Liputan

Purbalingga Bangun Gerakan Gotong Royong untuk Penanggulangan Kemiskinan

7
×

Purbalingga Bangun Gerakan Gotong Royong untuk Penanggulangan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Mengentaskan kemiskinan bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Bantuan dari dunia usaha, lembaga filantropi, perguruan tinggi, hingga masyarakat sebenarnya terus mengalir. Namun, tanpa koordinasi yang baik, berbagai upaya tersebut sering berjalan sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum optimal.

Berangkat dari persoalan itu, Pemerintah Kabupaten Purbalingga meluncurkan Gerakan Purbalingga Gotong Royong yang didukung aplikasi Si Pinter (Sistem Informasi Pelaporan Intervensi Penanggulangan Kemiskinan Terpadu). Program yang diperkenalkan melalui soft launching di Gedung OR Graha Adiguna, Selasa (21/7/2026), ini dirancang untuk menyatukan berbagai bentuk intervensi dalam satu sistem yang lebih terintegrasi.

Melalui aplikasi Si Pinter, kebutuhan warga dapat dipetakan, bantuan dari berbagai pihak dapat dipadankan sesuai kebutuhan, sementara seluruh proses penyaluran dan pendampingannya dapat dipantau secara lebih terbuka.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Purbalingga, Suroto, mengatakan gerakan tersebut bertujuan menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan bersama dalam membantu masyarakat.

“Kami ingin semakin menggelorakan budaya gotong royong dan kepedulian sosial. Seluruh komponen, mulai dari pemerintah di semua tingkatan, badan usaha, Baznas, PMI, lembaga filantropi hingga masyarakat, bergerak bersama mengerahkan kemampuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Purbalingga,” ujarnya.

Menurut Suroto, Gerakan Purbalingga Gotong Royong telah menjadi salah satu program prioritas Bupati Purbalingga dan dijadwalkan diluncurkan secara resmi pada Oktober 2026. Ia berharap gerakan tersebut menjadi wadah kolaborasi berbagai pihak untuk menghadirkan solusi yang lebih tepat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Komitmen itu mulai terlihat dalam peluncuran perdana program. Pada kesempatan tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama sejumlah badan usaha menyerahkan bantuan kepada masyarakat sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor yang akan terus dikembangkan melalui gerakan ini.

BACA JUGA  Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

Sekretaris Daerah Kabupaten Purbalingga, Herni Sulasti, menilai kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks sehingga membutuhkan pendekatan yang juga melibatkan banyak pihak. Terlebih, kemampuan fiskal pemerintah daerah memiliki keterbatasan sehingga sinergi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Menurut Herni, Gerakan Purbalingga Gotong Royong membawa perubahan dalam pola penanganan kemiskinan. Jika sebelumnya berbagai program cenderung berjalan secara sektoral, kini seluruh intervensi diupayakan saling terhubung melalui satu sistem berbasis data.

“Semangat utama program ini adalah mengubah pola kerja dari sendiri-sendiri menjadi bersama-sama, dari program berbasis perkiraan menjadi program berbasis data, serta dari sekadar penyaluran bantuan menjadi upaya graduasi masyarakat,” katanya.

Melalui Si Pinter, berbagai kebutuhan masyarakat seperti perbaikan rumah tidak layak huni, sanitasi, akses air bersih, pendidikan, layanan bagi penyandang disabilitas, hingga pemberdayaan ekonomi dapat dipadankan dengan dukungan dari pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, Baznas, LAZ, PMI, maupun lembaga sosial lainnya. Seluruh bentuk intervensi juga terdokumentasi sehingga memudahkan pemantauan dan evaluasi.

Herni berharap pendekatan tersebut mampu menghadirkan penanganan kemiskinan yang lebih tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.

“Di balik setiap angka kemiskinan terdapat warga, keluarga, anak-anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas yang menunggu kehadiran kita. Karena itu, mari kita satukan data, satukan langkah, dan bergerak bersama melalui Purbalingga Gotong Royong,” pungkasnya.

Gerakan ini pada akhirnya tidak hanya menawarkan sebuah aplikasi baru. Yang ingin dibangun adalah cara kerja baru, di mana pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga sosial, dan masyarakat tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi agar lebih banyak warga memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *