BANYUMASMEDIA.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyoroti situasi global yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja. Ia menyebut kebengisan genosida yang dilakukan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina menunjukkan runtuhnya tatanan kemanusiaan dunia modern.
Hal tersebut disampaikan Haedar dalam ceramah Tarawih di Masjid Salman ITB pada Ahad malam (8/3).
Menurut Haedar, tindakan kekerasan yang terus berlangsung di Timur Tengah memperlihatkan bahwa tatanan dunia modern yang selama ini mengusung nilai kemanusiaan justru tidak mampu menghentikan tragedi kemanusiaan.
“Segala paradigma modern terus dibangun seakan-akan tidak pernah dan tidak akan pernah dirobek oleh peristiwa yang sama. Tetapi dalam satu dekade terakhir, paradigma yang pro-humanisme itu nyaris gagal,” kata Haedar.
Ia menilai semangat kemanusiaan yang selama ini diagungkan dalam peradaban modern telah melahirkan humanisme sekuler yang berpusat pada manusia. Namun dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut justru lumpuh ketika berhadapan dengan konflik dan perang.
Haedar juga menyoroti lemahnya tata hukum dan moral internasional yang dinilai tidak mampu menghentikan agresi maupun upaya penghancuran kedaulatan suatu negara.
Menurutnya, berbagai konflik yang terjadi saat ini dapat dipandang sebagai bentuk neo-kolonialisme modern yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
Karena itu, Haedar mengajak umat Islam untuk memperkuat persatuan serta membangun kemandirian di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Dunia muslim yang berbasis iman tentu harus bersaudara. Ketika ada banyak hal yang membuat mereka bertengkar, semestinya mereka melakukan islah atau berdamai agar memperoleh rahmat Tuhan,” ujarnya.
Haedar menambahkan bahwa pesan persatuan umat Islam sebenarnya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surat Al-Hujurat ayat 10. Namun dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, upaya mewujudkan persatuan tersebut tidaklah mudah.
“Banyak sekali lalu lintas kepentingan. Jangankan di level negara, di level kelompok umat saja betapa tidak mudahnya merawat kemandirian, persatuan, dan orientasi bersama untuk membangun peradaban Islam,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, Islam pernah menunjukkan watak kosmopolitan yang membawa kemajuan peradaban dunia, khususnya pada periode abad ke-7 hingga abad ke-13.
Menurut Haedar, nilai-nilai tersebut perlu kembali dihidupkan agar umat Islam dapat berperan dalam membangun peradaban dunia yang lebih adil dan berkeadaban.[asr]











