Liputan

1.391 Mahasiswa UMP Turun ke Desa, KKN Tak Lagi Sekadar Menjadi Syarat Kelulusan

4
×

1.391 Mahasiswa UMP Turun ke Desa, KKN Tak Lagi Sekadar Menjadi Syarat Kelulusan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering dipandang sebagai agenda rutin yang harus dilalui mahasiswa sebelum lulus. Namun, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) ingin memberi makna lebih dari sekadar memenuhi kewajiban akademik. Sebanyak 1.391 mahasiswa yang diberangkatkan tahun ini ditantang untuk menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat di lokasi pengabdian mereka.

Para peserta dilepas dalam kegiatan KKN Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 di Lapangan Mas Mansur UMP, Rabu (22/7/2026). Mereka akan diterjunkan melalui empat skema, yakni KKN Reguler, KKN Tematik, KKN Muhammadiyah Aisyiyah (KKN Mas), dan KKN Internasional.

Ketua Panitia KKN UMP, Purnadi, mengatakan seluruh program tahun ini mengusung konsep KKN Berdampak, sehingga mahasiswa tidak hanya hadir menjalankan program kerja, tetapi juga diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sesuai potensi setiap daerah.

Mahasiswa akan ditempatkan di sejumlah wilayah di Jawa Tengah melalui KKN Reguler, sementara peserta KKN Muhammadiyah Aisyiyah akan menjalankan pengabdian di Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun peserta KKN Internasional dijadwalkan berangkat ke Hong Kong pada Agustus mendatang.

Menurut Purnadi, beragam skema tersebut memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi akademiknya sekaligus memperluas pengalaman kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Harapannya mahasiswa dapat berkontribusi kepada masyarakat sebagai agent of change dan menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di desa, sehingga KKN Berdampak dapat diimplementasikan dengan baik,” ujarnya.

Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu melahirkan gagasan dan solusi bagi masyarakat.

Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak datang ke desa dengan membawa asumsi bahwa mereka paling mengetahui kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa harus mampu mengenali potensi lokal, membangun kolaborasi, lalu merancang program yang benar-benar menjawab persoalan di lapangan.

BACA JUGA  Stunting Tidak Selesai dengan Makanan Bergizi, Air Bersih dan Sanitasi Juga Menentukan

“Sebagai center of excellence, peran Anda adalah menjadi agent of problem solving, menjadi kreator yang memiliki inovasi, dan itu betul-betul bisa diterapkan di masyarakat,” katanya.

Menurut Jebul, pendekatan tersebut sejalan dengan lima fokus pembangunan yang disebutnya sebagai Panca Kehendak Rakyat, mulai dari pendidikan, ketahanan pangan, kesehatan, kepastian hukum, hingga kehidupan sosial yang harmonis. Jika mampu diwujudkan melalui program kerja di desa, pelaksanaan KKN juga dinilai dapat mendukung agenda pembangunan nasional.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana mahasiswa mampu menghadirkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Jangan datang sebagai orang pintar yang menggurui, tetapi jadilah orang pintar yang mau belajar dan memanfaatkan potensi masyarakat. Mudah-mudahan KKN di mana pun berada akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat dan menjadi pengalaman berharga bagi kalian semua,” pungkasnya.

Editor: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *