proses goresan malamnya wajib dibarengi dengan lantunan selawat. Penataan dokumentasi motif langka kini mulai digerakkan oleh Dekranasda Kabupaten Batang untuk mencegah hilangnya identitas komunitas tersebut.

”Batik Rifa’iyah ini lahir dari perjuangan melawan kolonialisme masyarakat Rifa’iyah. Bukan sekadar karya, tetapi juga bagian dari perjuangan sejarah, nilai, dan identitas komunitas agama yang menjaganya. Kekayaan budaya ini bisa hilang sama sekali apabila tidak dirawat secara serius oleh pemerintah, perajin, dan masyarakat,” ujar Nawal Arafah Yasin.

Guna menahan laju penurunan perajin, Dekranasda Jateng mendorong keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, desainer, hingga pelaku pemasaran digital untuk mentransfer keterampilan membatik kepada generasi muda.

Di sisi lain, para kelompok pembatik yang masih bertahan di perdesaan didesak untuk mendapatkan perluasan akses pelatihan, bantuan permodalan, perlindungan usaha, serta pendampingan teknologi produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar global tanpa kehilangan karakter tradisionalnya.[asr]

BACA JUGA  Setya Arinugroho : Raperda Sempadan Bukan untuk Membatasi, Tapi Melindungi Warga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *