Ragam

Catatan Getir Jalak Kebo Sleman: Baru Merdeka Sedetik, Langsung Kena “Smackdown” Warga di Depan Pak Bupati

×

Catatan Getir Jalak Kebo Sleman: Baru Merdeka Sedetik, Langsung Kena “Smackdown” Warga di Depan Pak Bupati

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Sebagai seekor burung Jalak Kebo biasa yang tidak punya cita-cita muluk selain nyari jangkrik dan nongkrong di atas punggung sapi, hari itu saya merasa sangat terhormat. Bagaimana tidak? Saya dan rombongan dipindahkan dari pasar burung ke sebuah kandang yang sangat bersih.

Lebih bangganya lagi, di depan kandang kami, berdiri orang-orang penting berpakaian dinas lengkap. Ada Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, dan bapak-bapak Forkopimda yang wajahnya sering saya lihat di baliho pinggir jalan.

Di luar kandang, suasananya megah sekali. Ada berbagai macam tulisan, salah satunya spanduk bertuliskan jargon keren: “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”.

Teman di sebelah saya bisik-bisik, “Bro, dengerin tuh pidatonya. Katanya manusia-manusia ini mau mengedepankan welas asih dan menjaga keselarasan alam. Kita mau dibebaskan, Bro! Kita mau merdeka!”

Mendengar itu, dada burung saya berdesir haru. Kami langsung bersiap mengepakkan sayap. Kami sudah membayangkan indahnya langit Sleman, hijaunya persawahan di lereng Merapi, dan masa depan yang cerah tanpa sekat jeruji besi.

Lalu, momen sakral itu tiba. Tangan protokoler membuka pintu kandang kami dengan perlahan. Pak Bupati tersenyum ramah, bersiap melambaikan tangan melepas kami terbang menuju kebebasan demi sebuah jepretan foto rilis berita yang estetik.

Tapi baru satu kepakan sayap, demi Tuhan, baru satu detik kaki ini lepas dari tangkringan kandang, langit yang saya bayangkan indah mendadak gelap. Bukan karena mendung, tapi karena tertutup oleh puluhan tangan manusia yang melompat, saling sikut, dan menerjang ke arah kami dengan brutal.

BUKK! BRAKK! SREKK!

Saya belum sempat menghirup oksigen bebas Sleman, tapi badan saya sudah kena smackdown dan didekap erat oleh manusia. Di sebelah saya, teman saya menjerit histeris karena ekornya ditarik oleh ibu-ibu yang ikutan melompat.

BACA JUGA  Baca Berita Pagi dan Derita Fans MU

Saya melirik ke arah Pak Bupati. Beliau dan para pejabat lainnya cuma bisa melongo dengan gestur canggung. Pintu kandang baru dibuka, tapi warga di depan mereka sudah rebutan rayahan menangkap kami kembali layaknya diskon minyak goreng di supermarket.

Plot twist macam apa ini?! Sumpah, kepala burung saya yang kecil ini mendadak mengalami mental breakdown dan system error.

Kalau memang ujung-ujungnya kami mau ditangkap lagi oleh warga dalam hitungan detik, buat apa kami dipajang di upacara formal? Kenapa kami harus mendengarkan pidato panjang lebar tentang “welas asih”, “ketenteraman batin”, dan “menjaga akar budaya lokal” jika pada praktiknya kami diperlakukan seperti barang jarahan di pasar malam?

Manusia-manusia ini sungguh ajaib.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *