Babad BanyumasBanyumasanBudayaLiputan

Dari Wirasaba ke Banyumas: Menghidupkan Kisah Berdirinya Kabupaten Banyumas Lewat Wayang

4
×

Dari Wirasaba ke Banyumas: Menghidupkan Kisah Berdirinya Kabupaten Banyumas Lewat Wayang

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kabupaten Banyumas memiliki kisah panjang yang berawal dari Kadipaten Wirasaba. Namun, proses perpindahan pusat pemerintahan Wirasaba ke Banyumas yang menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya kabupaten ini belum banyak diketahui masyarakat. Kisah tersebut akan diangkat dalam pementasan Wayang Babad Banyumas pada Festival Babad Banyumas di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen.

Pementasan ini mengangkat kisah Raden Jaka Kaiman, tokoh yang dalam tradisi Babad Banyumas dikenal sebagai Adipati Warga Hutama II atau Adipati Mrapat. Ia diangkat oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, menjadi Adipati Wirasaba. Setelah itu, ia membagi wilayah Wirasaba menjadi empat bagian yang diserahkan kepada para adik iparnya. Dari tindakan membagi empat wilayah itulah muncul sebutan Adipati Mrapat, yang dikaitkan dengan istilah mara papat atau membagi empat.

Dalam kisah Babad Banyumas, Adipati Mrapat kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Wirasaba ke Banyumas. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam narasi berdirinya Kabupaten Banyumas. Namun, alasan di balik pemindahan itu masih menjadi pertanyaan bagi sebagian masyarakat.

Pertanyaan tersebut kerap disampaikan kepada Nassirun Purwokartun, budayawan Banyumas yang akrab disapa Kang Nass, dalam berbagai acara “Bahas Babad Banyumas”. Untuk menjawabnya, Kang Nass merujuk pada naskah Babad Banyumas Mertadiredjan yang telah diterjemahkannya.

Naskah tersebut ditulis atas perintah Bupati Banyumas ke-13, Adipati Mertadiredja I, yang merupakan keturunan Adipati Warga Hutama II atau Raden Jaka Kaiman. Naskah itu diperkirakan ditulis sekitar 1816, pada masa Adipati Mertadiredja I diangkat menjadi Bupati Banyumas oleh Susuhunan Paku Buwana IV dari Surakarta.

“Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan ditulis dengan jelas dua alasan kepindahan dari Wirasaba ke Banyumas. Bermula ketika Adipati Mrapat mendapat petunjuk dari kakeknya, Raden Baribin tentang kejayaan Wirasaba yang telah berakhir. Dan, cara agar kejayaan berlanjut adalah dengan memindah ibu kota,” ungkap Kang Nass.

BACA JUGA  Muhammadiyah Kabupaten Pemalang Distribusi Bantuan Air Bersih di Desa Gunungjaya

Penjelasan itu disampaikannya dengan melantunkan tembang Macapat Asmarandana yang termuat dalam Babad Banyumas Mertadiredjan.

Kya Dipadi duk ing dalu, marengi purnama sada.

Sesaren merem melik, wonten swara kapiyarsa, atetela pratelane, rengen ta heh sang dipatya, yen sirarsa widada, ing kawibawanireku, amengkoni Wirasaba.

Sira ngaliha nagari, saking bumi Wirasaba, sira manggona ing kulon, ing tanah bumi Kejawar, prenah lor kulonira, sira tetruka ing ngriku, unggyaning wreksa Tembaga.

Kono karyanen nagari, adawa derajatira,… Ing Wirasaba wus akir, ….

Kang Nass kemudian menjelaskan makna petikan tersebut. Dalam kisah itu, Adipati Mrapat mendapat petunjuk pada suatu malam ketika bulan purnama. Ia diminta memindahkan pusat pemerintahan ke arah barat, tepatnya ke wilayah Kejawar di sebelah barat laut, tempat tumbuhnya pohon Tembaga.

“Perintah yang menyatakan kalau Adipati Mrapat ingin membawa kejayaan pada Wirasaba, maka harus memindah ibu kota ke arah barat. Tepatnya ke barat laut Desa Kejawar tempat tumbuhnya pohon Tembaga. Ibu kota harus dipindah, karena kalau tetap berada di Wirasaba tidak ada kemajuan, sebab kejayaan Wirasaba sudah berakhir,” jelasnya.

Bagi Kang Nass, kisah dalam naskah tersebut tidak cukup hanya disimpan atau dibaca oleh kalangan yang memahami sastra Jawa. Ia berupaya membuka jalan agar cerita Babad Banyumas dapat dikenali lebih luas, salah satunya melalui kreasi Wayang Babad Banyumas. Wayang-wayang yang dibuatnya mengambil tokoh dan kisah dari naskah Babad Banyumas.

Kisah pemindahan pusat pemerintahan Wirasaba ke Banyumas itu akan dibawakan dalam pementasan Wayang Babad Banyumas pada Festival Babad Banyumas. Pementasan dijadwalkan berlangsung di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, pukul 19.30 WIB, dengan dalang Ki Ulum Karto Diwiryo, dalang muda lulusan ISI Surakarta asal Sumpiuh.

BACA JUGA  Festival Budaya Babad Pasirluhur Angkat Sejarah Lokal Lewat Ragam Seni Tradisi

“Dengan pementasan Wayang Babad Banyumas saya berharap kisah-kisah Babad Banyumas bisa dikenali lagi. Walau tidak membaca naskahnya, namun mengetahui sejarahnya. Salah satunya tentang pindahnya ibu kota Wirasaba dan berdirinya Kabupaten Banyumas,” tutup Kang Nass.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *