Ragam

Saat QRIS Tak Lagi Hanya Milik Kafe dan Pusat Perbelanjaan

×

Saat QRIS Tak Lagi Hanya Milik Kafe dan Pusat Perbelanjaan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada masanya ketika berbelanja di pasar atau membayar parkir tak pernah jauh dari urusan uang receh. Kembalian seribu rupiah, bahkan lima ratus rupiah, menjadi bagian dari keseharian yang akrab. Tak jarang, karena kehabisan uang kecil, penjual menggantinya dengan permen atau pembeli memilih mengikhlaskan saja.

Namun, perlahan kebiasaan itu mulai berubah.

Digitalisasi transaksi yang selama ini identik dengan pusat perbelanjaan modern, kini mulai merambah ruang-ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari parkir di kawasan Menara Teratai Purwokerto hingga aktivitas di pasar tradisional, pembayaran non-tunai melalui QRIS semakin banyak digunakan.

Gambaran tersebut menjadi salah satu semangat yang diusung dalam gelaran Karya Kreatif Serayu (KKS) x Banyumas Digifest 2026 yang berlangsung di Kompleks Menara Teratai Purwokerto pada 20–21 Juni 2026.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, kegiatan yang digagas Bank Indonesia Purwokerto bersama pemerintah daerah se-Banyumas Raya itu tidak hanya menghadirkan pameran produk UMKM, tetapi juga mendorong perluasan digitalisasi di tengah masyarakat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, mengatakan KKS x Banyumas Digifest merupakan bentuk sinergi berbagai pihak dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan UMKM, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, pariwisata, serta perluasan digitalisasi.

“KKS dan Banyumas Digifest 2026 merupakan bentuk nyata sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah se-Banyumas Raya, instansi vertikal, OJK, perbankan, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan seluruh stakeholder dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan UMKM, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, pariwisata, dan perluasan digitalisasi,” ujarnya.

Salah satu langkah konkret yang mulai diterapkan adalah pembayaran parkir di kawasan Menara Teratai menggunakan QRIS, baik statis maupun dinamis. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas juga meluncurkan sistem E-Retribusi Pasar Rakyat di 14 pasar tradisional.

BACA JUGA  Badan Bahasa “Ikut Masak” Kontroversi Merah Putih: One For All

Melalui sistem tersebut, pedagang dapat melakukan pembayaran retribusi secara non-tunai menggunakan QRIS, kode pembayaran, MPos, maupun kanal digital lainnya. Sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan proses transaksi yang lebih cepat, praktis, dan transparan.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menilai digitalisasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diikuti.

“Perluasan penggunaan QRIS, penguatan sistem pembayaran non-tunai, serta elektronifikasi transaksi pemerintah daerah menjadi bagian dari upaya kita untuk mewujudkan tata kelola yang lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Digitalisasi juga diharapkan mampu memperluas akses pasar dan memperkuat daya saing pelaku usaha di Banyumas Raya,” ungkapnya.

Menurut Sadewo, penguatan pelaku UMKM juga menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut. Berbagai program seperti promosi perdagangan, business matching, pelatihan, hingga bimbingan teknis terus dilakukan agar pelaku usaha lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan memperluas pasar.

“Melalui program promosi perdagangan, business matching, pelatihan, serta bimbingan teknis peningkatan kapasitas usaha, kami berupaya membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pembiayaan, dan menembus pasar yang lebih luas. Kami ingin UMKM Banyumas tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh menjadi pelaku usaha yang tangguh dan berdaya saing,” jelasnya.

Selain menghadirkan lebih dari 100 UMKM dari Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, KKS x Banyumas Digifest 2026 juga dimeriahkan berbagai kegiatan seperti QRIS Purwokerto Run, Cooking Competition Komoditas Pangan, Purwokerto Mini Hackathon, Latte Art Competition, hingga fashion show Kemilau Wastra Serayu.

Di tengah berbagai perubahan yang berlangsung begitu cepat, mungkin masyarakat Banyumas tidak langsung menyadarinya. Namun, perlahan satu kebiasaan lama mulai bergeser. Kalimat, “Maaf, kembaliannya permen saja ya,” yang dulu begitu akrab di telinga, tampaknya akan semakin jarang terdengar.

BACA JUGA  Gak Nyangka!: Komedi Absurd Mahasiswa Abadi yang Penuh Kejutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *