Ragam

Ketika Banyak Desa Berlomba Jadi Destinasi Wisata, Empat Desa di Banyumas Ini Memilih Jalan Bersama

×

Ketika Banyak Desa Berlomba Jadi Destinasi Wisata, Empat Desa di Banyumas Ini Memilih Jalan Bersama

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di zaman ketika hampir setiap desa berlomba-lomba memiliki tempat wisata sendiri, lengkap dengan spot foto yang Instagramable dan jargon yang menjanjikan, empat desa di Kecamatan Kedungbanteng justru memilih cara yang sedikit berbeda. Mereka tidak sibuk saling berebut pengunjung. Sebaliknya, mereka sepakat berjalan bersama.

Empat desa tersebut adalah Windujaya, Kalisalak, Baseh, dan Melung yang tergabung dalam Kawasan Perdesaan Wikabalung. Melalui Gebyar Kawasan Perdesaan Wikabalung 2026 yang dibuka di Lapangan Desa Windujaya, Minggu (14/6/2026), mereka mencoba menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu harus dibangun melalui persaingan.

Bagi sebagian orang, kerja sama semacam ini mungkin terdengar biasa. Namun, di tengah kecenderungan setiap daerah ingin menonjol sendiri, kesediaan untuk berbagi panggung justru menjadi sesuatu yang menarik.

Ketua panitia sekaligus perwakilan pengelola Kawasan Wikabalung, Agus Setiadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan perdana yang diharapkan dapat menjadi agenda rutin setiap tahun.

Menurutnya, Gebyar Wikabalung bukan sekadar acara seremonial, melainkan sarana untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus memberdayakan masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan rintisan yang kami harapkan dapat menjadi agenda rutin setiap tahun. Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang telah mendukung sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik,” ujarnya.

Gebyar Kawasan Perdesaan Wikabalung berlangsung sejak 14 hingga 28 Juni 2026. Pelaksanaannya bergiliran di empat desa anggota kawasan, yakni Windujaya pada 14 Juni, Melung pada 20–21 Juni, Kalisalak pada 21 Juni, dan Baseh pada 28 Juni.

Menariknya, masing-masing desa tidak dipaksa menjadi seragam. Setiap wilayah justru diberi ruang untuk menampilkan kekhasannya sendiri.

Di Desa Windujaya, misalnya, masyarakat mengawali kegiatan dengan jalan sehat menyusuri desa. Ada pula upaya melestarikan kuliner tradisional Jenang Bumbung, pertunjukan seni lengger, ebeg, serta bazar UMKM yang melibatkan warga setempat.

BACA JUGA  Agustus, Panggung Fenomena Langit

Sementara itu, desa-desa lainnya akan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari promosi kopi lokal, senam bersama, lomba mewarnai untuk anak-anak, pertunjukan seni budaya hingga pagelaran wayang kulit.

Di tengah berbagai rangkaian tersebut, pengelola kawasan juga meluncurkan Wikabalung Adventure, sebuah paket wisata terpadu menggunakan kendaraan jeep yang menghubungkan berbagai potensi unggulan di empat desa.

Agus Setiadi berharap paket wisata tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara lebih luas.

“Kami berharap melalui paket wisata yang melintasi empat desa ini akan tercipta pergerakan ekonomi yang lebih luas, sehingga dapat memberikan manfaat bagi pelaku UMKM dan masyarakat secara umum,” katanya.

Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti yang membuka kegiatan tersebut mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat.

Menurutnya, pengembangan kawasan perdesaan merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal.

“Kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Kawasan Wikabalung memiliki kekayaan alam, budaya, serta produk-produk UMKM yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi lokal,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata harus tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, menjaga kelestarian alam dan lingkungan, serta menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.

Di tengah banyaknya destinasi yang berlomba menjadi yang paling ramai dan paling viral, Wikabalung seolah mengingatkan bahwa ada cara lain untuk tumbuh. Bukan dengan saling mengalahkan, melainkan dengan saling menguatkan.

Sebab, kadang-kadang kemajuan tidak lahir dari persaingan, melainkan dari kesediaan untuk mengatakan kepada tetangga: mari berjalan bersama.

Editor: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *