Liputan

Selama Tiga Tahun, Warga Adisara dan Karanglewas Bertaruh Nyali di Jembatan Darurat. Kini Jembatan Lopasir Akhirnya Dibangun

×

Selama Tiga Tahun, Warga Adisara dan Karanglewas Bertaruh Nyali di Jembatan Darurat. Kini Jembatan Lopasir Akhirnya Dibangun

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Bagi warga Desa Adisara dan Desa Karanglewas, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, kehilangan Jembatan Sungai Lopasir sejak akhir 2022 bukan sekadar soal putusnya infrastruktur. Yang ikut terputus adalah jalur anak berangkat sekolah, petani mengangkut hasil panen, pedagang mengantar dagangan, hingga warga yang harus menuju fasilitas kesehatan.

Hampir tiga tahun lamanya, warga bertahan dengan jembatan darurat dari bambu dan kayu yang mereka bangun secara swadaya. Setiap kali melintas, ada satu hal yang selalu menyertai: rasa waswas.

Kini, harapan itu mulai terlihat.

Pemerintah Kabupaten Banyumas resmi memulai pembangunan Jembatan Lopasir melalui prosesi peletakan batu pertama yang dilakukan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono bersama anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo, Jumat (26/6/2026).

Bagi sebagian orang, prosesi groundbreaking mungkin hanya seremoni. Namun bagi warga yang hampir tiga tahun harus bergantung pada jembatan darurat, itu menjadi penanda bahwa masa menunggu akhirnya memiliki ujung.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengatakan proses menuju pembangunan jembatan tersebut tidak berlangsung singkat. Sejak jembatan mengalami kerusakan berat pada November 2022, pemerintah daerah harus melalui berbagai tahapan, mulai dari penanganan darurat, penyusunan perencanaan teknis, penyelidikan tanah, hingga pengajuan berbagai sumber pendanaan.

Belum lagi proses pengadaan yang sempat mengalami kegagalan lelang sehingga harus diulang.

“Alhamdulillah, berkat kerja keras semua pihak, hari ini kita memasuki tahap yang paling ditunggu, yaitu dimulainya pekerjaan pembangunan jembatan baru,” ujar Sadewo.

Menurutnya, Jembatan Lopasir memiliki fungsi strategis sebagai penghubung aktivitas masyarakat antara Desa Adisara dan Desa Karanglewas. Tidak hanya untuk mobilitas warga, tetapi juga mendukung distribusi hasil pertanian, perdagangan, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga aktivitas sosial sehari-hari.

“Mari kita jadikan momentum groundbreaking ini sebagai awal semangat baru untuk terus membangun Banyumas. Semoga pembangunan jembatan berjalan lancar dan selesai tepat waktu,” katanya.

BACA JUGA  Tingkatkan Literasi Kesehatan, Warga Desa Muntang Ikuti Pelatihan Pembuatan Kombucha

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyumas, Kresnawan Wahyu Kristoyo, menjelaskan pembangunan jembatan sempat tertunda akibat proses pengadaan.

“Sebenarnya jembatan ini sudah masuk kegiatan strategis dan direncanakan melalui lelang dini pada Desember 2025. Namun karena kendala teknis terjadi gagal lelang, sehingga prosesnya harus diulang. Lelang kembali dilaksanakan mulai April hingga Juni 2026,” jelasnya.

Ia menyebut pembangunan jembatan memiliki pagu anggaran Rp8,9 miliar dengan nilai kontrak sebesar Rp6,2 miliar. Masa pelaksanaan pekerjaan ditetapkan selama 180 hari kalender, dimulai sejak 17 Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada 13 Desember 2026.

Sementara itu, Kepala Desa Karanglewas, Dwi Noto Suhino, mengaku lega pembangunan akhirnya benar-benar dimulai. Selama ini, menurutnya, putusnya jembatan turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.

“Mudah-mudahan jembatan ini nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat sebaik-baiknya dan kembali menjadi penggerak perekonomian warga,” ujarnya.

Sebab pada akhirnya, sebuah jembatan memang tidak pernah sekadar menyambungkan dua tepi sungai. Ia juga menyambungkan rutinitas, penghasilan, bahkan rasa tenang ribuan orang yang setiap hari bergantung padanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *