BudayaLiputan

Lewat Dongeng dan Nyanyian, Kang Nass Ajak Anak-Anak Banyumas Mengenal Leluhurnya

8
×

Lewat Dongeng dan Nyanyian, Kang Nass Ajak Anak-Anak Banyumas Mengenal Leluhurnya

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Bagi sebagian besar warga Banyumas, sejarah tanah kelahiran sering kali berhenti pada sosok ikonik Bawor atau sekadar cerita lisan yang terputus di meja makan. Padahal, Banyumas memiliki rujukan sejarah utama yang sangat kaya bernama naskah Babad Banyumas.

Sayangnya, selama ratusan tahun naskah ini bak tersimpan di ruang gelap. Ditulis dalam aksara Jawa dan tembang Macapat yang rumit, seperti naskah Serat Babad Banyumas era Bupati Adipati Mertadiredja I (1816–1826), membuat naskah tua ini asing di telinga generasi muda yang tak lagi akrab dengan aksara dan tembang Jawa.

Beruntung, ketebalan dinding sejarah itu berhasil ditembus oleh budayawan Banyumas, NasSirun Purwokartun (Kang Nass).

Nassirun Purwokartun bersama buku “Dongeng Banyumas” yang disadur dari naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan”.

Dari Tembang Macapat Menjadi Dongeng Anak

Setelah menerjemahkan naskah tua tersebut menjadi buku Babad Banyumas Mertadiredjan pada tahun 2020, Kang Nass tidak berhenti di situ. Beliau paham betul bahwa menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saja belum cukup untuk menjangkau generasi terpaut jauh.

Guna menanamkan local pride dan karakter kepribadian sejak dini, Kang Nass menyadur naskah tua tersebut menjadi 10 seri buku bacaan anak, termasuk buku Dongeng Banyumas.

“Saya ingin sejak dini anak-anak Banyumas mengenal leluhurnya. Bukan hanya mengenal tokoh Bawor saja, namun para leluhur yang bisa menjadi teladan kehidupan,” ungkap Kang Nass.

Melalui saduran ini, anak-anak diajak memetik kepribadian positif dari sosok Raden Baribin, semangat memaksimalkan potensi diri dari Raden Katuhu, hingga rasa tanggung jawab dari Jaka Kaiman.

Keceriaan di Bale Babad Banyumas

Langkah nyata pengenalan sejarah ini diwujudkan pada Jumat (14/8/2026) lalu. Bertempat di Bale Babad Banyumas, rumah budaya milik Kang Nass, digelar acara bertajuk “Pentas Dongeng Babad Banyumas”.

Puluhan siswa-siswi SD Mandirancan, Kecamatan Kebasen, hadir didampingi guru-guru mereka. Suasana Bale Babad riuh gembira. Sejarah yang tadinya terkesan berat dan kusam, berubah menjadi interaktif lewat adegan dongeng yang ringan serta nyanyian berirama ceria:

BACA JUGA  Kang NasSirun Kenalkan Sejarah Lewat Festival Babad Banyumas

“Babad Banyumas Kuwe
Babade awake dhewek
Ayuh kanca padha debukak
Padha dewaca ben bisa crita…”

Lewat bait-bait lagu berbahasa Banyumasan yang dinyanyikan sambil bertepuk tangan, nilai-nilai keluhuran para leluhur mulai tertanam alami di dada anak-anak. Sebuah ikhtiar kebudayaan yang patut diacungi jempol: merawat ingatan sejarah bukan dengan cara memaksakan hafalan, melainkan lewat dongeng dan nyanyian yang menggembirakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *