BANYUMASMEDIA.COM – Anakmu mulai berubah. Ia tidak lagi langsung mengiyakan setiap nasihatmu. Shalat harus diingatkan berkali-kali. Aturan yang dulu diterima begitu saja, kini mulai dipertanyakan. Bahkan kadang ia membalas dengan argumen yang membuatmu terdiam. Sesekali, ia terlihat lebih keras kepala dari biasanya. Tidak jarang, sikapnya membuatmu bertanya dalam hati, “Kenapa anakku sekarang jadi seperti ini?”
Jika hal itu sedang terjadi, jangan buru-buru panik. Jangan pula terlalu cepat menyimpulkan bahwa anakmu sedang menjadi pembangkang atau mulai menjauh dari orang tuanya.
Bisa jadi, ia hanya sedang bertumbuh.
Usia 7 hingga 12 tahun merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan seorang anak. Pada masa ini, ia mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang terpisah dari orang tuanya. Ia mulai belajar memiliki pendapat, mengungkapkan alasan, serta mencari makna di balik berbagai aturan yang selama ini diterimanya begitu saja.
Karena itu, jangan heran jika ia mulai banyak bertanya. Jangan terkejut jika ia mulai menguji batas. Bukan karena ia membencimu, melainkan karena ia sedang berusaha memahami dunia dan dirinya sendiri.
Di tengah proses tersebut, sesungguhnya anak tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya. Ia juga mengamati.
Ia memperhatikan apakah ayah dan ibunya menjalani nilai-nilai yang mereka ajarkan. Ia melihat apakah aturan ditegakkan dengan kasih atau hanya dengan tekanan. Ia merasakan apakah rumah yang ditempatinya adalah tempat yang aman untuk berkata jujur, termasuk ketika ia memiliki pendapat yang berbeda.
Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar memenangkan perdebatan atau memaksakan kepatuhan dengan suara yang lebih keras. Tugas kita adalah menjadi teladan yang tidak mudah goyah, sekaligus menjadi rumah yang tidak pernah kehilangan kehangatannya.
Sabar bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Sabar adalah tetap hadir, tetap konsisten, dan tetap mencintai, bahkan pada hari-hari ketika anak membuat kita lelah. Sabar adalah terus membersamai, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat dengan segera.
Sebagai orang tua, kita tentu berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang taat, berakhlak baik, dan bertanggung jawab. Namun sering kali kita lupa bahwa perjalanan menuju ke sana bukanlah jalan yang lurus tanpa pertanyaan dan tanpa kesalahan. Ada fase ketika mereka belajar memahami alasan di balik setiap nasihat. Ada masa ketika mereka ingin didengar, bukan sekadar diperintah.
Dan justru di saat-saat seperti itulah keteladanan menjadi lebih penting daripada ceramah yang panjang. Sebab nilai-nilai tidak tertanam dari seberapa keras kita berteriak, melainkan dari seberapa dalam anak melihat nilai itu hidup dalam diri orang tuanya.
Anak-anak mungkin tidak selalu melakukan apa yang kita katakan. Namun sangat sering, mereka akan menjadi seperti apa yang setiap hari mereka lihat.
Maka ketika anak mulai banyak bertanya, mulai berargumen, dan mulai menguji batas, jangan buru-buru takut bahwa ia sedang menjauh.
Bisa jadi, ia hanya sedang bertumbuh.
Dan seperti semua proses pertumbuhan, perjalanan itu tidak selalu nyaman. Ada hari-hari yang melelahkan, ada saat-saat yang menguras kesabaran. Namun selama orang tua tetap hadir dengan cinta, keteladanan, dan doa yang tidak putus, pertumbuhan itu akan menemukan jalannya.
Sebab pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang terus belajar, terus membersamai, dan tidak pernah berhenti menjadi rumah tempat mereka pulang.
Sumber: Sekolah Rumah Tangga











